Nara dan Saga keluar kamar mandi secara bergantian. CEO yang telah menyerahkan harga dirinya pada Nara itu berjalan gontai. Ada perasaan tak enak, saat melirik ke arah gadis belia yang tak jauh berdiri darinya. Berbeda dengan Nara. Tak tampak sedikit pun kekesalan seperti sebelumnya. Meski Saga belum bisa memberinya nafkah yang diinginkan, hatinya lebih rela. Ia memahami kondisi sang suami, yang sedang 'sakit' dan semua perlu proses untuk sembuh. "Apa kamu kecewa?" tanya Saga yang tengah berdiri di kaca besar di depannya. Nara menggeleng dengan senyum lebar di wajahnya. "Aku sangat ... bahagia!" sahutnya dengan mata berbinar. Apa yang membuatnya sedih, saat orang yang dicintai juga mencintainya? "Benarkah?" "Heem." "Kamu tak berbohong untuk menghiburku, bukan?" tanya Saga yang takut

