Azila sangat bersemangat benar-benar ingin mengikuti casting dari brosur Azela tersebut. Ia setiap hari sudah mulai berlatih.
Azila berlatih terkadang di depan kaca, atau di depan Azela, sekalian meminta pendapat kembarannya itu.
"Azel, gimana? Penampilan gue udah oke, belum? Ekspresi gue jelas, nggak? Akting gue natural, nggak?" Itulah pertanyaan-pertanyaan Azila dalam tiga hari ini dan selalu dijawab, "Udah oke, Azila." Oleh Azela.
Azila juga tanpa segan meminta Hannan untuk menjadi partnernya. Seperti sekarang ini. Ia sedang berlatih ditemani oleh Hannan. Azila meminta cowok itu langsung memperagakan dialog yang sudah ia hapal tadi.
"Hannan, udah hapal dialognya, kan?"
"Udah, Zila."
"Oke. Mari kita mulai, ya. Gue jalan dari situ."
"Oke."
Azila lalu berjalan menjauh. "Mulai ya, Hannan!"
"Iya."
Azela lalu berjalan menghampiri Hannan. "Hai," panggil Azila. Saat ini mereka sudah mulai berlatih akting.
"Hm. Halo."
"Boleh duduk di sini, nggak?"
"Boleh."
"Cut! Hannan ... kok langsung bolehin, sih, kan harusnya Hannan bilang gak boleh dulu," ucap Azila.
"Eh, iya. Sorry, gue lupa."
"Hm, oke. Nggak pa-pa. Kita ulang, ya."
"Oke."
Azila pun kembali berjalan dari ujung sana lagi, lalu menghampiri Hanann, menyapa pria itu, lalu ditolak oleh Hannan, Azila pun memelas dan Hannan mempersilakan duduk.
"Oke, sip! Scene pertemuannya sukses!" teriak Azila girang. Azila lalu bertos ria dengan Hannan.
"Makasih udah bantuin, Hannan."
"Iya, Zila."
"Hannan gak mau ikutan casting aja entar?"
"Hm, kayaknya nggak, deh. Bukan hobi gue juga. Lo aja, gak pa-pa."
"Oke, deh. Tapi Hannan bisa akting, loh."
"Dikit," ucap Hannan.
"Eum, ya udah. Yuk, balik ke sekolah," ajak Azila. Saat ini sedang jam istirahat. Tiba-tiba tangan Azila digenggam oleh Hannan.
"Nggak mau latihan lagi?"
"Udah cukup, kok, Hannan."
"Ya udah, berarti gue udah boleh ngomong, kan?"
"Ngomong apa?"
Mata cokelat Hannan memanah netra hitam milik Azila.
"Gue suka sama lo."
Pupil mata Azila membesar. Pipinya pun langsung bersemu merah.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?"
Jantung Azila benar-benar sudah tidak aman. Ia mengkhawatirkan jantungnya copot, karena begitu hebatnya berguncang.
"Gak usah dijawab. Tadi cuma akting, kok," ucap Hannan tersenyum tanpa dosa, membuat Azila segera melepaskan tangannya.
"Dih, apaan, sih, Hannan. Udah dibilang juga, kalau latihannya udah kelar."
Hannan lalu mendekat ke arah muka Azila, tepat di telinga gadis itu ia berbisik, "Menyatakan perasaan itu kalau udah cinta, bukan hanya pas rasa suka."
Pipi Azila kembali bersemu merah. Bibirnya pun tertarik membentuk senyuman.
"Jadi, tunggu aja," ucap Hannan membuat jantung Azila kembali berdisko ria.
Azila hanya mengangguk pelan. Hannan membuatnya menegang, tak bisa berkutik.
***
Devi mencari-cari di mana keberadaan Azila. Sejak tadi, ia pamit tak kunjung balik ke kelas. Hal itu membuat Devi khawatir. Apalagi Azela sedang ke kelas temannya pula, dan menitipkan pesan untuk menjaga Azila padanya.
Sebenarnya Azila bukanlah anak kecil yang perlu dijaga, akan tetapi Devi juga mengerti maksud keposesifan Azela terhadap Azila itu.
Devi tak sengaja berpas-pasan dengan salah satu temab Azela, yang ia tak ingat namanya.
"Hm, anu! Temannya Azela," panggil Devi.
"Lo manggil gue?" tanya cowok itu menunjuk dirinya.
Devi mengangguk pelan. Sekarang, Devi sudah mulai berbicara pada semua orang, ya berkat Azila yang membuat Devi mengeluarkan suaranya lagi.
"Kenapa?"
"Anu, gue lupa nama lo. Siapa, ya?"
"Gue Agil. Lo Devi, kan?"
"I--iya. Hmm, Agil ... lihat Azila, nggak?"
"Nggak lihat, tapi tadi kata Azela, dia lagi sama Hannan."
"Oh, sama Hannan. Syukur, deh." Devi menghela napas lega. Jika Azila benar sedang bersama Hannan, sudah pasti aman.
"Oh, ya udah, deh. Makasih ya, Agil."
Devi berbalik badan. Hendak kembali ke kelas. Namun, suara Agil mengurungkan langkahnya.
"Gue boleh tanya sesuatu, nggak?"
Devi tak membalikkan badan, ia masih menghadap depan. "Ya? Mau nanya apa?" tanya Devi tanpa menghadap lagi ke arah Agil.
"Lo suka sama Reyhan, ya?"
Devi tertegun sebentar. Ia lalu menundukkan kepala. Jika ia menjawab, apakah Agil akan memberitahu Reyhan?
"Reyhan suka sama lo. Dia juga lagi PDKT sama lo, kan?" tanya Agil memperjelas.
Devi perlahan membalikkan badannya. Kepalanya masih menunduk tak berani menatap ke arah Agil.
"Gue gak suka sama Reyhan."
Agil terkejut. Entah kenapa ada perasaan lega yang menyelimutinya.
"Gue berharapnya kenal lebih dekat dengan lo," ucap Devi tak berani menolehkan kepalanya ke arah Agil.
Tentu saja perkataan Devi itu membuat darahnya berdesir hebat.
"Lo ... tertarik sama gue?" tanya Agil super deg-degan.
"Gue gak pernah tertarik sama seorang cowok sebelumnya, kecuali sama lo."
Entah kenapa ucapan Devi sangat manis terdengar di telinga Agil. Ia tersenyum lebar.
"Lo mau ngasih gue kesempatan, kan?" tanya Agil.
"Kesempatan apa?" tanya Devi menoleh menatap Agil.
"Kesempatan untuk lebih dekat dengan lo."
"Boleh," jawab Devi malu-malu.
"Oke, makasih!" Agil tampak senang. Hatinya menjerit berteriak senang. Urusan Reyhan nanti saja ia pikirkan.
"Ya udah, gue balik ke kelas, ya."
"Oke, Dev."
"Bye-bye."
Agil menggigit bibirnya, gemas sekali dengan suara lembut Devi mengatakan bye-bye padanya.
"Bye ...."
Setelah Devi melangkah pergi. Agil pun melompat-lompat kesenangan. Oh, ayolah ia jarang jatuh cinta dan saat melihat Devi ada hasrat mencintai tumbuh di hatinya.
"Dev, gue janji akan kejar cinta lo!" ucap Agil bertekad.
"Maaf, Rey. Devi sendiri yang udah ngasih kesempatan buat gue," ucap Agil seolah berbicara pada Reyhan.
"Lagian cewek lo udah banyak, Rey," kesal Agil. "Jadi, Devi untuk gue aja," ucapnya bermonolog sendiri dari tadi.
"Ah, makin gila, deh, gue!"
Setelah itu, Agil pun kembali ke kelas.
***
Sepulang sekolah, karena ada tugas piket, Devi pun terpaksa pulang lambat. Azila juga menunggunya.
"Zila," panggil Devi seraya mengayunkan sapunya ke lantai.
"Ya, kenapa Dev?"
Devi tiba-tiba tersenyum sendiri. Hal itu membuat Azila yakin, jika Devi sedang naksir seseorang.
"Hayo, lagi mikirin apa?"
Devi terkekeh singkat. "Gue gak tau, sih, ini perasaan suka atau apa."
"Ciee, sama siapa?" tanya Azila menyimpan HP-nya, bersiap mendengarkan cerita Devi.
"Ah, belum pasti juga, sih, gue beneran suka atau nggak."
"Yang penting sama siapa dulu," ujar Azila.
"Sama temannya Azela."
"Hm. Reyhan atau Agil?"
"Hm, siapa, ya?"
"Jangan bilang lo naksir keduanya?"
"Ya, nggaklah!" sanggah Devi langsung.
"Ya, terus, terus sama siapa?"
"Sama ... Agil," ucap Devi langsung menunduk, karena rona di pipinya muncul lagi.
"Hah, Agil?" tanya sebuah suara yang baru memasuki kelas.
Suara siapakah itu? Devi langsung panik dibuatnya.
***