Aku Sudah Melakukannya

1344 Kata
[Kamu gila?! Mentransfer uang puluhan juta ke Nara? Uang sebenyak itu untuk apa? Dia pinjam? Bukannya dia seorang konglomerat sekarang?] Alvin hanya memandangi pesan dari kakaknya itu. Tak mengerti harus menjawab apa? Karena apa pun yanh ia katakan, semua akan dimentahkannya karena memang wanita itu sangat membencinya. Tak lama, ponsel itu berdering. Alvin terpaksa mengangkat. Jika tidak, kakaknya itu akan terus menerornya. "Halo, Vin??" "Iya, Mbak?" "Iya Mbak. Iya Mbak! Kamu tau kan maksudku!" ketus Almira, kakak perempuan Alvin. Perempuan itu merasa gemas pada kelakuan pemuda itu yang kelewat bucin pada Nara. Sikap kakaknya itu seringkali membuat Alvin membeku. Sadar akan kesalahannya. Namun, perasaannya untuk Nara sudah terlanjur dalam, bahkan setelah gadis itu menikah. "Gini, ya, Vin. Boleh saja kamu bucin pada Nara, tapi tetaplah waras. Kamu gak perlu lakuin segala hal buat dia, apalagi urusan uang. Arghh ...." Almira mengdengkus kesal. Alvin bergeming seperti biasa. Hal yang membuat sang Kakak makin kesal saja. "Hisss." Almira mendesis panjang. Panggilan terputus. Pemuda itu benar-benar menguras emosi. Setidaknya ... Alvin memberinya penjelasan. Apa gunanya memberitahu, seolah minta izin kalau uang bersama untuk operasional bisnis mereka Alvin pergunakan seenaknya sendiri. "Apa aku bilang Om Roy saja. Biar Nara tak semena-mena memanfaatkan adikku!" Almira terpikirkan suatu cara. Mereka memang keluarga. Namun, ada batasan tertentu yang tak boleh dilanggar. Terutama urusan uang. "Ya, aku harus melakukannya. Om Roy harus tau kelakuan putri yang selama ini terus dibanggakannya di depan keluarga besar." Almira lalu kembali menggeser layar ponsel. Berniat menghubungi Papa Nara dan memberitahu semuanya. 'Bukan hanya memberi tahunya, aku juga akan memperingatkan orang itu, agar menasehati puterinya.' Tak lama sambungan terhubung dengan orang di ujung telepon. "Halo, Om assalamualaikum, bisa bertemu sebentar." "Oh, Mir. Waalaikumsalam. Ada apa ini? Tumben lho kamu ngubungi Om sampe ngajak ketemuan lagi." Roy sedikit terkejut. Selama ini yang sering tampak di rumahnya adalah Alvin, sedang Almira, entah apa kesibukannya. Dia bahkan sampai lupa punya ponakan bernama Almira. "Ehm, ini soal Alvin dan Nara, Om." "Alvin dan Nara? Ada apa dengan mereka?" Dahi Roy berkerut-kerut mendengar nama puterinya disebut. Sepertinya ada masalah serius di antara keduanya. ______________ Belum lagi, bayangan kejadian yang membuatnya sangat malu tadi hilang, kini Saga melakukan hal lain yang membuatnya tak bisa kabur. Jangankan kabur, ia bahkan tak berkutik. "Hemh. Aku tak peduli kamu sudah punya uang atau belum. Aku tak peduli tujuanmu aa ada di kamarku. Tapi ... siapa pun yang masuk ke sini, tak boleh ke luar tanpa seizinku. Maaf, mulai sekarang aku tak akan melepaskan siapa pun." Saga mengucap tenang dengan tatapan intens ke kedua mata bulat Nara. Harum menguar kuat dari tubuhnya, hingga menyeruak menerobos penciuman Nara. Sesuatu yang membuat gadis itu tak berdaya. Dari dekat begini, pria itu tampak sangat tampan. 'Ah, dia pria tua, duda dan gak laku-laku yang pertama kali terlihat tampan di mataku.' Mata Nara kembali melebar untuk ke sekian kali, saat tubuhnya serasa melayang. Duda itu tak berhenti membuatnya terkejut. Kini ia menggendong Nara tanpa permisi. "Om, aku belum siap," ucapnya di sela langkah lebar pria itu Saga hanya tertawa kecil mendengarnya. "Om, bukannya Om bilang aku masih bocah. Tolong lepaskan aku!" teriak Nara yang sangat takut kalau pria itu benar-benar akan menggarapnya. Ia hanya bisa melihat punggung Saga, lantaran diangkat seperti karung beras di pundaknya. 'Ini bukan pekerjaan romantis! Harusnya dia tahu cara membopong seorang gadis. Setelah sampai ranjang, Saga menurunkan tubuh dalam gendongannya perlahan. Nara melebarkan mata menatapnya tak percaya. Namun, setidaknya dia merasa lega, karena pria itu memperlakukan dengan lembut. "Apa yang akan Om lakukan sekarang?" Nara panik. Otaknya tak bisa dikondisikan dan terus saja membayangkan yang iya-iya. 'Itu wajar, karena aku sudah dewasa.' Baru kali ini Princess Nara tak berkutik di depan pria. "Menurutmu?" tanyanya mengangkat satu alis. Pria itu kembali tersenyum manis. Menggoda adalah caranya untuk menaklukkan gadis angkuh sepertinya. Nyaris saja Nara meleleh karenanya. Saga berjongkok di depan Nara yang duduk dengan gugup di tepian ranjang. Lalu meraih tisue dan sabun yang diletakkannya di nakas. Mata Nara melebar karenanya. Ia tak menyangka jika ini yang akan dilakukan om-om itu. "Jadi ...?" Suaranya menggantung. Saga mendecih dengan melihat sekilas pada Nara. "Kamu pikir apa yang akan aku lakukan?" tanya Saga sambil menaruh sabun yang sudah basah ke jari-jari gadis itu. Nara tersenyum canggung. Ada kehangatan yang menjalar di pipinya. Saga tak seburuk yang dipikirkan. Di saat seperti ini, pria itu masih peduli padanya yang menahan sakit di jari tangan sejak tadi. Nara terus melihat wajah yang semakin tampan di depannya kala serius dan berjuang keras melepaskan cincin dari tangannya. Tanpa sadar gadis itu tersenyum. Ponsel yang dipegang berdering. Gadis itu bingung sendiri apakah boleh mengangkat panggilan yang menganggunya. '"Papa?" gumamnya. Ia sengaja menyebut papanya untuk meminta pendapat Saga tanpa bicara padanya "Angkat saja. Barangkali itu penting." Saga mengucap lembut. Lagi-lagi diikuti sebuah senyuman yang menghanyutkan gadis itu. 'Gila! Apa iya aku jatuh cinta pada Om ini gara-gara melihat barangnya yang paling berharga?!' Gadis itu menggeleng menepis pikiran mesumnya. Lalu segera mengklik icon hijau di ponselnya. "Halo. Pa! Assalamualaikum." "Waalaikum salam. Kamu sedang apa? Sakit? Kok gemeteran gitu?" Pria di ujung telepon menangkap suara Nara yang terdengar berbeda dari biasa. "Aku lagi anuan sama Om Saga. Eh!" ceplosnya segera menutup mulut. "Itu Pa. Maksudnya aku sedang berdua di kamar Om Sag ...." "Ckck. Sudah, sudah. Kenapa juga kamu harus memberitahu Papa. Ya sudah aku tak mau mengganggumu. Lanjutkan saja, Papa cuma mau bilang besok kamu ke kantor Papa." "Soal apa ini, Pa?" "Tentang kamu dan Alvin." "Oh?" Dahi Nara berkerut-kerut. Memikirkan apa yang terjadi? Matanya membulat saat ingat sesuatu. Apa mungkin Alvin berkhianat menceritakan kalau Nara punya hutang padanya. Juga tentang uang 30 juta yang ditransfer ke rekeningnya barusan. "Lanjutkan kegiatanmu, jangan membuat suamimu yang baik hati itu kecewa. Assalamualaikum." Roy menutup panggilan. "Waalaikum salam." Nara heran, bagaimana Papanya bisa menyebut Om Saga sebagai pria baik hati. Apa pernah terjadi sesuatu yang berkesan di antara mereka? "Nah, sudah!" Saga berseru mengangkat cincin itu ke hadapan Nara. Pandangan Nara beralih pada Saga, juga seluruh fokusnya. Ia kembali mendapat senyuman manis dari pria itu. 'Benarkah Om pria yang baik hati?' Gadis itu malah tersipu malu. Lalu berusaha keras menyembunyikannya. Namun, Saga sudah terlanjur menangkap ekspresinya sambil tersenyum. "Makanya jangan terlalu ketus dan membenciku. Kamu tahu kan pada akhirnya kamu akan jatuh cinta padaku." Saga percaya diri. Seolah tahu apa yang gadis itu pikirkan. "Ya?" Nara sontak mendongak, menatap wajah Saga yang masih duduk berjongkok di depannya. "Kenapa Om bisa se percaya diri itu?" "Kita mulai saja, bagaimana?" tanyanya lagi yang membuat Nara sungguh tak kuasa mengendalikan dirinya. Ia tak peduli apa pun ucapan Nara tentangnya Gadis itu memejamkan mata, kala Saga melepas khimarnya. "Cantik." Siapa pun tak mungkin tidak terbawa perasaan, ketika seorang Saga yang memujinya. Tak ada yang bisa Nara lakukan selain pasrah mendapat perlakuan sang suami, sambil meremas roknya. Toh mereka sudah halal dan Nara akan mendapat harga yang pantas untuk malam yang telah diberikan pada Sagara Biru. ____________ Keesokan harinya .... Nara tampak frustasi sendiri, melihat angka yang begitu banyak di rekeningnya. Lalu beralih ke postingannya, yang lebih ramai dibanding saat ia memposting barang branded. Rata-rata dari mereka menanyakan hal memalukan. Seperti apa gayanya? Enak gak jadi pengantin baru? Duh, ga bisa bayangin gimana gantengnya anaknya nanti. "Ah, bagaimana ini? Apa otomatis bagian Princess harus kuhilangkan? Aku sudah tak perawan di mata mereka." Tak lama, suara seseorang membuatnya menoleh. "Sudah kuduga. Kamu ada di sini." Alvin duduk begitu saja di depan Nara. Nara tak menjawab, selain menunjukkan wajah lelahnya. "Kenapa kamu kembalikan uang itu?" Alvin tampak tak terima. Lagi, Nara tak menjawab. Ia menyodorkan ponsel dengan nominal besar di layar. Perempuan cantik itu juga enggan menceritakan bagaimana Papa sekaligus Kakaknya menghubunginya. Mata Alvin melebar sempurna. Ia sampai mengambil ponsel itu dan menghitung jumlahnya. "Satu, dua, tiga, .... 13, 14 digit. Hah?" "Nggak, nggak mungkin!" Alvin menggeleng berkali-kali. "Kamu pasti belum tidur dengan Om itu kan?!" ucapnya lagi tak terima. Nara mendesah panjang. "Aku sudah melakukannya, Al. Apa kamu gak lihat aku selelah ini karena hal itu?" "Apa?!" Terkejut, sedih, kecewa dan kesal. Itulah yang Alvin rasa sekarang. Bersambung Udah ngelakuin belum ya? Kuy, koment teruwuw dapat koin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN