Rindu Orangnya Apa Uangnya?

881 Kata
Bagaimana kami sudah melakukan yang begituan? Suamiku tak datang. Tak ada kabar. Dan aku malu menghubungi duluan. Entahlah, apa Om Saga, benar-benar tak memikirkan pernikahan kami? Apa pria itu gila kerja? Punya simpanan? Kenapa tak pernah sekalipun memintaku melayani? Tiba-tiba saja aku merasa kesal, karena diabaikan. Aku kembali ingat bahwa ini adalah nasib malang yang harus kuterima. Entah, untuk menebus dosa yang mana? Aku harus menikah dengan pria duda dua kali yang usianya hampir se-Papaku sendiri. Tak penyayang, ramah, apalagi hangat. Apa sebenarnya tujuannya menikahiku? Bisnis? Ya, itu pastilah. Tapi kenapa harus selebgram? Masih gadis dan ... argh, memikirkannya hanya membuatku frustasi saja. Yang jelas dia menikahiku karena aku cantik. Nggak! Kalau cantik, semua gadis yang ditawarkan padanya juga sangat cantik, mereka bahkan bukan orang biasa. Rata-rata adalah juga pebisnis. Cerdas dan sukses! Sedang aku? Cuma selebgram gaje dengan kegiatan unfaedah, tapi untungnya mendatangkan duit yang sebenarnya cukup buat foya-foya sendiri. Andai, cukup buat membantu perusahaan Papa, tentu aku tak akan menikahi pria tua menyebalkan itu. "Ckck. Dari pada uring-uringan, apa aku telepon saja, ya?" Aku menelengkan kepala berpikir agak lama. Menimbang dampak dari tindakanku ini. "Apa dia tak tahu, ada puluhan ribu pria di luar sana yang sering DM ngajak aku kencan. Ini ... aku malah dianggurin." Aku terus ngedumel. Kubuka ponsel, lalu mencari kontak atas nama 'Duda Kutub Utara'. Menatap profil pria yang berpakaian rapi dengan jas kerja dan tatapan elangnya dengan penuh pertimbangan. "Telepon, nggak, telepon, nggak, telepon, nggak." "Argh! Aku bisa gila karena ini. Harga diriku akan benar-benar jatuh! Mending minta duit dari pada minta tidur bareng!" "Lihat saja pria ini. Seolah Om Saga tengah menggodaku. Ah, tidak! Dia sedang menggoda semua wanita yang menyimpan nomornya. Dasar tukang tebar pesona." Kutekan layar berkali-kali karena kesal. Sampai tak sengaja terklik panggil. Mataku terbelalak kala, sadar. Cepat-cepat saja kuklik batalkan. Ya Tuhan, semoga belum tersambung! Aku menyerah! Aku tak sanggup untuk ini. Menunggunya terlalu lama. Apaalgi jika harus merayunya duluan. Nggak! Aku gak mau! Akhirnya, setelah berperang batin kuputuskan keluar kamar. Dengan perasaan kecewa berat. "Silakan saja jika dia gila kerja, tak normal atau bahkan punya simpanan, aku bisa apa?" ucapku di sela langkah sambil menutup pintu kamarnya. Lagi, tepat di depan pintu, langkahku berhenti karena notif ponsel. Kubuka deretan chat yang lagi-lagi dari Mina dan Alvin. Kalau dipikir dua makhluk ini yang paling sering menggangguku, kenapa mereka tak nikah saja, biar saling menyibukkan antara satu dengan yang lain. [Kak, makasih ya. Uangnya udah aku terima. Alhamdulillah, apotik belum sempat tutup. Dan ibuku bisa tidur nyenyak karena minum obat pereda nyerinya.] pesan Mina. Akhirnya kusempatkan diri bersandar ke pintu dan membalas pesan ini. [Iya, sama-sama. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, jangan sampai sakit karena gak ingat jaga diri sendiri.] balasku. [Siap!] [Kak, kapan nih ke studio?] [Temen-temen udah nanyain terus, takutnya kehilangan timing kita.] Haduh. Chat dari team Nara katanya mbrudul, Gaes. Kesel. Mereka gak tahu gimana aku berjuang sendiri di sini buat dapetin uang. Kalau gak ada uang, mana bisa beli tas dan sepatu brandednya? Kalau nggak ada baranganya, yang mau diposting juga apa?! Aku jadi ngayal, ownernya ngendorse gitu. Kasih barang-barang itu gratis ke Princess Nara. Ah, walo itu pikiran bodoh! Mana ada barang limited edition diendorse selebgram? Barang cuma satu juga, yang ada rebutan. Dan kaum tertentu yang tahu barang itu launching. Dulu, sih enak. Gak perlu ngarep endorse, apalagi ngarep suami tua yang pelit kaya Om Saga. Tapi ingat kesulitan Papa. Ya udah, gak jadi nyesel deh. Setidaknya aku akhirnya berguna untuk orang tuaku. [Cabal, ya. Walau cabal itu bikin kesal, tapi disayang Tuhan, kok.] balasku. Tak lama muncul emot ngakak. [???] [Ya, udah Kak. Cabal kok, termasuk nunggu sisa gaji yang lom di-tf.? Aku kudu jelasin apa ke teman2?] Huhhh ... bagaimana ini? Aku benar-benar frustasi membaca pesan terakhir dari Mina. Masa baru memutuskan menyerah kudu berjuang lagi?! Mencoba meredakan gonjang-ganjing dalam hati, kubuka pesan dari Alvin. Mungkin dia bisa membantuku, dengan uang lebih. Gaji dua bulan untuk team. Aku lihat bisnisnya juga berkembang pesat. Tapi apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau Papa tahu? Hutang sejuta dua juta itu wajar ke saudara, tapi kalau nominalnya sampai 20 juta Papa pasti bertanya-tanya. Aku sampai menggigit bibir karena bingung. [Oke Nara, selamat berjuang! Aku yakin, kamu gak akan bisa melakukannya. Hahaha. Kalau alasannya uang, tinggal bilang saja ke aku!] Mataku melebar, Alvin tahu? Padahal aku tak cerita padanya. Apa karena aku minta tolong padanya untuk transfer Mina? [Terimakasih sudah membaca pesan ini dalam hati. Meski aku tahu aku tak ada dalam hatimu.] "Hahaha." Aku spontan ngakak membaca pesan Alvin tersebut. Dia sahabatku, yang gila, pengertian, memberiku semnagat, tak berhenti merayuku dan lucu. "Kamu sedang tertawa karena apa?" Suara berat Om Saga terdengar sangat dekat. "Oh." Aku tersentak kaget. Dia dibelakangku. Kepala pria itu sudah berada di samping kepala dengan posisi membungkuk melihat ponsel. Sekarang, Om Saga pasti sudah tahu siapa pengirim pesan tadi. Aku yang terkejut pun akan jatuh ke depan. Namun, pria itu lekas menangkapku dengan tangan kanannya, merengkuh pinggang. Pria itu tersenyum. Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba senyumnya jadi manis begini. Jangan-jangan rasa kesalku tadi karena tanpa sadar aku merindukannya. Ah, nggak mungkin! Pasti karena aku rindu uangnya. "Menungguku? Apa kita lakukan sekarang!?" "Hah?!" Mataku melotot. Siapa yang duga, di tengah perang batinku, dia hadir dan langsung mengajak begini. Bersambung Next insyaallah POV Om Duda.??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN