Salah Tangkap

834 Kata
Apa-apaan! Dia pikir karena aku sudah punya Syasya, dia jadi bebas dengan lelaki lain? Enak saja! Murahan sekali dia, tak jauh beda kalau begini dengan Syasya. Kutarik tangan Nisa untuk segera menjauh dari laki-laki kegatelan itu. Tanpa permisi ataupun berbasa-basi. Kalau seperti ini keadaannya, lebih baik dia aku kurung saja! Laki-laki itu mengejar, dia membuka topengnya yang ternyata adalah Hari manager juga di perusahaan ku bekerja. Manager personal tepatnya. "Apa kamu? Jangan mentang-mentang aku punya istri lagi kamu bebas gangguin istriku, RI!" Aku mendorong tubuhnya yang berusaha melepaskan tanganku dari Nisa. Hari tak mau kalah, dia tetap berusaha untuk melepaskan tanganku. Semua orang sudah berkumpul melihatku. Aku masa bodoh. Pokoknya tak ikhlas jika Nisa dengan laki-laki lain selama masih menjadi istriku. "Lepaskan, Ar! Dia ...!" Hari terus saja ngeyel. "Mas." Dari belakang ada yang mencoba menepuk pundakku. Aku tak peduli, aku harus jauhkan Nisa dulu. Kudorong kembali tubuh Hari hingga terjatuh, kemudian melangkah dengan tergesa, saat baru satu langkah aku menabrak seorang wanita. Sial bener! Siapa yang menghalangi jalanku? Lampu menyala dan aku terbelalak saat melihat didepanku tengah berdiri Nisa dengan senyum anggunnya. "Kalau Nisa berada di depanku terus? Tangan siapa yang aku pegang?" Seketika aku membalikan badan, menghadap pada wanita yang berdiri dibelakang ku. Dia membuka topengnya. "Astaghfirullah!" Reflek aku langsung melepaskan tangan wanita yang entah siapa. Hari mendekat, "ini bini gue! Ngapain lu seret-seret. Emangnya gue kaya, Lu! Masih doyan wanita Salome." Ejekan Hari mampu menamparku, seketika wajahku memerah menahan malu yang berlipat-lipat. Dari malu karena mengira Nisa juga malu atas apa yang baru disampaikan oleh Hari tentang Syasya. "Mas salah mengenali orang?" tanya Nisa pura-pura tak tahu. Benar-benar kebangetan dia. "Menurutmu apa? Bubar!" Aku berkata membentak pada sorot mata yang memandang. Sepertinya orang yang datang bertambah, namun aku tak tahu siapa saja mereka. Mungkin teman-teman Nisa. Aku mencari sosok Syasya. Entah kemana dia pergi! Kenapa dia tak mengikutiku tadi. Harusnya saat pesta seperti ini dia tak lepas dari sampingku. "Nis! Lihat Syasya?" tanyaku padanya. Dia hanya mengangkatkan bahu, betanda bahwa dia tak tahu. "Kemana lagi wanita itu!" Gerutuku kesal, meremas rambutku. Rasa lelah sudah hinggap tapi sepertinya masih harus berjaga hingga pagi kalau seperti ini. Tak lama aku mendapati Syasya tengah mengobrol dengan beberapa wanita. Apa dia temannya? Terlihat sangat akrab. "Sya!" Panggilku, ia menoleh. Aku mendekat, ada sedikit rasa lega disini. "Kamu minum?!" Aku tersentak kaget ketika aku mencium wangi alkohol dari mulut Syasya. "Iya ini, kamu mau?" tawarnya. Segera gelas yang ia sodorkan kutampik hingga pecah berkeping-keping. "Kamu kenapa minum? Siapa yang membawa minuman kerumah ini!" Segera mataku menatap nyalang. Mencari sosok Nisa. Aku yakin dia biang keladinya. Kutinggalkan Syasya yang masih sok karena kaget. Aku terus mencari Nisa yang sekarang entah kemana. Dasar kur*ng ajar! Gara-gara sakit hati ia melakukan hal yang diluar batas. Membawa minuman keras masuk kerumah ini! Kulihat Nisa tengah berbincang dengan Bu Maria dan Pak Denis. Aku menghampirinya. Menyeret tangannya hingga ia terhuyung. "Apa-apaan si, Mas!" Dia berkata meronta. "Kamu harus bertanggung jawab karena telah membawa minuman keras masuk kerumah, terlebih sengaja memberikan pada Syasya. Kamu sengaja mau mempermalukannya?" Aku berkata dengan masih terus menyeret tubuhnya tanpa ampun. "Lepaskan, Mas! Aku tak tahu apa-apa soal minuman!" Bantahnya, namun aku tak percaya begitu saja. Dia itu memang sudah merencanakan mempermalukanku didepan semua orang. Dia berontak sekuat tenaga, hingga tanganya terlepas dariku. Namun, aku tak bodoh! Kuraih kembali tangan Nisa. Nafasku memburu, amarahku memuncak menuju ubun-ubun. "Aku memang manusia yang masih banyak dosa. Tapi, anti bagiku untuk menyentuh minuman haram itu! Apalagi sampai masuk kerumah ini!" Aku terus mengoceh sampai tepat dimana Syasya dan teman-temannya masih berbincang. Bahkan pecahan gelas saja masih berserakan dan terabaikan. "Kamu yang membawa ini kan?" Kutundukan sebuah botol kecil padanya. Ia mengeleng, ada wajah ketakutan disana. Ia seperti tahu jika aku akan melakukan apa. Dia sangat paham saat emosiku meluap, apa saja bisa aku layangkan kekepalanya. "Jangan bohong dan berpura-pura! Kamu sengaja kan membuat Syasya mabuk! Kamu tahu jika Syasya itu pecandu berat minuman ini!" Dia membulatkan mata. Selama bersamaku kubuat aturan jika Syasya harus berjuang untuk menjauh dari kecanduan minuman beralhokol itu. Dia mengeleng saat botol minuman itu aku arahkan padanya. "Mas!" Kali ini Syasya bersuara, namun aku tak pedulikan ucapannya. Botol ini hampir menyentuh mulut Nisa. Wanita yang sok alim ini akan menanggung akibatnya karena sudah memiliki rencana jahat untuk terus membuat aku hancur. "Hentikan!" Tiba-tiba tangan kekar menampik botol minuman dan tangan satu lagi melepaskan tanganku dari Nisa. Seketika ia menjauhkan Nisa dariku. "Apa-apaan?" Aku beranjak emosi kepada laki-laki itu, namun saat dia membalikan badan, aku terkejut. Ternyata Pak Denis. "Kamu sudah keterlaluan, Man! Istrimu ini tak bersalah! Yang salah itu dia!" Pak Denis menunjuk pada kedua wanita yang berdiri tak jauh dari Syasya. Apa maksud Pak Denis membela Nisa? Apa dia jatuh hati padanya? Lihat saja jika, benar! Aku tak akan biarkan itu terjadi. Nisa dan Syasya hanya milikku! ===??!!!??=== Arman selalu berfikir pendek, hanya amarah dan cemburunya yang di gedein. Yukk ... Bantu doa agar Arman segera insaf. Jangan lupa komen dan like nya. Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN