Undangan Reuni

1022 Kata
Sejak bertebarannya gosip tentang kedekatan Fatan dan Zea. Fatan sama sekali tak memperlihatkan senyumnya pada siapa pun. Berita palsu itu dipercaya pula oleh fansnya, alhasil timbulah hatters yang tidak terima. 'Fat, lo nggak kuliah hari ini?' tanya Deni dari balik telepon. "Nggak." 'Kenapa? Lagi sibuk syuting, ya?' "Hm." 'Oh, ya udah, deh, tapi lo besok jadi, kan, pergi sama gue? Lo kan dapat undangan khusus, Bro.' "Ke mana?" 'Ke Acara Reuni SMA Mandiri Bangsa, Bro.' "Malas." Fatan pun mematikan telepon sepihak. Sudah tidak ada yang penting lagi baginya. "Fatan, take!" teriak sutradara. Fatan bangkit dari duduknya dan bersiap untuk take. Scene-nya lumayan banyak hari ini. Zea tersenyum lebar menatap Fatan. Gadis itu sudah lama mengagumi keponakan dari artis idolanya—Audi. Zea sangat bangga bisa menjadi pasangannya Fatan di film ini. Zea memberikan tisu kepada Fatan, karena cowok itu tampak berkeringat. "Nggak usah, thanks," tolak Fatan datar. Zea mengulum senyumnya, ia menatap ke sekitar, memastikan tidak ada paparazi. Bisa kacau pencitraannya jika ada yang menguntip dirinya yang ditolak Fatan tadi, walaupun hanya selembar tisu. "Kamera roll. Action!" Adegan kali ini adalah, Fatan dan Zea berdansa dengan romantis. Zea tersenyum menatap muka Fatan, tangannya membelai muka tampan Fatan. "CUT!" teriak Om Andi—sutradara. "Fatan, senyum kamu mana? Kok diam aja dari tadi. Matanya juga mainkan! Gerakannya lebih dilincahin lagi, dong." "Baik, Om," jawab Fatan. Cowok itu lalu menghela napas dan mengembuskannya pelan. Ia harus fokus. Profesional seorang artis harus ditegakkan. "Oke. Mulai, ya. ACTION!" *** Semangat seorang Azila berkobar. Besok adalah hari yang dinanti-nantikannya, yakni Acara Reuni yang mengundang semua angkatan SMA Mandiri Bangsa. Untung saja lutut Azila sudah tidak sakit, walaupun masih berbekas. Sakit tidak akan memengaruhi semangatnya. Azela duduk di bangku penonton, setia menanti kembarannya itu berlatih. Sejak pagi Azela di sekolah tanpa belajar. Bosan? Ya, tentu saja, tetapi mau bagaimana lagi? Ia tetap harus mengawasi Azila. Satu pesan lagi masuk ke ponsel Azela. Ia sudah tahu siapa pengirimnya. Azela pun membuka pesan itu. [Kalau kamu berani, temui saya nanti malam jam tujuh di taman.] Azela hanya membaca saja. Ia bukannya takut, tetapi sudah terlalu malas bertemu dengan orang itu. Ada hal yang lebih penting dari pada itu. Azela tak ingin membuang waktunya. Notifikasi kembali muncul. [Kenapa? Pasti tidak mau, ya? Takut? Tenang saja, saya tidak membawa pasukan.] "Bukannya takut, Dugong. Gue yang malas lihat muka nenek lampir lo." Tangan Azela bergerak untuk membalas. Namun, tiba-tiba ada yang duduk di sampingnya. Azela pun mengurungkan niat. "Hai, Cantik ... eh, kayaknya cewek jadi-jadian kayak lo lebih tepatnya dibilang seram, sih. Hai, Seram." Azela menatap datar, fokus ke depan. Tak memedulikan orang di sampingnya. "Woy!" teriak orang itu yang tak diacuhkan oleh Azela. Gadis itu kembali membuka HP-nya. "Woy! Kalau gue panggil, tuh, nyahut! Lo mau gue pukul?" bentak cowok itu. "Woy! Kalau gue panggil, tuh, nyahut! Lo mau gue pukul?" Terdengar rekaman suaranya yang direkam oleh Azela dengan HP-nya. Cowok itu mengerang kesal, ia pun menggapau HP Azela, tetapi dijauhkan oleh gadis itu. "Mau gue kirim suara lo ini ke Kepsek?" ancam Azela. "ELO--" "Apa?" Cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Zaki itu kembali mendengkus kesal. Cewek yang bernama Azela itu selalu menguji kesabarannya. "Lihat lo nanti." "Lihat aja sekarang, kenapa harus nanti? Kelamaan," ujar Azela santai. Zaki menggumpal tangannya, ia pun bangkit dan pergi dari situ. Azela memutar bola matanya. Sangat malas berurusan dengan Zaki. Sejak SMA ia tak pernah akur dengan cowok itu, apa mungkin karena kisah masa lalu waktu SMP? Sedikit info saja, jika Zaki adalah orang yang tergila-gila dengan Azela waktu zaman putih biru. Setiap hari melakukan PDKT, tetapi selalu ditolak oleh Azela. "Azel!" teriak Azila. Azela pun menghampiri kembarannya itu. "Udah kelar?" "Udah. Pulang, yuk!" "Iya." "Guys, gue duluan. Bye," pamit Azila kepada teman-temannya. "Bye, Azila ...." *** "Kenapa lo yakin banget kalau si Fatan-fatan itu bakalan datang besok?" tanya Azela. Dirinya saja tidak yakin, karena Fatan itu artis, pastinya sibuk. "Yakin, dong, dia, kan, alumni SMA Mandiri Bangsa juga." "Ya tapi, kan, nggak pasti juga bakal datang, Zila. Orang katanya dia artis papan triplek, pasti sibuklah." "What? Apa-apa, tadi? Artis papan triplek? OMG, Azel. Kak Fatan gue itu artis papan atas-tas-tas. Jangan sembarangan!" "Hm, mulai, deh." Azela hanya bisa menahan panas kuping, ketika Azila memulai jiwa supernya menceritakan seorang Fatan Alvino yang sangat perfect di matanya. "Pak, tolong agak cepat aja, ya, bawa mobilnya, kasian telinga saya udah berasap, Pak," ucap Azela kepada Pak Patman yang membuat Azila mencebik kesal. "Ah, Azel, mah, gitu ...." *** Malam pun tiba. Azela mondar-mandir di kamarnya. Ia bingung, apakah pergi menemui orang tak penting itu di taman atau tidak. Notifikasi kembali berdering. Azela pun segera membaca pesannya. [Jadi, tidak? Saya membawakan kamu hadiah.] Azela pun mengetik pesan. [Otw.] *** Fatan menatap kunci berbentuk kristal di tangannya. Ia tersenyum pelan mengingat pertemuan tiga kali dengan orang yang disebut gadis impiannya itu. Kapan lagi akan berjumpa dengan Azila? Namun, kenapa Fatan masih merasa jika bukan Azila gadis yang menjadi gadis impiannya? "Fatan, makan dulu, yuk," ajak Audi. "Iya, Tan." Fatan pun memasukkan kembali kunci itu ke dalam kotak yang ia khususkan untuk kunci tersebut. Lalu, Fatan keluar menuju meja makan. "Tumben nggak nginap di lokasi, Tan," kata Fatan. "Tante scene pagi, jadi malam ini bisa tidur di rumah. Kamu, gimana? Syutingnya lancar?" tanya Audi. "Alhamdulillah, Tante." Audi tiba-tiba tersenyum. Ia pun menggoda keponakannya itu. "Tante dengar, kamu udah punya pacar, ya?" Fatan tersedak. Audi langsung menyodorkan air. "Nggak, ah, Tan. Itu cuma gosip palsu." "Masa, sih? Emangnya kamu nggak suka sama Zea? Dia selalu nge-chat Tante, loh. Katanya kamu selalu nemenin dia." "Nggak, Tan. Aku nggak suka sama Zea." "Terus, keponakannya Tante yang ganteng ini sukanya sama siapa, dong?" tanya Audi mencolek dagu Fatan. "Sama Tante," ucap Fatan diiringi kekehannya. "Ah, kamu ... selalu aja gombalin Tante. Gombalin anak orang kapan?" "Kapan-kapan, Tan." "Tante juga nggak maksa kamu, sih, untuk pacaran. Tante mau kamu fokus sama karier dulu," pesan Audi. "Siap, Tan." "Nah, gitu, dong. Ya udah lanjut makan dulu, Sayang," suruh Audi. Fatan mengangguk dan melanjutkan makannya. Tiba-tiba ponsel Fatan berdering. Siapa yang menelepon? Mengganggu waktu Fatan dengan Audi saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN