Sekarang adalah hari yang paling ditunggu siswa SMA Mandiri Bangsa. Kenapa? Ada acara reuni alumni semua angkatan dari tahun ke tahun.
Dimulai dari pagi, acara pembukaan yang dibuka oleh kepala sekolah.
Semua siswa sudah berkumpul di aula. Panitia mulai disibukan, siswa yang akan tampil pun bersiap-siap di belakang. Seperti Azila tentunya.
Gadis cantik itu sekarang sedang di-makeover. Azila sudah tidak sabar untuk menampilkan dancenya nanti bersama teman-temannya.
"Gurls, kalian udah siap? Lima belas menit lagi acara, kalian bisa istirahat dulu sebentar," ucap Ria—sang pelatih.
"Siap, Kak."
Ria pun menatap ke arah Azila yang baru selesai didandani.
"Cantik banget," bisik Ria. Azila pun tersenyum malu.
Mata Ria pun melihat penampilan Azila dari atas sampai bawah. Alis Ria tiba-tiba mengkerut. "Azila, sepatu Hip Hop kamu mana?"
Azila terkejut, ia pun menatap ke arah kakinya. Mata Azila melotot. Ia masih memakai sandal. Buru-buru gadis itu memeriksa tas perlengkapannya.
"Astaga, aku lupa bawa, Kak." Azila langsung panik. Akibat tadi pagi buru-buru, ia sampai lupa membawa sepatu untuk dance-nya.
"Duh, gimana, ya, Kak?" tanya Azila dengan mata yang sudah berair.
"Aduh, Azila. Gimana sekarang?" Ria pun menatap anggota dance yang lain. "Kalian ada bawa sepatu cadangan, nggak?"
"Nggak, Kak," jawab mereka kompak.
Ria menepuk dahinya pelan. Ia pun tak membawa sepatu itu.
Azila mengambil HP-nya, berniat menelepon Azela untuk meminta bantuan.
"Hallo?" jawab Azela.
Azila menahan tangisnya yang hendak keluar, tetapi tak bisa. Ia pun terisak.
"Kenapa, Zila? Kok lo nangis?"
"Azel ... hiks, sepatu gue ketinggalan," lirih Azila.
"Sepatu apaan?"
"Sepatu Hip Hop buat ngedance, pa--padahal itu sengaja baru gue beli buat tampil, ta--tapi ketinggalan."
"Terus sekarang gimana?"
"Nggak tahu, keknya gue nggak jadi tampil."
"Lo jangan nangis, gue cari cara," ucap Azela yang membuat Azila mengangguk dan lebih tenang.
Telepon dimatikan. Azila pun ditenangkan oleh Ria.
***
"Kenapa, Zel?" tanya Reyhan. Azela menghela napas pelan.
"Sepatu Azila ketinggalan," jawab Azela. Gadis itu menatap alroji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jika ia jemput ke rumah tidak akan cukup waktunya. Azela harus mencari cara lain. Ia lantas bangkit, masalah tidak akan selesai jika ia masih duduk diam di sana.
"Eh, mau ke mana, Zel?" teriak Reyhan mengejar Azela yang sudah melangkah pergi.
Mata Azela tak sengaja menatap sepatu seseorang yang persis dengan sepatu dimaksud oleh Azila. Gadis itu pun menatap siapa pemilik sepatu itu. Seorang cowok memakai masker dan kacamata hitam, serta memakai topi. Ah, sepertinya Azela memiliki ide. Gadis itu memakai kacamata hitam yang daritadi bertengger di kepalanya. Setidaknya, dengan kacamata ini, ia tak akan terlalu dikenali.
Ia lalu menghampiri cowok itu. Azela berdeham pelan. "Maaf, Mas. Ada yang bisa dibantu?" tanya Azela.
"Toilet di mana ya, Bu?" tanya cowok itu tanpa menatap Azela. Ia hanya menunduk. Mata Azela melebar, yang benar saja ia dipanggil ibu, bukankah Azela masih terlihat muda?
Lagipula ia memakai jeans, kaos dilapisi jaket. Rambut dikepang dan sedang memakan permen karet. Tidak seperti Ibu-ibu, kan?
"Hekhem, Kakek mau ke toilet, kan? Mari saya antar, Kek," ucap Azela menekan kata 'kakek' seolah menyindir cowok itu. Walaupun dia tampak muda, yang penting Azela membalasnya, karena sudah memanggil dirinya ibu duluan.
"Baik, thanks."
"Mari," ucap Azela menyuruh cowok itu mengikutinya.
Azela pun berjalan menunjukan toilet. Saat akan memasuki toilet cowok. Azela menghalangi langkah cowok itu.
"Eits, tunggu dulu ya, Kakek. Di sini peraturannya, tidak boleh memakai sepatu kalau masuk ke toilet. Jadi, dimohon buka sepatunya dulu, Kek," ujar Azela sangat santai, seolah-olah yang dikatakan emang benar adanya.
"Oh, ya? Masa?"
"Iya, Kek. Kalau Kakek tidak percaya, bisa nanti tanyakan pada pemilik sekolah ini," ucap Azela yang sudah malas berbasa-basi.
Cowok itu mengikuti saja, ia pun membuka sepatunya.
"Nah, gitu, Kek. Silakan masuk," ujar Azela.
"Terima kasih, Nenek," ucap cowok itu pula membalas.
Azela mendengkus pelan. Setelah cowok itu masuk, Azela pun melarikan sepatunya. Ia pun langsung berlari pergi dari sana.
"Yess!" teriak Azela. Ia pun kembali menghampiri Azila. Tak peduli bagaimana nasib cowok di toilet tadi.
***
Mata Azila berbinar. Akhirnya, ia bisa bernapas lega. Azila pun menghambur memeluk Azela.
"Makasih, Azel!"
"Iya."
Azila pun segera memakai sepatunya.
"Zel, sst, woi. Dapat dari mana lo, tuh, sepatu? Tadi gue kejar lo nggak ketemu, lo ke mana aja?" tanya Reyhan berbisik pelan. Ia tadi memang mengejar Azela. Namun, karena kehilangan jejak, ia pun memilih berdiri di luar ruangan Azila saja.
"Ssst, diam aja."
"Azel, dua menit lagi. Huaa ... doain, ya, semoga lancar," ucap Azila sudah tak sabar.
"Iya. Semangat!"
"Terima kasih, Azel."
Beberapa saat kemudian, nama grup band Azila pun dipanggil oleh MC. Azila dan teman-temannya pun segera menaiki panggung.
Di lain tempat, tepatnya di toilet. Cowok yang tadi, sudah kehilangan sepatunya. Ia sangat bodoh, mudah sekali tertipu. Lihat saja, jika ia bertemu lagi dengan cewek yang sudah mencuri sepatunya itu.
"Aduh, ternyata lo di sini, Bro! Gue cariin daritadi juga," ucap Deni.
"Sepatu gue hilang."
"Hah? Kok bisa hilang?"
"Udahlah, lo bantuin gue cari aja!" Cowok itu pun mengajak temannya pergi dari situ.
***
Riuh tepuk tangan penonton pun menyambut. Mereka memulai dance dengan Azila yang berjalan ke depan, diikuti oleh teman-temannya di belakang.
Mereka menggerakkan badan ke kanan dan kiri, juga melompat sedikit mengikuti musik.
Dance yang mereka tampilkan pun dinikmati penonton.
Tak sengaja cowok—yang kehilangan sepatunya tadi—berjalan melewati panggung. Orang-orang sangat ramai di depannya menonton pertunjukan dance di atas panggung.
"Lo tertarik nonton, Bro?" tanya Deni.
"Nggak." Namun, mata cowok itu tak sengaja menatap sepatunya yang sedang dipakai oleh seorang gadis yang sedang tampil di atas sana.
"Sepatu gue!" ucap cowok itu. Wajah cewek yang sedang memakai sepatunya itu tak tampak jelas, tetapi sepatu yant dipakainya tampak sangat jelas dan ia tak akan salah lihat.
"Hah? Sepatu lo, gimana?"
"Gue harus ke sana," ucapnya langsung berjalan menuju panggung. Cowok itu pun menerobos saja orang-orang di depannya meminta jalan.
"Aduh, gila, tuh, orang," ucap Deni, karena temannya itu tak kenal tempat.
Setelah sampai di depan panggung, cowok itu pun berteriak meminta sepatunya, tetapi tentu saja tidak terdengar oleh Azila.
Penonton yang melihat cowok itu tak memakai sepatu pun menertawakan.
Merasa kepalanya semakin membesar, karena kakinya tanpa alas. Cowok itu pun nekad menaiki panggung yang membuat penonton melongo.
Cowok itu menarik Azila yang masih asyik berdance tak memedulikan. Namun, karena tarikan cowok itu yang begitu kencang, membuat Azila jadi kehilangan keseimbangan. Ia pun terdorong dan hampir tersungkur ke depan, untung saja gerakan cepat refleks cowok itu langsung menahan badan Azila.
Mata Azila masih terpejam, karena takut jika ia benar-benar akan terjatuh. Namun, karena tak merasakan apa-apa, ia pun membuka mata pelan-pelan. Saat matanya terbuka, yang ia lihat adalah seseorang yang memakai masker, kacamata, dan topi.
Cowok itu terdiam saat mengetahui siapa gadis di hadapannya. Ia bukannya ....
"Azila?" tanya cowok itu membuat Azila terkejut.
Azila segera bangkit, melepaskan pegangan cowok itu darinya. Hancur! Hancur sudah penampilannya karena cowok aneh yang tiba-tiba naik ke panggung ini.
Penonton pun hanya diam, menonton pertunjukan yang terlihat gagal itu.
"Lo siapa, ha? Ganggu aja tau, nggak!" kesal Azila.
Melihat Azila yang tampak marah padanya, cowok itu pun perlahan membuka topinya, lalu membuka kacamata. Kening Azila mengkerut, kenapa cowok itu malah ....
Akhirnya, cowok itu pun membuka maskernya. Mata Azila melotot sempurna. Ia pun langsung menutup mulut, menahan teriakan yang akan keluar.
Cowok itu pun menghadap ke arah penonton, setelah mencampakkan masker, topi, dan kacamatanya. Penonton yang mengetahui siapa dirinya langsung berteriak histeris.
"FATAAAN!" teriak mereka kompak.
Ya. Cowok yang sejak tadi menyamar itu adalah Fatan Alvino. Seorang artis terkenal yang sedang naik daun sekarang.
Azila masih tak menyangka. Ia dipertemukan dengan Fatan untuk kedua kalinya.
Fatan kembali menghadap Azila. Menutupi keterkejutan gadis itu, Fatan pun mengajak Azila untuk berdansa bersama.
Melihat itu, teman-teman Azila pun histeris, karena tak kuat melihat sahabat mereka diajak berdansa oleh seorang Fatan.
Azila pun mengikuti saja. Musik klasik pun dibunyikan, menyesuaikan dengan dansa mereka.
Hanya dansa singkat dengan dua kali putaran. Setelah itu, Fatan membungkukkan badan.
Momen itu sama sekali tak terduga oleh Azila. Walaupun hanya singkat, tetapi sangat berarti bagi Azila.
Sedangkan Azela, ia menepuk dahi pelan. Ternyata sepatu yang telah dicurinya milik Fatan—idola Azila.
"Bodo amat, dah. Kan ada hikmahnya juga," ucap Azela santai.
***