"Biar aku beri obat luka, Om." Saga menatap benda yang dibawa gadis itu. Padahal dia sendiri sedang tak baik-baik saja, tapi kini sempat memikirkan luka Saga, yang bahkan dia sendiri sudah lupa punya rasa sakit di wajahnya. Saga bergeming. Tak menjawab apa pun. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Melihat itu Nara, segera bergerak lebih dekat, meminta pria itu duduk. Menurutnya, diamnya seseorang artinya setuju atas kemauannya. Nara lalu membuka kotak P3K. Mengeluarkan kapas, membersihkan perlahan. "Auh." Nara tersenyum masam. "Luka ini tak seberapa dibanding harga diriku yang Om injak-injak." "Hem?" Saga menarik kepala menjauh untuk bisa melihat wajah Nara. "Kenapa? Aku salah bicara?!" tanyanya enteng sembari menarik kepala Saga perlahan. "Jadi dia tadi ... Rania? Perempuan

