Mata Saga melebar sempurna, kala melihat sosok yang tak diinginkannya datang. Dia bahkan sampai membuka kaca mata hitamnya. "Alvin? Kenapa kamu membawa ransel?" tanyanya heran. "Om, dia kan juga bagian dari tim Nara." Nara menyahut cepat. Gadis itu menaikkan sedikit satu sudut bibirnya. Ia masih merasa kesal dengan perbuatan Saga malam itu, di rumah sakit. Bagaimana ia yang sudah berada di puncak ditinggal begitu saja. Kali ini ia ingin melihat, bagaimana perasaan Saga sesungguhnya terhadap Nara. Mereka bahkan belum pernah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Apakah Saga juga merasakan hal yang sama dengannya? Bahwa Nara telah jatuh cinta pada suaminya itu, sekeras apa pun logikanya menolak dan memaki. Namun, ia tak bisa mengendalikan hati ketika debar-debar cinta datang

