KETEGUHAN DAN KETEGASAN

579 Kata
Jika seseorang tidak teguh dan tegas, semangatnya tidak tulus dan dia tidak akan berhasil, menyerah pada arus masa kini, masih tetap tidak sadar jernih dan terbelenggu oleh nafsu. Orang seperti itu pasti akan menjadi manusia biasa, atau bahkan lebih buruk lagi, untuk selamanya. (Kongming)  "Kotaro, kau sudah berapa lama mengabdi pada ku " tanya Fujikawa seorang tuan tanah dari Desa Shirakawago. Desa yang apabila musim salju datang maka akan menjadi wilayah yang paling besar intensitas bulir-bulir putih yang menimbunnya. "Sedari hamba kecil tuan, sejak usia hamba 7 tahun hingga sekarang 16 tahun" Kotaro membungkuk. "Aku tidak pernah ikut bertempur, keahlian ku sebagai kesatria juga biasa-biasa saja. Desa kita kecil namun penghasilan sandang pangan kita saling mencukupi. Apakah menurut mu akan ada yang menggulingkan ku ?" Fujikawa tersenyum sambil memukul-mukulkan kipas pada pahanya. "Ada tuan ! namun kemungkinannya kecil" "Bagaimana bisa ?!" gertak Fujikawa. "Maaf tuan, saya katakan ada, namun kemungkinan kecil sebab Tuan ku di cintai rakyat, namun tuan tidak memiliki cukup kekuatan jika sewaktu-waktu kita di serang, mengingat juga umur tuan yang sudah senja" Kotaro merendahkan kepalanya hingga mencium lantai. Tidak terlihat penyesalan dalam ucapannya. "Maksud mu aku ini layak diganti ?!" bentak Fujikawa menggelegar sembari tersenyum hingga matanya terlihat hilang. "Tidak Tuan, akan tetapi saya hanya menjelaskan bahwa saat ini situasinya ada kemungkinan tuan di gulingkan, walaupun kecil." Kotaro tetap tenang. "Apa saran mu ?" "Saya ini hanya bawahan tuan yang paling rendah, tidak berani saya memberikan saran" "Aku memberi perintah ! Plak...!" Fujikawa memukul keras kipas di tangannya. Kotaro tetap menunduk tidak bergeming. "Tuan ku orang yang baik, selama saya mengabdi itulah yang saya lihat dan rasakan" Fujikawa tersenyum "Lanjutkan..." "Akan tetapi tuan terlalu memberi kemudahan bagi para pejabat untuk menentukan kebijakan sehingga menempatkan tuan pada posisi seakan-akan sebagai maskot Desa." "Tuan juga terlalu memberi kemudahan dalam penegakan hukum dengan rasa Iba. Dalam pandangan saya yang muda hal ini seperti meremehkan sifat dasar manusia yang berupa ketamakan dan kesewenang-wenangan." "Jika tuan telah tiada, butiran bara ini bisa jadi api yang akan membakar seluruh desa" Fujikawa mulai terlihat serius. Niat awalnya hanya menguji pengikutnya, namun kali ini dia menaruh pandangan penuh padanya. "setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Tuan dicintai rakyat namun bukan berarti tidak ada yang tidak menyukai sikap tuan ini." "Tegakkan punggung mu Kotaro, luruskan pandangan mu" perintah Fujikawa serius. Kotaro pun menegakkan duduknya. Lurus datar pada Fujikawa, seakan tidak gentar dengan apa yang disampaikannya. "Tuan ku hendaknya meninggalkan aturan yang ketat dan tegas, menanamkan keteguhan pada seluruh pejabat dan masyarakat untuk menegakkan hukum dan aturan. Setidaknya ini akan menguatkan eksistensi tuan sebagai pemimpin dan akan melindungi penerus-penerus serta desa ini dari kekacauan" Fujikawa hening lalu berjalan mendekati Kotaro. Dengan tubuh renta dia menenteng pedangnya. Menghunus bilahnya tepat didepan Kotaro. Sontak kotaro membelalakkan matanya namun tidak ada penyesalan di raut wajahnya. "Pedang ini punya dua sisi, satu sisi tajam dan satu sisi tumpul. Artinya pedang adalah simbol kepemimpinan. Tajam memiliki dua fungsi membunuh atau melukai musuh dan melindungi pemiliknya yang sama halnya dengan menegakkan aturan dan hukum, sedangkan sisi tumpul memiliki satu fungsi yaitu melindungi nyawa baik lawan maupun pemiliknya yang sama halnya dengan mengayomi dan mensejahterakan rakyat." "Kotaro! Bantulah aku memegang PEDANG ini, agar desa kita senantiasa makmur, baik pada saat ini maupun nanti jika aku sudah mati" Fujikawa menanggalkan egonya dengan memberi penghormatan kepada kotaro. Dengan sigap Kotaro memberi penghormatan yang lebih rendah sembari berterima kasih atas kepercayaan tuannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN