Hari ini Fatan kembali syuting untuk Film barunya. Namun, sejak sampai lokasi dirinya sudah badmood, akibat kulit pisang tadi.
"Lihat aja kalau gue ketemu lagi sama, tuh, cewek," ucap Fatan kesal.
"Kenapa, sih, Bro? Dari tadi kusut amat, tuh, muka," ucap Rafa—temannya.
Fatan hanya diam. Ekspresinya tetap datar. Ia sedang tak mau diganggu siapa pun sekarang.
Rafa menyodorkan segelas kopi untuk Fatan, tetapi cowok yang tengah badmood itu menggeleng.
"Di luar ada wartawan, pengen wawancarai lo sama Zea."
"Malas," jawab Fatan.
"Palingan bentar lagi ada yang maksa lo," ucap Rafa cuek.
Tak lama kemudian, Zea—lawan mainnya Fatan—datang menghampiri.
"Fatan, ada wartawan. Ke luar, yuk!" ajak Zea.
"Lo aja."
"Nggak bisa. Kita harus bareng. Ayo!"
"Gue males."
"Kita harus ke luar, disuruh Om Andi. Ayo!" paksa Zea menarik tangan Fatan. Terpaksa cowok itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar bersama Zea. Rafa terkekeh pelan, ia berpikir jika Fatan cocok dengan Zea.
Fatan si cowok dingin dan Zea si cewek cerewet.
Di luar, Fatan hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang ia rasa penting.
"Sudah berapa lama kalian syuting?"
"Apa kesulitan yang kalian rasakan?"
"Apa kalian terlibat cinta lokasi?"
"Kapan proses syuting selesai?"
Fatan yang akan menjawab langsung disela oleh Zea yang mengambil alih mic itu.
"Kita baru mulai syuting, karena baru selesai reading. Untuk saat ini belum ada kesulitan sama sekali. Kata sutradara kita, Om Andi, syutingnya paling lama dua bulan udah kelar. Emm ... oh ya memang, sih, kita sekarang dekat dan Fatan cinlok sama aku, tapi kita mencoba untuk profesionalitas."
Fatan langsung melirik Zea tak terima dengan jawabannya yang terkesan mengada-ngada.
"Wah, berarti kalian beneran cinlok, ya. Apakah fans kalian setuju terhadap hubungan kalian ini?"
Fatan langsung menjawab, "Kita ngg--"
"Nggak masalah, fans kita tetap mendukung, kok." Zea lebih cepat menyela yang membuat Fatan mendengkus pelan.
"Oke, baik. Terima kasih Zea dan Fatan. Semoga syutingnya lancar."
"Terima kasih," jawab Zea. Fatan langsung pergi setelah wawancara itu selesai. Zea tersenyum puas. Setelah ini pasti gosip tentangnya dan Fatan akan bertebaran. Itulah yang Zea inginkan. Dekat dengan seorang Fatan, siapa yang tidak menginginkannya?
Fatan langsung kembali ke base camp. Mood-nya yang tadi buruk malah semakin buruk. Fatan tak membantah ucapan Zea tadi hanya karena ia tak ingin hubungan mereka hancur dan chemistry mereka tak terjalin.
***
Berita gosip pagi ini sungguh menggemparkan, di mana seorang Fatan Alvino dikabarkan berpacaran dengan Zea Fahira.
"Huaaa!" teriak Azila histeris.
"Hadeh, kenapa lagi, tuh, anak," dengkus Azela.
"AAAA nggak mau," ucap Azila mengentakkan kakinya.
Azela segera turun tangga, berjalan menuju meja makan. Teriakan Azila tadi sampai ke kamarnya. Untung saja orang-orang di rumah ini sudah kebal dengan teriakan Azila.
"Kenapa, Zila? Masih pagi ini," tanya Azela, lalu ikut duduk.
"Gimana gue nggak histeris coba! Masa Kak Fatan ganteng gue pacaran sama si ulat bulu Zea, sih!" ucap Azila benar-benar tak menyangka.
"Zea itu siapa?" tanya Azela.
"Artis. Pasangannya di film."
"Ya wajarlah, toh, dia artis. Pasti bisa dekat sama Kak Fatan-fatan lo itu."
"Ish! Zea itu gatel! Kayak ulat bulu. Gue nggak setuju."
"Emang dia perlu restu lo? Udah, deh, ya, lupain si Fatan," ucap Azela santai.
"Nggak mau!"
"Ya udah, terserah."
Azela memakan sepotong roti dan meminum segelas s**u.
"Papa mana?" tanya Azela celingak-celinguk.
"Udah berangkat duluan ke kantor."
"Oh."
Azila tidak memakan rotinya. Ia hanya meminum segelas s**u saja untuk menghangatkan perut. Azila tak berselera untuk sarapan.
"Cepetan," suruh Azela.
"Iya-iya."
"Ya udah gue tunggu di luar," ucap Azela melangkah ke luar.
***
Setelah sampai di sekolah. Kelas pun sudah ramai memperbincangkan gosip itu.
Azila yang baru sampai langsung bergabung bersama teman-temannya. Azela memutar bola mata malas. Menurutnya menghabiskan waktu untuk membicarakan gosip artis tidaklah penting.
Azela diskors. Ya, memang. Ia datang ke sekolah tak memakai seragam. Azela hanya mengantarkan Azila dan memantau saudari kembarnya itu.
Azela pun pergi ke toilet, karena kantung kemihnya yang terasa penuh. Namun, di toilet ia bertemu dengan dua orang siswa yang menurut Azela tidaklah penting.
"Diskors tetap aja ke sekolah. Nggak malu, tuh," sindir sebuah suara dari salah satu dua orang yang tidak penting menurut Azela tadi.
"Kalau gue, sih, malu, ya."
"Kenapa harus malu, Re. 'Kan diskors nggak boleh belajar, bukan nggak boleh jalan-jakan di sekolah," ucap Fina dengan polosnya yang membuat Reha gemas sendiri.
"Pinaaa. Lo diam aja, nggak usah ikut ngomong," bisik Reha.
Azela tersenyum senggeng. "Teman lo lebih pintar dari lo, dia punya otak, sedangkan lo nggak," ucap Azela menatap Reha datar. Setelah mengucapkan itu, Azela pun keluar.
Reha mengentakkan kaki kesal. "Iiih ... belagu amat, tuh, orang!" kesal Reha.
PLAK!
Reha melebarkan matanya, ketika Fina memukul dahinya keras.
"Maaf, Re. Tadi ada nyamuk, hehe."
Reha tak habis pikir dengan Fina. Untung saja Fina memiliki otak yang cerdas—bisa membantunya mengerjakan tugas. Jika tidak, maka Reha tak ingin berteman dengan Fina si polos dan tak nyambung sepertinya.
***
Azela lalu pergi ke kantin. Lebih baik ia duduk di sini saja sembari menunggu Azila.
"Azela. Kamu bukannya diskors?" tanya Bu Citra yang juga berada di kantin.
"Iya, Bu, tapi saya harus berada di sekolah untuk mengawasi adik saya."
"Tapi, Nak. Kamu, kan ...."
"Papa saya yang nyuruh," ucap Azela singkat yang membuat guru seni budaya itu bungkam.
"Oh, baiklah. Tapi kamu jangan cari masalah lagi, ya."
"Baik, Bu."
"Ya udah, Ibu tinggal, ya. Bentar lagi kelas."
"Iya."
Dua menit kemudian, bel masuk pun berbunyi. Semua siswa yang berada di kantin pun bubar, meninggalkan Azela sendiri duduk di pojokan.
"Non Azela. Mau Bibi temenin?"
Bi Anti—salah satu penjual di kantin—menyapa Azela. Gadis itu tersenyum singkat.
"Nggak usah, Bi. Terima kasih. Mending Bibi lanjut aja. Azel nggak pa-pa, kok."
"Ya udah. Bibi mau masak nasi goreng dulu, ya."
"Oke, Bi. Nanti kalau udah lapar, Azel pesan."
"Siap, Non."
Azela lalu beralih ke ponselnya yang memunculkan satu pesan.
Isi pesan itu adalah ....
[Hidupmu tidak akan tenang. Hidupmu hancur. Hidupmu penuh kegagalan.]
Tangan Azela terkepal kuat. Tidak. Ia tak boleh terbawa emosi oleh pesan itu, bukankah selama ini pesan-pesan itu sudah menjadi makan sehari-harinya. Anggap saja pesan tak penting!
Azela pun membalas.
[Oh, ya? Emang hidup Anda sudah benar?]
***