Azela menepati janjinya. Malam ini ia bertemu dengan orang yang selalu muncul di layar HP-nya itu.
"Awas aja kalau, tuh, Nenek Sihir nggak datang," ancam Azela.
"Saya pasti datang," ucap sebuah suara yang berasal dari belakang Azela. Gadis itu menoleh dan mendengkus kesal.
"Anda telat lima menit. Bisakah lebih tepat waktu?" sindir Azela.
"Saya tidak ingin basa-basi. Saya peringatkan, ya, pada kamu. Jangan bawa-bawa anak saya dalam urusan kita! Dia nggak terlibat."
"Jika Anda tidak ingin anak Anda celaka, maka beritahu saya di mana keberadaan suami Anda!" tegas Azela.
"Tidak akan. Sampai kapan pun, saya tidak akan memberitahukan itu. Nih, ambil!" Wanita itu memberikan sebuah kotak kepada Azela.
"Dari siapa?" tanya Azela.
"Kamu tak perlu tahu dari siapa. Ambil saja!" paksanya.
"Katakan dulu dari siapa," ucap Azela dingin.
"Oke. Ini hadiah dari ayah kamu yang diberikan pada saya, tapi ... saya tidak suka. Ya sudah, ambil saja untuk kamu yang lebih membutuhkan."
PRANG!
Azela melempar kotak itu ke sampingnya. Bunyi kaca pecah pun terdengar.
"Saya mengerti maksud Anda, tetapi saya sama sekali tidak cemburu jika suami Anda lebih menyayangi Anda daripada saya dan ... satu lagi, saya tidak butuh hadiah itu!" ucap Azela dengan intonasi keras.
Wanita yang tak lain adalah Tiwi—istri kedua ayahnya—memang selalu berusaha membuat Azela membenci ayahnya, karena kasih sayang seorang ayah yang sama sekali belum didapatkan Azela dari ayah kandung. Apalagi Tiwi selalu memamerkan kasih sayang ayah Azela padanya, yang ingin membuat Azela iri.
Azela bangkit. Ia rasa sudah tidak ada lagi yang penting dibicarakan.
"Tunggu!" ucap Tiwi, "saya ingatkan pada kamu lagi, ya. Jangan bawa-bawa anak saya dalam masalah ini!"
Azela tersenyum sinis. Oh, jadi ini tujuan Tiwi mengajaknya bertemu malam ini. Tiwi tampak sangat khawatir.
"Saya tida bisa janji soal itu," ucap Azela dingin.
"Saya akan memberikan kamu satu permintaan, asalkan anak saya tidak dibawa-bawa."
"Saya tidak butuh itu."
Tiwi mengeram kesal. Ia sangat khawatir dengan anaknya. Walaupun Tiwi yakin anaknya itu tak mengenalnya.
Tiwi hanya melahirkannya, setelah itu ia menghilang dan meninggalkan anaknya. Namun, selama ini Tiwi tetap memperhatikan anaknya dari jauh.
"Anak saya tidak salah apa-apa. Jangan kamu sakiti dia!" ujar Tiwi tajam.
"Begitu lemahkah anak Anda, sampai Anda takut dia terluka di tangan saya?"
"Kamu!" bentak Tiwi sambil menunjuk Azela.
"Apa?" tantang gadis itu.
"Saya tidak akan segan-segan menghabiskan kembaran kamu, jika terjadi apa-apa dengan anak saya!" ancam Tiwi.
"Oh, ya? Sebelum Anda menyentuh saudari kembar saya, anak Anda sudah terlebih dahulu masuk ke liang lahat."
"Jaga ucapan kamu!" bentak Tiwi marah. Azela tersenyum sinis. Ia tak menyesal diajak bertemu malam ini, karena Azela semakin bisa menekan Tiwi dengan ancamannya.
Sebenarnya, Azela pun tidak tahu siapa anak Tiwi, ia pun tak mengenalnya, tetapi setidaknya Azela tahu di mana anaknya Tiwi menuntut ilmu.
Azela mengetahui itu dari kedua sahabatnya, yang tak sengaja melihat Tiwi berada di Universitas Mandiri Bangsa. Bisa dipastikan jika Tiwi sedang memperhatikan anaknya. Maka dari itu, kemarin Azela ke sana hanya untuk mengancam Tiwi seolah-oalah ia sudah tahu siapa anak tunggal Tiwi.
Tiwi dibuat takut dan khawatir, karena bagaimana caranya ia memberitahu anaknya itu jika ia dalam bahaya? Sedangkan anak Tiwi tak mengenalnya.
"Makanya, jika Anda tidak mau kehilangan anak kesayangan Anda, cepat katakan di mana suami Anda!"
"Tidak. Saya tidak akan memberitahu kamu," ujar Tiwi.
"Oh, ya sudah. Siap-siap, ya, melihat anak Anda terluka."
Azela kembali tersenyum sinis, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia sedikit puas bisa mengancam balik seorang Tiwi.
***
"Azel, kamu dari mana aja, sih?" tanya Azila saat Azela baru memasuki rumah.
"Oh, i--itu, tadi gue cuma jalan-jalan ke luar bentar."
"Azel sini, dong!" suruh Azila menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Kenapa?"
"Besok, kan, acara reuni. Terus, malamnya kan ada pesta dansa topeng gitu, kan. Azel ikut, kan?"
"Nggak."
"Ish, harus ikut, Azel!"
"Lo aja. Gue kagak."
"Tapi, gue mana boleh pergi tanpa lo," ucap Azila sedikit murung. Azela jadi tak tega.
"Tapi gue nggak tertarik, serius."
"Please ... kali ini aja, demi gue. Mau, ya?" bujuk Azila memohon.
"Aduh, Zila. Gue, tuh--"
"Ayolah. Please ...." Azila menampilkan wajah memelasnya. Azela pun mengembuskan napas pelan.
"Ya udah, iya, gue ikutan. Tapi cuma nunggu di mobil."
"Nggak bisa gitu, dong! Azel harus ikutan dansa juga, nanti dansa bareng gue."
"Kalau soal itu gue angkat tangan, nggak mau, titik!" kata Azela bangkit, melangkah menuju kamarnya. Azila mendengkus pelan, memikirkan bagaimana cara membujuk Azela.
Tiba-tiba ponsel Azila berdering, alis gadis itu bertaut erat. Tumben sekali Hannan meneleponnya. Ada apa?
"Hallo?" sapa Azila setelah menjawab telepon.
"Hai, Zila."
"Iya, Hannan. Ada apa, ya?"
"Hmm ... besok, kan, ada acara pesta dansa. Gue mau ngajak lo jadi pasangan gue. Lo mau, nggak?"
Mata Azila melebar. Ia pun menutup mulutnya agar tak berteriak. Jarang-jarang bukan ada cowok ganteng berbakat seperti Hannan mengajaknya.
"Hallo, Zila? Gimana?"
"Yah. Ya, gue mau, kok." Azila menggigit bibir bawahnya. Senyum gadis itu tak lepas dari wajahnya daritadi.
"Oke. Mau gue jemput, atau ditunggu di sekolah aja?"
"Tunggu di sekolah aja. Soalnya gue pergi sama Azela."
"Oh, oke. Tidur, gih. Udah malam. Besok pagi acara pembukaan. Lo tampil, kan?"
"Iya, hihi. Oke, deh, gue tidur. Hannan juga, ya."
"Oke. Bye, Azila."
"Bye, Hannan."
Telepon pun terputus. Azila lalu melompat-lompat kesenangan. Ia pun menari-nari dan berlari sampai ke kamar Azela.
"Azel!" teriak Azila, "buka pintunya!"
Azela pun membukakan pintu dan Azila langsung masuk. Ia pun menghempaskan badannya ke kasur.
"Kenapa? Keknya senang banget."
"Tau, nggak, Zel? Hannan ngajakin gue jadi pasangannya di acara dansa besok!" ucap Azila berteriak senang.
Azela hanya bisa geleng-geleng. Ia pun melanjutkan tugasnya yang tertunda. Azela sedang mencatat catatan Azila.
"Azel! Dengerin gue nggak, sih?"
"Iya, gue denger."
"Terus kok nggak kasih respons, sih? Ikut girang gitu."
"Ngapain juga."
Azila mendengkus pelan. Azela memang sulit diajak kompromi jika masalah tentang percintaan.
"Kayaknya gue suka lagi, deh, sama Hannan," ucap Azila senyum-senyum membayangkan muka tampan Hannan. Mata cokelat cowok itu dengan bulu mata yang panjang menjadi objek paling menarik bagi Azila dari wajah Hannan.
"Katanya suka sama si Fatan-fatan itu, terus suka sama Hannan juga. Gak boleh tau menyukai dua orang sekaligus," komentar Azela.
"Bukannya suka sama dua orang, Azel. Tapi ... gue, tuh, bingung, di satu sisi gue suka dan cinta banget sama Kak Fatan, tapi di sisi lain, Hannan itu, kan, first love gue."
Azela hanya mendengarkan saja celotehan Azila.
"Menurut Azel lebih baik gimana?"
"Lebih baik fokus belajar aja, entaran kalau masalah cowok."
"Yah, gak asyik!" decak Azila.
Tiba-tiba ponsel Azila kembali berdering. Nomor tak dikenal pun tampak di layar. Azila pun memilih mengangkat saja.
"Hallo?"
"Hallo. Apakah benar ini dengan Mbak Azila?"
"Ya, benar, Pak."
Azela pun langsung melirik Azila. Ia bangkit dan mendekati saudari kembarnya itu.
"Selamat, Mbak Azila. Anda mendapatkan voucher belanja senilai sepuluh juta. Dimohon segera mengambilnya dengan cara mengatakan berapa nomor rekeningnya, Mbak, agar saya bisa bantu mencairkan."
Azila pun langsung menatap Azela. "Wah, dapat voucher gratis!" teriaknya girang.
"Iya, Mbak. Selamat, ya. Segera ucapkan nomor rekeningnya, Mbak."
Azela pun segera menarik HP Azila dan menempelkan ke daun telinganya.
"Cuma sepuluh juta doang?" tanya Azela santai.
"Ya--iya, Mbak. Banyak sekali, kan, Mbak bisa belanja sepuasnya."
"Nggak usah. Buat Bapak aja," ucap Azela. Azila membulatkan matanya. "Yah, Azel, itu, kan, untuk kita masa dikasih ke Bapaknya?" tanya Azila memanyunkan bibirnya.
"Nggak, Mbak. Ini untuk Mbak, saya hanya bantu mencairkan, tetapi sebelum itu transfer ke saya dulu dua juta ya, Mbak, biaya administrasinya."
"Bapak ambil aja sepuluh juta itu, saya nggak usah."
"Loh, Mbak ...."
"Saya udah kaya, Pak."
"Tapi, Mbak. Ini bisa--"
"Udah, ya, Pak. Kalau mau nipu jangan ke saya, nggak mempan."
Telepon pun langsung terputus. Azela mendengkus pelan.
"Yah, Azel. Kok dimatiin?"
"Azila ... please, jangan terlalu polos. Masa lo nggak tahu kalau itu penipuan."
"What, penipuan?"
"Lagian sepuluh juta buat apa, sih? Jajan lo kurang banyak?"
"Ya, tapi, kan, kalau beneran lumayan buat traktir teman-teman."
"Udah, ah, lain kali jangan percaya sama gitu-gituan."
"Iya-iya."
"Ya udah ke luar, gih, kembali ke kamar lo," usir Azela.
"Dih, Azel mah, mainnya ngusir mulu."
***