Azela menatap aneh ke arah Agil dan Reyhan yang tak berhenti menatapnya sejak tadi.
"Apaan, sih," kesal Azela.
"Gil, gue nggak mimpi, kan? Coba cubit gue, dong," suruh Reyhan, dengan polosnya Agil pun mencubit tangan Reyhan dengan keras.
"Aduh, kenapa lo cubit gue, sih!" ringis Reyhan. Azela yang melihat itu terkekeh pelan.
"Lah, lo yang nyuruh juga."
"Zal," panggil Reyhan.
"Apa?"
"Kok lo jadi cantik gini, sih? Sejak kapan lo bisa dandan gini?"
Azela pun jadi risih, karena dipuji sejak tadi. Padahal baginya, ia biasa saja.
"Ah, apa, sih, lo. Nggak usah sok muji-muji gue, deh. Lagian ini Azila yang dandanin gue gini."
"Oh, Azila. Pantas cantiknya nular."
"Udah, ah. Langsung ke sana aja, gue udah terlalu risih ini diliatin mulu daritadi," ucap Azela, karena teman-temannya banyak menatap Azela daritadi. Seperti tidak pernah menatap cewek cantik saja.
"Eh, tapi, Zel. Pasangan lo siapa? Gue entar sama Laura," ucap Reyhan.
Azela menoleh menatap Agil, seolah menanyakan pria itu bersama siapa.
"Gue sama Cantika, Zel. Dia yang ngajakin gue, ya udah gue terima. Gue pikir lo nggak jadi ke sini."
Azela menghela napas pelan. Jika kedua sahabatnya memiliki pasangan malam ini, sudah tentu ia sendiri saja, karena teman Azela hanya Agil dan Reyhan, bahkan teman cewek pun tak ada yang mau mendekat padanya, karena Azela yang terkenal dengan tatapan tajam dan muka juteknya, serta gayanya yang seperti cowok.
"Ya udahlah, gue sendiri aja. Lagian gue juga nggak niat sebenarnya datang."
"Oke. Gue duluan, ya, Laura udah nungguin, tuh," ucap Reyhan yang diangguki oleh Azela.
"Gue juga, Zel." Agil menepuk bahu Azela pelan, lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
Azela memilih sedikit menjauh dan mencari tempat yang sepi. Orang-orang terlalu ramai berlalu lalang. Perlu diingat, Azela tak suka keramaian. Lebih baik ia duduk di sini saja, tempat sepi memang selalu menjadi pilihan Azela.
"Kasian, ya, ada orang yang sok cantik datang ke acara, tapi nggak ada pasangan. Cih, kalau gue, sih, mending pulang, ya," ucap sebuah suara yang mulai mengusik ketenangan Azela.
"Tapi, Re, kan, aku juga nggak ada pasangan. Berarti lebih baik aku pulang juga, ya?" ucap Fina dengan polosnya, yang membuat Reha menepuk dahinya.
"Duh, Pinaaa! Diam aja, ssstt!"
"Oh, i-iya, oke, Re."
Reha pun kembali menoleh ke arah Azela yang menjadi bahan cibirannya malam ini. Namun, gadis tomboi yang menarik perhatian semua orang itu sudah tidak ada lagi di situ. Ah, Reha kembali kehilangan jejak.
"Tuh, kan, gara-gara lo, Pinaaa!" kesal Reha.
***
Azela memilih berjalan-jalan di sekitar lapangan. Acara belum dimulai, pentas masih tampak kosong, hanya ada musik yang memekakkan telinga—menambah suasana.
Azila dan Hannan sudah tak terlihat lagi, karena ramainya orang memenuhi tempat.
Azela menatap bangku kosong di pojok yang dianggurkan. Sejak tadi bangku itu tak diduduki siapa pun. Azela memilih untuk duduk saja di sana, karena lumayan sepi—ia tak akan merasa terganggu.
Tak lama kemudian suara MC di atas panggung sana terdengar. Orang-orang pun berbondong-bondong menuju ke sana, kecuali Azela tentunya yang masih tetap diam duduk di bangku itu.
Azila langsung menarik tangan Hannan untuk mendekat ke arah pentas, agar bisa melihat lebih jelas. Pria tampan itu pun mengikuti saja. Sejak tadi tangannya tak lepas dari rangkulan Azila.
"Selamat malam, semua. Apa kabar, Guys?" teriak MC di atas panggung dengan semangat empat lima.
"Baik!" teriak para tamu yang hadir tentunya.
"Jika siang acara orang tua, malam acara kita pula lagi, kan!" ucap sang MC disetujui oleh para tamu.
Tamu yang datang malam ini hanyalah siswa SMA Mandiri Bangsa dari kelas sepuluh sampai dua belas. Namun, alumni juga tidak dipermasalahkan hadir. Acara malam ini memang untuk bersenang-senang. Acara dibuat oleh panitia ekskul dan disetujui kepala sekolah tentunya.
Acara yang memperbolehkan membawa pasangan, atau disebut anti jomlo. Namun, tetap ada batasannya, karena acara ini juga diawasi oleh guru-guru muda, agar siswanya tidak berbuat di luar batas.
Acara juga dibatasi hanya sampai jam dua belas malam.
"Oke, Guys! Langsung saja, ya. Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah yang berkenan hadir, guru-guru muda yang meluangkan kesempatannya sebagai pengawas, dan para panitia yang bertugas membantu rangkaian acara agar berjalan dengan baik."
"Saya Afrianda dan ...." MC laki-laki itu pun memberikan mic-nya ke teman perempuan yang menemaninya menjadi MC malam ini.
"Saya Alfia, akan menemani kalian untuk bersantuy malam ini!"
"Gimana. Udah siap?" teriak Afrianda.
Teriakan siswa SMA Mandiri Bangsa pun terdengar menggelegar. Mereka tentunya sudah tidak sabar.
"Baik, saya akan memberitahukan rangkaian acara kita malam ini. Pertama pembukaan yang sedang berlangsung, kedua ... solosong sebagai penyambutan. Setelah itu barulah penampilan bakat bersama pasangan yang dinanti-nantikan! Nah, pesta inilah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi King and Queen SMA Mandiri Bangsa tahun ini!"
Tepuk tangan dan teriakan kembali terdengar semarak.
"Jadi, siapa nanti yang penampilannya paling keren, akan menjadi pasangan prom night malam ini sebagai King and Queen! Caranya bagaimana? Pertama kalian mendaftarkan diri terlebih dahulu ke panitia, setelah itu akan mendapat nomor antrian. Kita main siapa cepat dia dapat! Karena hanya ada sepuluh pasangan yang bisa ikut. Ingat, Guys! Kita nggak bisa lama-lama, yah ...." Tampak raut kecewa dari MC itu. Namun, senyumnya kembali terbit. "But, gak masalah, Guys! Yang penting kita memanfaatkan waktu dengan baik. Oh, ya. Waktu penampilan hanya sepuluh menit setiap pasangan."
"Oke, setuju?"
"Setuju!"
"Baik! Kita langsung ke acara pertama. Kepada Elsa Fitria dipersilakan," ucap Alfia.
Acara pun dibuka oleh penyanyi andalan SMA Mandiri Bangsa.
Azela hanya diam sambil memainkan HP-nya. Sama sekali tak tertarik dengan rangkaian acara yang diucapkan oleh MC tadi.
"Hei. Kamu kenapa masih di sini? Kenapa tidak ke sana?" tanya sebuah suara. Azela pun menoleh. Ternyata yang menyapanya itu adalah Bu Rini—salah satu guru muda yang menjadi pengawas acara malam ini.
"Nggak, Bu. Saya di sini aja, nungguin saudari saya."
"Oh ya sudah. Nggak pa-pa, kan, kalau Ibu tinggal di sini sendiri? Ibu mau mengawasi di sana."
"Oh, ya, nggak pa-pa, Bu."
Setelah Bu Rini meninggalkannya, Azela kembali sibuk dengan HP-nya. Tiba-tiba ada yang duduk di sampingnya. Gadis itu mendengkus, ternyata duduk di sini tak begitu membuatnya tenang.
"Gila, Zel. Lo kalau dandan makin ... jelek, ya!"
Azela hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Zaki.
"Tadinya gue mau ngajakin lo jadi pasangan gue, tapi ngeliat lo gini, nggak jadi, deh. Cewek aneh kayak lo nggak bisa disebut sebagai cantik."
Zaki berucap seperti itu tak lepas dari tatapannya yang terus menatap muka Azela. Lisannya bisa berdusta, tetapi hatinya tak bisa. Zaki bahkan sangat terpesona dengan kecantikan Azela yang berubah 180 derajat.
Gengsi. Ya, itulah yang dikedepankan oleh Zaki.
"Lo bilang gitu, karena mata lo katarak. Periksa mata dulu sana ke dukun!" balas Azela singkat.
"Ah, udahlah. Lo harus ikut gue ke sana," ujar Zaki menarik tangan Azela. Gadis itu pun menatap Zaki tajam.
"Lepasin nggak tangan gue."
"Nggak. Lo harus ikut gue!" paksa Zaki.
"Gue bawa pisau. Lo masih nggak mau lepasin?" ancam Azela dengan ekspresi datarnya.
Zaki pun akhirnya melepaskan tangan Azela. Ia mengeram kesal, lalu beranjak pergi meninggalkan Azela duduk di sana sendirian.
Dua menit setelah Zaki pergi, tiba-tiba ada seseorang lagi yang duduk di samping Azela. Gadis itu menoleh untuk melihat siapa lagi yang mengganggu ketenangannya. Namun, saat mengetahui siapa orang itu, Azela mengurungkan niatnya. Ia pun kembali memainkan HP. Siapakah orang yang duduk di sebalah Azela?
Kembali pada acara. Azila dan Hannan sudah bersiap-siap untuk mendaftarkan diri.
"Pokoknya kita harus ikut, Hannan!" ucap Azila.
"Iya. Tenang aja, Zila."
Hannan pun langsung berlari menuju panitia untuk mendapatkan nomor antrian yang terbatas. s**l, saingan Hannan ternyata banyak, ia harus lebih mengencangkan lariannya.
"Ayo, Hannan, ayo!" teriak Azila memberikan semangat.
Hannan pun mengencangkan lariannya. Namun, tiba-tiba kaki Hannan tersandung oleh pijakan sepatunya sendiri. Cowok itu pun terjatuh. Orang-orang berlari di belakangnya pun, kini mendahului Hannan.
"Aduh, Hannan. Ayo! Bangkit, Nan!" teriak Azila lebih keras lagi. Hannan pun kembali berdiri dan melanjutkan lariannya.
"Kalau dapat nomor antriannya, kita jadian!" teriak Azila yang tak sengaja diucapkannya. Mendengar itu, tiba-tiba kekuatan berlarinya Hannan full kembali. Ia berlari secepat kilat dengan semangat yang menggebu-gebu, mendahului orang-orang di depannya.
Azila memukul mulutnya pelan, karena tak berpikir sebelum berucap. Namun, Azila tak boleh menyesali ucapannya. Bukankah Azila juga pernah suka dengan Hannan, bukan?
Apakah Hannan bisa mendapatkan nomor antrian itu? Lalu, kira-kira siapa yang duduk di samping Azela tadi?
***