Kejadian di panggung itu membuat Azila sangat bahagia. Ia tak berhenti membicarakan tentang hal itu pada teman-temannya, walaupun diulang-ulang.
Telinga Azela terasa semakin panas, karena mendengarkan celotehan Azila.
"Abis itu, Kak Fatan malah minta nomor WA gue. Gimana gue nggak terbang coba."
"Iya-iya, Zila. Udah, ya, gue mau makan dulu."
"Ish, Azel! Gue belum selesai ngomong."
"Lanjut nanti aja."
Azela membawa nasi kotaknya ke kelas, karena memang waktunya istirahat.
Azela duduk bersama kedua sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Agil dan Reyhan.
"Nanti malam, lo ke sini lagi, Zel?" tanya Agil.
Azela mengangkat bahunya pelan. "Nggak tau. Lihat nanti aja."
"Kalau gue sama Reyhan datang, Zel. Kapan lagi, kan, ada Acara Promnight di sekolah kita."
"Bener, tuh. Gue, sih, bakal senang-senang entar malam, daripada rebahan aja di kamar. Ayolah, Zel. Nggak ada ruginya juga kok lo ikutan, entar bareng kita aja," ajak Reyhan pula.
"Tapi, kan, ini acara prom, Woi. Males banget gue pakai gaun," bantah Azela.
"Loh, emangnya harus pakai gaun?"
"Lo nggak lihat undangan? Cowok wajib pakai jas, cewek pakai gaun. Malas, ah, gue."
Azela memakan kerupuk, mengangkat sebelah kakinya sambil makan.
"Zel, lo makan kagak ada anggun-anggunnya, ya. Tuh kaki turunin, kayak laki ya, lo."
"Bodo amat."
"Jadi, gimana? Lo ikut, nggak?" tanya Agil mengulang.
"Nggak," jawab Azela.
"Ikut ajalah, Zel. Kapan lagi gue ngeliat lo pakai gaun, biar kayak cewek, kan," bujuk Agil.
"Nggak mau."
Agil menatap Reyhan, lalu mereka mendengkus pelan. Sebenarnya Azila-lah yang menyuruh kedua sahabat Azela itu membujuk Azela agar mau datang ke acara nanti malam. Namun, ternyata mereka gagal.
***
Setelah sampai di rumah. Azela dan Azila duduk di ruang tamu, seperti biasanya setelah pulang sekolah.
"Zel, lihat, deh. Kak Fatan nge-WA gue terus."
Azela hanya mengangguk pelan. Sejak tadi Azila sibuk dengan ponselnya.
"Lo nggak mau balas WA Hannan, atau gimana? Dia sampai nge-chat gue, loh, nanyain lo," ucap Azela.
Azila menoleh ke arah Azela. "Hah? Emangnya Hannan nge-chat gue?" Azila segera membuka beranda chatt WA-nya. Ternyata memang benar, ada pesan Hannan yang belum dibacanya.
Azela menghela napas. "Fatan aja terus, sampai nggak lihat orang yang ada di depan lo."
Azila mengabaikan ucapan kembarannya itu. Ia pun segera membuka pesan Hannan. Ada tujuh pesan yang belum terbaca.
|| Hannan ||
[Azila. Lo di mana?]
[Zila, bisa ketemu sebentar?]
[Zil, nanti malam jadi, kan?]
[Azila. Lo baik-baik aja, kan?]
[Zil?]
[Zila?]
[Azila Fathia?]
Azila memukul dahinya pelan. Ia sampai melupakan Hannan. Mereka, kan, sudah berjanji untuk nanti malam.
Tak lama kemudian, HP Azila berdering. Hannan meneleponnya. Segera gadis itu mengangkat.
"Halo?" jawab Azila.
"Lo ke mana aja, Zil?"
"Eum ... sor--sorry, Nan. Ta--tadi nggak ngecek HP. Ada apa?"
"Gue cuma mau mastiin. Nanti malam lo mau jadi pasangan gue, kan?" tanya Hannan.
"Emm ...." Azila menatap Azela, meminta pendapat. Ia tahu, Azela pasti tahu maksudnya.
"Udah, iya-in aja, sih," suruh Azela.
"Eum ... mau, kok, Nan. Jumpa di sekolah, ya."
"Huft, oke. Gue tunggu nanti malam di gerbang."
"Oke ...."
Telepon pun terputus. Entah kenapa Azila malah tidak antusias. Ia berharap nanti malam bisa datang berpasangan dengan Fatan. Namun, sepertinya khayalan Azila terlalu jauh. Tipis sekali harapan jika Fatan datang lagi, karena tadi siang ia sudah meluangkan waktu untuk datang. Azila tahu, jika Fatan sangat sibuk syuting.
"Kenapa? Kok muka lo jadi kusut gitu?" tanya Azela.
"Kak Fatan pasti nanti nggak datang, kan?"
"Nggaklah. Dia pasti sibuk. Udah, lo bersenang-senang aja sama si Hannan," ucap Azela.
"Gue boleh minta satu permintaan, nggak?" tanya Azila dengan tatapan memelas.
"Apaan?"
"Lo jadi ikut, kan, nanti malam? Ya, kan?"
"Keknya nggak jadi, deh. Pertama ... gue nggak suka acara-acara gituan. Kedua, gue nggak punya gaun. Ketiga, gue kagak punya pasangan. Jadi banyak banget kekurangan gue."
Mendengar ucapan Azela. Azila langsung bangkit dan menarik tangan kembarannya itu, mengajak ke kamarnya.
Azela menurut saja. Setelah sampai di kamar Azila. Gadis itu duduk di atas ranjang. Sedangkan Azila sedang membuka lemarinya.
"Azel nggak punya gaun? Semua gaun gue ini bisa lo ambil aja. Silakan," ucap Azila mengeluarkan gaun-gaunnya dan meletakkan di atas ranjang.
"Eh, eh, jangan dikeluarin semua."
"Nggak pa-pa, Azel. Biar lo bisa milih, nih."
"Ya udah. Segini aja," ucap Azela.
Azila pun menghentikan aksinya. "Oke. Sekarang Azel pilih, atau mau gue pilihin?"
"Tapi, emang guenya yang nggak mau pergi, Zila."
"Nggak terima penolakan. Pokoknya Azel harus ikut, kalau nggak ... gue mogok makan."
"Loh, kok, gitu ancamannya?"
"Ya, gimana. Emang Azel tega lihat gue kelaparan?"
Azela akhirnya mengembuskan napas. "Oke-oke. Gue bakal pergi nanti malam."
"Yey!" Azila pun segera menghambur ke pelukan Azela.
Gadis tomboi itu tersenyum pelan. Membuat Azila bahagia adalah tugasnya. Ia tak akan membiarkan satu tetes air mata kesedihan pun jatuh.
Azila melepaskan pelukannya, tatapannya beralih menatap gaunnya yang sudah berantakan.
"Jadi, Azel mau makai yang mana?"
"Terserah aja. Gue nggak mau yang ribet."
Azila pun memilihkan gaun yang ia rasa paling cocok untuk Azela. Mata Azila tertuju pada gaun bewarna merah maroon.
"Kayaknya ini cocok, deh, untuk Azel," ucap Azila mendekatkan gaun itu ke badan Azela.
"Ya udah, oke." Azela menerima saja, karena tak ingin banyak persoalan mengenai gaun.
"Nanti siap salat isya, Azel ke kamar gue, ya."
"Ngapain?"
"Udah, pokoknya setelah Azel siap pakai gaunnya, nanti ke kamar Zila aja."
"Hm, ya."
***
Fatan baru bisa bernapas lega, setelah selesai syuting hari ini. Ia akhirnya bisa pulang dan tidur di rumah malam ini.
Setelah selesai membersihkan badannya, Fatan pun berbaring di kasurnya. Ia mengecek HP dan ternyata ada pesan dari Azila.
Saat Fatan ingin membalas, tiba-tiba ada panggilan masuk. Buru-buru Fatan mengangkatnya.
"Halo, kenapa, Den?"
"To the point banget, Bro. Lo lagi sibuk, ya?"
"Nggak, kok, baru pulang gue. Alhamdulillah scene gue nggak terlalu banyak hari ini."
"Oh, syukur, deh. Gue mau ngajakin lo lagi, nih, ke SMA Mandiri Bangsa sekarang. Bisa, kan?"
"Adek kelas mana lagi yang lo incar, Den? Ketagihan banget ke sana."
"Ada, lah. Lo bisa, kan? Yuklah, have fun, Bro!"
"Nggak, deh. Gue mau istirahat, capek. Tadi, kan, udah ke sana."
"Yah, Brader! Come on! Lo butuh hiburan, Bro!"
Fatan tetap tidak mau. Ia ingin tidur cepat malam ini.
"Lo, kan, bisa ketemu lagi, tuh, sama cewek yang di atas panggung." Ucapan Deni malah membuat pikiran Fatan tertuju pada Azila—gadis impiannya itu.
"Kapan-kapan, deh. Udah, ya. Gue ngantuk, bye."
Fatan mematikan telepon sepihak. Ia pun memejamkan mata. Namun, wajah Azila terus menghantuinya. Fatan menikmati kehaluan yang tergambar sendiri di otaknya. Tiba-tiba wajah cewek yang mencuri sepatunya tadi juga ikut terbayang oleh Fatan. Buru-buru cowok itu tersentak.
"Ah, masa gue juga haluin si maling tukang tipu itu, sih!"
***
Seperti perintah Azila tadi sore. Setelah selesai memakai gaun, Azela pun masuk ke kamar Azila. Tampak kembarannya itu sudah siap dan sedang memakai lipsticknya.
"Wah, Azel, udah siap." Azila segera menoleh ke arah kembarannya itu.
Gaun dengan panjang selutut, tanpa lengan, itu sangat indah melekat di tubuh Azela. Apalagi mutiara yang mengukir gaun itu tampak berkilau.
Akan tetapi, yang membuat Azila mendengkus adalah ... Azela memakai sepatu sport, rambut dikepang satu, tas punggung. Sangat tidak maching!
Belum lagi muka Azela yang polos tampak pucat, karena tidak memakai bedak.
"Azel, lepas sepatu dan tasnya, habis itu duduk di sini!" suruh Azila tegas.
"Kenapa? Gue udah siap ini."
"Duh, Azel. Udah, deh. Nurut aja!" tegas Azila garang.
Azela pun menuruti aja apa kata kembarannya itu. Ia duduk di depan cermin. Azila pun mulai mengotak-atik alat make up-nya.
"Loh, gue mau di-apain, nih?" tanya Azela.
"Azel, diam!" suruh Azila dingin. Aura Azila kenapa berubah menjadi menyeramkan? pikir Azela.
Azila mulai memoleskan foundation, meratakan, dan melampisi dengan alas bedak. Perubahan wajah Azela tampak jelas. Azila pun tersenyum, kembarannya itu sangat cantik, bahkan lebih cantik daripadanya. Ya, Azila mengakui itu, hanya saja Azela tak mau berdandan.
Selanjutnya, Azila memakaikan bedak. Tidak terlalu tebal, ia membuat senaturalnya saja. Setelah itu, Azila juga menambahkan eyeshadow bewarna gelap dan senada dengan gaun Azela. Tak lupa menancapkan blush on. Azila mengukir alis, dan memasangkan bulu mata palsu—walaupun Azela sempat menolak. Terakhir, Azila memakaikan lip balm, berwarna pink alami.
"AAA!" pekik Azila yang membuat Azela terkejut.
"Kenapa-kenapa? Gue jelek, ya? Kayak Mbak kunti."
"Azel!!! Lo cantik banget. Aaa, nggak nyangka. Pangling banget gue!" teriak Azila histeris. Azela mendengkus pelan.
"Nggak, ah, biasa aja," ucap Azela menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Bentar, Zel. Satu lagi, lo harus pakai softlen, ya."
"Nggak-nggak. Buat, apaan? Mata gue udah bagus, kagak usah."
"Ih, nggak pa-pa, Azel. Biar matanya makin cetar."
Azila pun memasangkan softlens itu ke mata Azela dengan hati-hati. Sekarang mata Azela tampak lebih menarik.
"Oke, udah, kan?" tanya Azela yang sudah merasa tak nyaman.
"Eits ... rambutnya juga, dong. Bentar ... di-apain, ya, bagusnya."
"Gue nggak mau digerai, ya. Gerah," ucap Azela.
"Iya."
Azila akhirnya menyanggul rambut Azela ke atas ala korea, lalu menyisakan beberapa rambut untuk di sisi kanan dan kiri pipinya. Tampak sangat anggun.
"Sumpah, lo bikin pangling malam ini, Azel! Ma sya Allah," puji Azila yang membuat Azela kembali mendengkus.
"Oke, tinggal high heels." Azila pun menuju lemari high heels-nya, mengambil yang warna hitam pekat dan mengkilap.
"Tapi gue nggak bisa pakai ini, Zila."
"Coba aja dulu, Azel. Ini hak-nya nggak tinggi banget, kok."
Azela pun mencoba memakainya. Ia harus hati-hati melangkah, karena Azela tak terbiasa.
"Oke. Kita selfie dulu," ucap Azila.
"Ribet banget, serius," kesal Azela.
Mereka pun mengambil beberapa foto selfie.
Azila juga sangat cantik. Ia memakai gaun selutut bewarna biru. Tanpa lengan juga. Rambut yang digerai dan memakai make up natural seperti yang ia pakaikan pada Azila. Saat ini kemiripan mereka sembilan puluh lima persen. Walaupun Azela tampak lebih cantik.
"Oke. Siap! Gass!"
***
Azila dan Azela diantarkan dengan mobil yang disupiri Pak Patman. Saat mobil mereka masuk ke perkarangan sekolah. Semua pasang mata tertuju pada mobil mereka. Oh, tidak, sepertinya mereka datang terlambat, makanya jadi pusat perhatian.
Pintu mobil pun dibukakan oleh Pak Patman.
Hannan yang sudah menunggu, yakin itu adalah Azila yang datang segera menghampiri mobil itu. Tungkai kaki Azila pun pertama keluar. Hannan pun mengulurkan tangannya, Azila menerima uluran tangan itu.
Ia pun keluar dari mobil dan langsung digandeng oleh Hannan. Tak salah jika mereka menjadi pusat perhatian.
Hannan—Siswa pintar, berbakat, dan berprestasi—menggandeng Azila yang tampak sangat cantik, juga merupakan siswi paling pintar di sekolah.
Namun, saat tungkai seseorang yang kembali turun dari mobil kembali menyita perhatian semua orang.
Azela turun dari mobil dengan anggunnya membuat semua mata orang yang melihatnya berdecak kagum. Seperti kembarannya Azila, tapi bukanlah seperti Azela. Eh, tapi memang Azela kembaran Azila. Lalu ... sebenarnya siapa gadis itu?
"Azela, ayo!" teriak Azila. Hampir saja ia melupakan kembarannya itu.
"HAH, Azela?" teriak Agil dan Reyhan kaget. Bukan mereka saja yang terkejut, tetapi siswa yang lain—mengetahui jika gadis itu adalah Azela membuat mereka tak menyangka dan sulit dipercaya.
***