Alasan Menikahi Nara

901 Kata
FLASHBACK "Aku dengar, kamu akan menikah." Wanita berusia 35 tahun, tapi penampilannya seperti remaja umur 20an tahun ini mengelilingi meja kerjaku. Menatap satu demi satu foto yang sudah tak ada lagi gambarnya di sana. Ah, dia masih menjadi wanita paling cantik di mataku. Meski luka yang dibuatnya sangat dalam. "Hem, ya. Jadi kamu sudah mendengarnya? Padahal aku belum mengumumkannya," sahutku, selagi mata berusaha fokus ke komputer. Aku berbohong. Bahkan bertemu gadis itu pun belum. Yah, sebenarnya tak ada pekerjaan di benda berisi banyak data ini. Hanya saja, ini caraku mengalihkan perhatian dari Rania. Mantan istriku. Aku berpura-pura cuek dan tak begitu peduli. "Oh, mau diumumkan?" "Kenapa?" Kutinggalkan komputer dan menatapnya. Saat itu dia juga menatapku. Aku bisa melihat ekspresi tak suka dari wajahnya. Akan tetapi dia adalah wanita paling pandai bersandiwara. Tentu saja hal itu akan disembunyikan dan tak akan diakui Rania. "Kamu cemburu? Atau menyesal telah pergi? Sayang sekali, aku tak suka menahan orang lain yang ingin pergi," sambungku. "Hahaha." Rania tertawa. Bahkan meski tawanya jahat, dia masih terlihat anggun dan cantik. "Setelah istri keduamu juga menuntut cerai darimu? Yah, mungkin hatinya sudah membeku karena terus berdekatan dengan pria dingin sepertimu, Saga." Rania mendesah. Lalu melempar sebuah senyuman padaku. Shit! Dia berhasil menamparku tanpa menyentuh. "Yah ... katakan apa maumu ke mari?" "Aku minta uang untuk Reynand, anakku." Aku tersenyum. Menaikkan satu sudut bibirku. "Apa kamu tak mendapat endorse? Hal yang dulu sangat kamu banggakan dan membuatmu percaya diri meninggalkanku?" Kenapa tak kamu serahkan saja anak itu padaku?" "Apa kamu gila? Ibu mana yang tega berpisah dengan anaknya?" Itulah alasan Rania sejak lama. Padahal aku sudah bilang, semua keperluan Reynand akan aku tanggung meski dia bukan anakku, dan asal dia mau tinggal bersamaku. Ini alasan paling klise. Rania merasa hidup dipenuhi rasa bersalah saat bersamaku. Dia selingkuh karena merasa kesepian. Sampai akhirnya hamil. Hari itu ... setelah dia jujur, aku hanya diam. Marah padanya juga pada diriku sendiri yang terlalu pengecut dalam mencintai. Aku tak pernah menyentuhnya. Wanita itu tak kuat atas diamku dan memilih menggugat cerai. Tak mau membuang waktunya, aku pun segera memenuhi tuntutannya. Lalu, beralih ke wanita kedua ... wanita itu pun sadar bahwa dia hanya pion yang jadi pajangan dalam hidupku. Dia mengetahui bahwa aku tak bisa melupakan Rania. "Fine. Kalau kamu tak mau memberikan hak Reynand seperti yang kamu katakan dulu, aku akan pergi." Rania manggut-manggut. "Oya. Kamu tahu bukan, bahwa aku pergi bukan karena uang?" Rania tak terima dengan pernyataanku. Wanita anggun itu kemudian melangkahkan kaki meninggalkanku. "Tunggu!" panggilku. Seketika kaki jenjangnya yang terayun itu berhenti. Rania terdiam tanpa membalik tubuhnya. "Kembalilah padaku, aku bisa membatalkan pernikahanku." Aku tak ingin menyesal untuk ke sekian kalinya kehilangan Rania. Sudah terlalu lama, kemarahan dan lukaku telah mereda. Dan sungguh ... baru ini punya keberanian memintanya kembali. Kuinjak harga diriku sendiri sebagai lelaki. Sesuatu yang sejak dulu kutinggikan di depan siapa pun, bahkan di hadapan wanita yang aku cintai. Rania benar-benar bergeming. Tak menoleh dan tak peduli. Sikapnya sangat dingin dan kejam. Wanita itu berjalan ... meninggalkan ruang kantorku yang tiba-tiba dipenuhi rasa hampa seperti sebelumnya. Tanganku mengepal karena emosi, lalu memukul meja di bawahnya. Dengan menahan amarah dan harga diriku yang terinjak oleh wanita itu, akhirnya kuhubungi manajerku melalui panggilan cepat. "Bams! Ke ruanganku sekarang." "Baik, Tuan." Suara di ujung telepon menyahut cepat. Tak sampai dua menit, terdengar derap langkah mendekat. Lalu muncul sosok Bams dari pintu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" "Siapa nama gadis yang Papi bilang kemarin? Anak dari salah salah satu pemegang saham perusahaan." "Oh, dia ... yang selebgram itu, Tuan?" "Ya." "Sebentar." Pria itu merogoh ponsel dalam sakunya. "Dia masih gadis?" "Ya." "Sudah kamu pastikan?" Aku tak mau kejadian sama terulang lagi. Menikah kali ini bukan hanya membuat Rania cemburu, tapi juga menyesal telah meninggalkanku. Aku ingin dia kembali dan berlutut meminta cintaku. Dia pikir dia siapa? Aku bahkan sudah berbaik hati menerima semua kekurangannya. Kenapa tak mau menerima kekuranganku? Lalu menikahi wanita kedua mengaku gadis, lalu setelah menikah membuatku jijik dan enggan mendekatinya, karena pengakuan pacarnya. "Ya." "Bagaimana caranya?" "Saya bertanya pada papanya langsung, Tuan." Aku tersenyum sinis. "Memangnya papanya tahu aktifitasnya dengan pacarnya?" "Dia tak punya pacar Tuan. Saya menemukan riwayat, gadis itu pernah punya trauma, jadi saya yakin dia belum pernah melakukannya." "Trauma?" Kenapa ini kebetulan sekali? "Ya, Tuan." "Oke. Katakan pada Papi, aku akan menikah dengannya." "Baik." "Keluarlah!" titahku. Bams pun menjauh, tapi kakinya terhenti saat aku memanggilnya karena ingat sesuatu. "Oya, lekas hapus postingan di IG perusahaan. Benar-benar memalukan! Apa kalian pikir aku sedang cari pakaian dalam?!" Aku bilang buat kalimat provokasi, yang menarik perhatian akun milik Rania. Benar memang provokatif, tapi menyebutku sebagai pria normal, dengan perut sixpack dan lingkar d**a ... semua itu meruntuhkan wibawaku sebagai CEO. "Ahm, ya Tuan. Maaf." Bams tak mengatakan apa pun selain mengiyakannya. Dia pasti tak ingin semakin rumit karena omelanku. Kuhela napas panjang. Berharap yang sesak di dalam d**a sini bisa segera hilang. Kuraih ponsel setelahnya, ingin tahu tentang Prices Nara lebih dalam. Begitu menemukan akunnya. Bibirku refleks tersenyum. Gadis yang cantik, dan dari caption banyaknya foto gadis berkerudung itu, bisa terlihat dia adalah gadis yang ceria. Ya, aku sengaja mencari gadis berkerudung kali ini, sesuai saran Papi. Agar kejadian serupa tak terjadi di pernikahanku sebelumnya. Tapi ... yang masih menjadi tanda tanya, bagaimana gadis ini bisa mengatasi trauma nya? Dia sama sekali tak tampak seperti tertekan dan sejenisnya. Kalau begitu, mungkinkah aku pun bisa sembuh sepertinya? Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN