Undangan

1014 Kata
Ternyata pemilik suara itu adalah Azela. Gadis itu berdiri sambil bersandar di depan pintu. Devi menghela napas lega, mengetahui jika itu adalah Azela, bukan Reyhan. "Bukannya yang PDKT Reyhan, ya? Kenapa lo malah demennya sama Agil?" tanya Azela sambil mengunyah permen karetnya. "Hm, anu ...." "Azel ... masalah hati, tuh, nggak bisa ditentuin," ujar Azila menasehati. "Ya, gue gak paham, sih," ucap Azela jujur tak tahu konsepnya bagaimana. "Udah selesai, nih, pu--pulang, yuk!" ajak Devi, mencoba mengalihkan topik. "Ayo! Gue udah lapar, nih," ucap Azila. Mereka pun merapatkan pintu kelas, lalu berjalan ke gerbang sekolah. Ponsel Azela berdering tanda ada pesan masuk. Melihat nama pengirim pesan membuat Azela berdecak. Sudah lama orang itu tak menghubunginya. Kenapa sekarang menghubunginya lagi? Padahal hidup Azela sudah tenang tanpa kehadiran pesan orang itu. || Saya ingin ketemu kamu.|| Azela berdecih pelan. "Dih, kangen gue kayaknya, nih, Mak Lampir," ucapnya. "Azela, kenapa?" tanya Azila. "Ng--nggak ada, kok." Buru-buru Azela menyimpan kembali HP-nya. Jangan sampai Azila melihat pesan itu. "Tuh, Pak Patman udah datang." Mobil menjemput mereka pun memasuki perkarangan sekolah. Buru-buru mereka masuk. Pertama, supir pribadi Azila dan Azela mengantarkan Devi dahulu ke rumahnya. *** Pesan kembali masuk ke HP Azela saat gadis itu sudah sampai rumah. Azela langsung membacanya. || Restoran Jepang dekat termina. Jam 17.00 WIB. Saya tunggu.|| Azela menghela napas gusar. Ia pun membalas. { Kangen gue, ya? Segitunya pengen ketemuan.} Dengan cepat pesan balasan kembali masuk ke HP Azela. || Gak usah Kepedean kamu. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.|| {Y} Hanya itu yang dibalas oleh Azela. Gadis itu pun melemparkan HP-nya ke atas kasur. "Cih, hal penting? Selama ini dia cuma bahas hal yang gak penting," ucap Azela, merebahkan badannya ke kasur. Entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan Fatan, yang membuat Azela langsung bergidik sendiri. "Dih, ngapain gue ingat si Kak Fatannya Azila itu!" kesal Azela mengusap wajahnya gusar. "Dahlah, makin ngawur, deh," ucap Azela memilih bangkit saja. Lebih baik ia mandi saja. Badannya terasa gerah. *** Pukul 17.05. Azela berdecak sebal. Siapa yang tidak on time, jika begini? Untung Azela membiasakan budaya tepat waktu. "Sorry, tadi macet." "Lagi-lagi alasan klasik," komentar Azela "Ya saya emang nggak bisa tepat waktu." "Lain kali harus disiplin waktu, dong." "Iya." Orang yang mengajak Azela bertemu sore ini tak lain dan tak bukan adalah Tiwi—istri baru ayah kandung Azela. Ya, belakangan ini Tiwi tak muncul dan sekarang malah muncul lagi. "Langsung saja, ya, saya gak bisa lama-lama soalnya." "Hm. Gue juga gak mau lama-lama natap muka Mak Lampir," ucap Azela tanpa dosa. Tiwi membuka tasnya, mengeluarkan sebuah undangan dan menyodorkan langsung ke arah Azela. "Nih, ini ada undangan Acara Ulang Tahun Perusahaan Firqo. Kalau kamu mau ketemu dengan Ayah kamu. Silakan datang. Saya baik, kan? Saya sendiri, loh, yang mempersilakan kamu ketemu suami saya." Dahi Azela mengkerut heran. Ada yang aneh. Selama ini Azela selalu mencari keberadaan ayahnya itu selalu dihalangi oleh Tiwi. Namun, sekarang mengapa Tiwi sendiri yang memberikannya jalan untuk bertemu dengan ayahnya? Pasti ada maksud lain. Tak bisa dipercaya memang. "Gak, deh, malas," ucap Azela. "Serius, kamu nggak mau ketemu ayah kamu? Padahal Ayah kamu pengen banget ketemu kamu, tuh." "Masa? Kalau benar, kenapa nggak nyari gue?" "Ya--kan, Ayah kamu sibuk." "Anda pasti ada rencana lain, kan? Nyuruh gue dateng?" "Duh, kamu ini masih aja gak mau mengakui kebaikan saya. Datang saja kalau tidak percaya. Saya tidak ngapa-ngapain, kok. Saya hanya membuka jalan untuk kamu agar bisa ketemu dengan suami saya." Azela mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Berpikir sebentar. "Gue pikirkan dulu, mau datang atau nggak," ucap Azela mengambil undangan itu. "Ya, terserah kamu juga, sih, kalau mau datang atau nggak, yang penting, mah, saya sudah berbaik hati." "Anda baik hati? Emangnya iblis ada yang baik, ya?" "Diam ya kamu, mood saya sedang baik. Jangan dirusak, dong!" Azela memutar bola matanya malas. "Udahlah, karena urusan saya sudah selesai. Saya pergi dulu. Jangan lupa datang ya, Anak mental kapas." Azela tersenyum kecil. "Mental kapas, ya?" Sepertinya tidak ada orang yang bermental sekuat Azela. "Oke, gue akan datang. Itu pun kalau niat, sih," ucap Azela memandangi undangan tersebut. "Baiknya gimana, ya? Gue emang gak percaya sih si Tiwi berbaik hati. Dia pasti ada maksud lain." Bukannya Azela suudzon. Akan tetapi, memang begitulah kenyataannya. Selama ini Tiwi selalu mengganggunya, menekannya, membuat mentalnya hancur. Walaupun usaha Tiwi sia-sia, karena mental Azela sudah sekeras baja, siapa dulu yang melatihnya. Harusnya Azela sungkem dulu, nih, berterima kasih pada Kakek Raman. "Makin banyak melamun gue," ucap Azela terkekeh pelan. Ia menyeruput minumannya, sampai habis setelah itu Azela bangkit, untuk pulang. *** Azila sangat senang, karena Devi datang lagi ke rumahnya. Devi mengatakan jika orang tuanya ke luar kota ada acara Jadi, daripada sendirian di rumah. Lebih baik Devi menginap saja di rumah Azila. Bukannya keberatan, Azila malah menyambut kedatangan Devi dengan senang hati. "Kita masak-masak lagi, yuk!" ajak Azila. Ia tadi sudah menonton beberapa video yang membahas resep makanan. Beberapa sudah Azila catat juga. Yang pasti ia tak ingin kuenya gagal lagi seperti waktu itu. Azila harus bisa membuat kue! "Btw, entar malal Hannan mau ke sini. Nah, gue mau buatin kue, nih, jadi ayo masak bareng!" "Kalau entar gak enak lagi gimana?" tanya Devi merasa tak enak. Jangan-jangan kemarin ulahnya kue itu gagal. "Kalau gagal tinggal coba lagi, kan?" "Iya, sih. Ya udah ayo!" "Kuy! Bantuin gue keluarin bahan-bahannya dulu, ya." "Oke!" Mereka pun langsung bergegas ke dapur, untuk memasak kue lagi. Sebelum berhasil, Azila tak akan menyerah. Mau diulang beberapa kali pun, ia akan terus mencoba. Sikap pantang menyerah sudah melekat pada Azila. Azela yang baru pulang, langsung melangkah ke dapur. "Mau masak kue lagi?" tanya Azela. "Eh, Azel. Iya, nih, tapi nanti Azel nilainya jujur aja, ya. Jangan gak enak dibilang enak juga! Kan kami besar kepala, padahal kenyataannya nggak gitu." Azela tertawa pelan. "Berjuang, dong, supaya kuenya enak." "Iya, nanti Azel yang nyicip pertama ya." "Oke-oke." "Makasih, Azel." Azela hanya mengangguk, lalu melangkah meninggalkan dapur. Ia akan segera ke kamar. Tangannya mengeluarkan undangan di balik jaketnya. "Kau Tiwi punya rencana, gue juga buat rencana," ucap Azela tersenyum sinis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN