Diary

1021 Kata
Azela pulang ke rumahnya. Agil dan Reyhan pun ia suruh singgah terlebih dahulu. Azela dan Agil tetanggaan, jarak rumah mereka hanya dibatasi oleh setapak aspal. Ya, rumah Azela dan Agil saling berhadap-hadapan. Sedangkan Reyhan, rumahnya pun tak terlalu jauh dari mereka berdua, karena masih satu komplek. Pemandangan yang pertama kali Azela lihat saat masuk adalah Azila yang sedang duduk berduaan dengan Hannan di ruang tamu. Azela mempersilakan Reyhan dan Agil duduk di sana. "Kok ada Hannan?" tanya Azela heran, tatapannya menyelidik yang membuat Azila malu-malu. "Tadi Hannan anterin gue," jawab Azila cepat. "Emangnya nggak dijemput sama Pak Patman?" "Nggak. Pak Patman tadi jemput Papa," ucap Azila yang sebisa mungkin mengode Azela agar tidak bertanya apa-apa lagi. Sebenarnya Azila hanya ingin pulang diantarkan oleh Hannan, makanya ia beralasan jika supirnya tak bisa menjemput. "Oh. Oke," kata Azela cuek. "Hekhem." Dehaman Agil dan Reyhan disengajakan keras, untuk mengode Azela. "Kenapa? Batuk? Beli obat sana," suruh Azela yang tak peka, jika kedua sahabatnya itu haus. "Yah, Zel. Nggak peka amat lo," ucap Reyhan kesal. "Kalau haus, lapar, ambil sendiri ke belakang, kayak pertama kali ke sini aja," ucap Azela, "dah, ah, gue mau ganti baju dulu." Azela pun menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai empat. Ya, rumahnya memang besar dan luas. Bahkan terdiri dari lima lantai. Lantai empat adalah khusus ruangan pribadi Azela dan Azila, mulai dari kamar mereka masing-masing, ruang bersantai, tempat bermain, dapur kecil, dan ruang belajar. Satu lantai ini milik mereka berdua, bahkan Reyhan dan Agil pun sering duduk bersantai di sini. Rumahnya memang luas, tetapi anggotanya yang sedikit. Azila dan Azela hanya punya Daniel. Lalu, selebihnya Asisten Rumah Tangga yang menginap di sini, termasuk supir pribadi. Ada tujuh orang ART dan dua dua orang supir. Azela masuk ke kamarnya. Langit-langit kamar yang berwarna biru, dinding yang berwarna putih dan sedikit hiasan kristal. Azela menyukai kristal. Ya, bahkan barang-barangnya bermotif kristal. Azela meletakkan tasnya di atas meja belajar. Namun, tasnya itu menyenggol sesuatu yang membuat benda itu terjatuh. Azela segera mengambilnya. "Diary," ucap Azela. Ia mendengkus pelan. Diary itu tak bisa terbuka lagi, karena kuncinya yang hilang. Namun, diary itu tetap menjadi diary kesayangannya. Azela masih menyimpan dan selalu memeluk diary itu, karena ada banyak foto-foto rahasia yang ia tempel di sana dulu. Foto yang siapa pun tak tahu. Azila pun tak mengetahui tentang foto itu. "Huft, kapan lagi, ya, gue bisa buka, nih, diary," lirihnya. Azela lalu meletakkan kembali diary itu di meja. Tangannya beralih memegang bingkai foto yang berisi satu foto seorang wanita muda di sana. Ingatan Azela pun melayang pada dua belas tahun yang lalu. Azela masih berumur enam tahun dan ia masih duduk di Taman Kanak-kanak. Setelah pulang, Azela selalu menunggu Pak Patman menjemputnya. Sembari menunggu, Azela selalu pergi ke lapangan luas di sebelah TK-nya, untuk melihat orang shooting. Azela senang melihat wanita cantik yang sedang berakting itu. Selama ini Azela memang sering memperhatikannya dari jauh. Wanita berambut panjang, berkulit putih, dan tinggi itu selalu menarik perhatian Azela. Suatu hari, selepas pulang sekolah. Hari hujan lebat, ia tak membawa payung. Azela yang tak ingin terlewatkan melihat shooting itu pun tetap menonton. Badannya sudah basah kuyup. Wanita yang dikagumi oleh Azela itu pun tak sengaja menatap ke arahnya. Ia pun menghampiri Azela sembari membawa payung. "Hai, Sayang. Kamu ngapain di sini?" tanya wanita itu membungkukkan badan. "Tante cantik," ucap Azela tersenyum bahagia. Ia merasa tengah bermimpi, karena bisa menatap wanita itu lebih dekat. "Hai, Sayang. Kamu basah, nanti sakit." Wanita itu pun membimbing tangan Azela dan membawanya ke basecamp. "Pak, minta handuk, dong," ucap wanita cantik itu kepada crew. Setelah mendapatkan handuk, wanita itu langsung mengelap badan Azela dan melilitkan handuk itu ke badan Azela. "Nih, kamu minum teh ini, ya, Sayang," suruhnya. Azela pun menurut saja. "Tante cantik, ini beneran Tante cantik, 'kan?" tanya Azela masih tak percaya. "Iya, Sayang. Ini Tante. Nama Tante ... Tante Audi. Nama kamu siapa?" "Tante panggil aku Sayang aja," ucap Azela dengan gemasnya. Audi pun tertawa. "Kenapa nggak mau ngenalin namanya ke Tante?" "Karena kalau Tante tahu namaku, Tante nggak mau panggil aku Sayang lagi," ucap Azela yang membuat Audi kembali tertawa. "Duh, Sayang. Kamu gemas banget. Mulai sekarang, kamu jadi anak Tante yang paling gemas," ucap Audi mencubit pelan pipi gembul Azela. Semenjak itu, Azela dan Audi pun menjadi dekat. Azela dengan sengaja menyuruh Pak Patman lebih lambat satu jam untuk menjemputnya, agar ia bisa lebih lama dengan Audi. Seiringnya berjalan waktu, Azela pun masuk Sekolah Dasar. Ia meminta Daniel untuk memasukkannya ke SD yang dekat dengan TK-nya dulu. Sebenarnya setamatnya TK Azela akan dibawa ke Singapure oleh Daniel, karena Azila berada di sana. Namun, Azela menolak, karena ia ingin tetap berada di Indonesia. Azela tak sanggup berpisah dengan Tante Cantiknya. Seiringnya berjalan waktu. Tak terasa, dua tahun berjalan dengan cepat. Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Azela yang ke-7 tahun. Audi dan para crew mempersiapkan kejutan untuk Azela. Saat gadis kecil itu memasuki lokasi shooting, mereka langsung menyambut kedatangannya dengan sepotong kue dan nyanyian selamat ulang tahun. Azela pun tersenyum bahagia. Audi segera menggendongnya. "Anak sayang Tante udah tujuh tahun sekarang. Udah besar, pandai-pandai jaga diri, ya, Nak," ucap Audi yang sejak tadi menahan air mata. "Tante cantik kok ngomong gitu?" "Shootingnya udah selesai, Sayang. Tante ada project lain di luar negeri." Kalimat itu adalah kalimat paling menyakitkan yang Azela terima. Azela menangis, langsung memeluk Audi erat. Ingin rasanya Azela tak melepaskan pelukannya, tetapi apa daya. Perpisahan itu sudah datang. "Ini foto-foto kita. Kamu simpan, ya, dan ini foto Tante, khusus buat kamu," ucap Audi memberikan beberapa photocard kepada Azela. "Oh, iya. Ini satu lagi, Sayang. Kado untuk kamu. Selamat ulang tahun, anak sayang Tante." Azela kembali memeluk Audi, berat sekali rasanya berpisah dengan orang tersayang. Azela tersadar dari lamunannya, saat ketukan pintu terdengar memekakkan telinga. Pasti sang pengetuk pintu adalah kedua sahabatnya. "Zel! Lama banget lo ganti baju. Lo nggak tidur, kan?" Azela mendecak pelan. "Ya, bentar lagi!" teriak Azela. Azela mencium diary itu. Diary tersebut adalah kado dari Tante Cantiknya. Maka dari itu, Azela sangat menyayangi diary itu. Sayang sekali kuncinya hilang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN