Hari pun berganti,
Elvira tengah menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami Radit.
“Makanannya udah siap, tinggal manggil Raditnya.” Elvira pun melangkah menuju ke kamar Radit.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu,
“Dit! lo udah bangun? sarapannya udah siap!” teriak Elvira dari luar.
Namun, tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. Elvira kemudian menempelkan sebelah telinganya ke pintu.
“Gak kedengaran apa-apa?” gumamnya
Tiba-tiba pintu terbuka dan..
Blugh
“Aww!” pekiknya
Elvira jatuh tepat diatas Radit yang hanya mengenakan handuk kimono, dengan rambut yang masih basah, sehingga menampakkan kulit mulusnya. kedua bibir mereka pun bertemu secara tidak sengaja.
Degh degh
Jantung mereka berdebar tak beraturan, untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang. hingga Elvira tersadar, dan bergegas berdiri dari atas Radit.
Dengan wajah memerah menahan malu, Elvira mengalihkan pandangannya.
“S-sarapan sudah siap!” ucap gugup Elvira. Ia kemudian bergegas melangkah meninggalkan Radit yang masih terbaring diatas lantai.
Radit pun hanya tersenyum tipis.
***
Sepanjang perjalanan menuju kampus, tidak ada obrolan diantara mereka. Elvira masih merasa malu untuk membuka obrolan, hingga pandangannya hanya fokus ke depan. sedangkan Radit sesekali menatap Elvira diiringi dengan senyuman tipis.
Setibanya di kampus,
Radit pun melangkah lebih dahulu.
“Sayang!” teriak Nabila yang melihat Radit melewatinya.
Namun, Radit seperti tidak menghiraukan panggilannya. Merasa kesal, Nabila pun menyusul langkah Radit. Ia kemudian mengaitkan tangannya di lengan Radit.
“Sayang! Kenapa kamu gak denger aku manggil-manggil kamu sih?”
“Hm? emang kamu manggil?”
“Kamu lagi mikirin apa sih? sampe-sampe suara cewe sendiri gak didenger?” ucap kesal Nabila.
“Maaf! Aku gak tau kamu manggil aku.”
“Huh!” nabila memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tiba-tiba,
Radit menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah di hadapannya. raut wajah Nabila pun berubah,
“Wah? ini buat aku?”
Radit mengangguk,
Nabila pun meraihnya dan membukanya.
“Wah, cincin! bagus banget!”
“Kamu suka?”
Nabila mengangguk cepat
Tanpa mereka sadari, Elvira menatap mereka dari kejauhan dengan raut wajah sendu.
“Rasanya gak enak lihat pasangan kita lebih merhatiin orang lain daripada kita pasangannya sendiri.” ucap seseorang dari arah belakang Elvira.
Elvira pun menoleh,
“Agus?”
Agus melangkah mendekat ke arah El.
“Apa maksud ucapan kamu?” tanya Elvira heran
Agus tersenyum tipis,
“Gak ada maksud apa-apa! Cuman, Bu el harusnya sudah menyadari jika hubungan yang ditutupi itu pada akhirnya hanya akan membuat sebuah luka yang semakin hari akan semakin membesar.”
Elvira mengerutkan dahinya,
“Maksud kamu?”
“Jika saya mencintai seseorang, saya akan meneriakkan namanya sekeras mungkin, agar seluruh dunia tau jika dia adalah milikku!” Agus pun melangkah pergi meninggalkan Elvira.
“Anak itu, ngomong apaan sih? salah makan obat kayaknya.” Elvira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
“Pagi semuanya!” sapa Elvira ketika ia melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
“Pagi Bu!” jawab mereka kompak.
Pandangan nya pun tertuju ke arah sepasang kekasih yang terlihat begitu sangat mesra.
‘Apa-apaan sih si adit? apa dia sengaja buat pamer?’ batin Elvira
Blugh
Terdengar suara gebrakan meja yang membuat semua orang merasa terkejut.
“Nabila, Radit! bisa kalian fokus pada kelas saya?” tatapan Elvira tertuju pada tangan Nabila yang melingkar manja di tangan Radit.
“I-iya bu.” Nabila kemudian melepas pegangan tangannya dengan raut wajah cemberut.
“Baiklah! pelajaran kali ini kita mulai.”
***
Setelah selesai memberikan materi di dalam kelas, Elvira memutuskan untuk langsung pulang. karena ia merasa kesal dengan kemesraan Nabila dan Radit yang seharian ini mereka pamerkan di dalam kelas.
Di perjalanan pulang,
“Menyebalkan! dasar tukang pamer!” gerutunya.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel miliknya, Elvira pun menatap layar ponselnya dan tertulis nama Raka disana.
“Raka? koq tumben?”
Elvira kemudian mengangkat telepon tersebut.
In Call
Elvira :“Hallo?”
Raka :“Hallo El?”
Elvira :“Ada apa?”
Raka :“Bisa kita ketemuan?”
Elvira :“Untuk apa?”
Raka :“Aku hanya ingin ngobrol sama kamu, rasanya hari ini sangat melelahkan dan aku butuh teman untuk cerita.”
Elvira terdiam sesaat,
“Kamu masih disitu kan?” tanya Raka heran yang tidak mendengar suara elvira.
“Ya sudah, ketemuan dimana?”
“Em, ditempat biasa kita ketemuan dulu.”
End Call
Telepon pun dimatikan sepihak oleh Elvira. Ia kemudian melajukan kendaraannya menuju tempat yang disebutkan oleh Raka.
Sesampainya di sebuah restoran,
Elvira melihat Raka yang duduk di salah satu sudut restoran. Ia kemudian menghampirinya.
“Kamu udah dateng? duduk?” Raka mempersilahkan seraya menarik kursi untuk tempat duduk Elvira.
“Langsung aja, ada apa?”
Raka tertawa kecil melihat raut wajah Elvira, yang membuat Elvira merasa heran.
“Kenapa, kamu ketawa?”
“Gapapa, hanya saja aku masih ingat. Biasanya kalau kamu kayak gini karena ada dua alasan. yang kesatu karena kamu lagi dateng bulan atau yang kedua kamu cemburu.”
“Sok tau!”
“Coba sekarang, kamu bilang ke aku. Apa salah satunya sedang kamu rasain sekarang?”
“Gak dua-duanya!”
Seorang pelayan pun datang dengan membawa senampan makanan. Ia kemudian menyajikannya di meja.
“Eh, perasaan aku belum pesen apa-apa.” ucap heran Elvira
“Aku udah pesenin semua ini sebelumnya buat kamu, es krim strawberry dengan potongan buah stroberi yang banyak, steak tenderloin dengan kematangan welldone lalu air mineral.”
Elvira terlihat tidak bisa berkata-kata,
“Kenapa? Aku tau, aku memang mempesona, jadi wajar jika banyak wanita yang tergila-gila padaku.”
Elvira pun memutarkan bola matanya.
“Dasar buaya darat!”
Raka kembali tertawa melihat reaksi Elvira yang menurutnya lucu.
“Ayo, makanlah!”
Mereka pun mulai menyantap makanan yang tersaji di meja diselingi dengan canda tawa.
Kemudian,
Radit pun datang ke restoran yang sama bersama dengan Nabila, sehingga membuat Elvira sedikit terkejut.
Raut wajah Radit berubah kesal, saat ia melihat Elvira yang tengah duduk bersama dengan Raka sang mantan kekasih Elvira.
“Sedang apa kalian?” tanya Radit dengan nada datar.
Raka pun tersenyum, pandangannya terfokus pada tangan Nabila yang melingkar di lengan Radit.
“Seperti yang kamu lihat, kami lagi makan. Emm lebih tepatnya lagi ngedate.”
Nabila pun menarik lengan Radit.
“Dit, ayo! jangan ganggu mereka! Maaf ya bu!” ucap Nabila yang merasa tidak enak.
Radit dan nabila pun duduk bersebelahan dengan Raka dan Elvira.
Ia melihat bagaimana Raka berperilaku begitu manis pada Elvira, membuatnya tak sedetikpun mengalihkan pandangan tajamnya ke arah lain.
Nabila menatap heran Radit,
“Kamu kenapa sih?”
“Gapapa!” jawab sinis Radit seraya menggenggam erat sendok yang ada di tangannya.
Melihat Raka yang menghapus noda makanan di bibir Elvira dengan ibu jarinya membuat Radit semakin kesal. Tanpa sadar, Ia mengambil sebuah botol kecil yang berada di hadapannya dan langsung meminumnya begitu saja tanpa memperhatikan isi di dalamnya.
“Eh, itu kan!” ucap syok Nabila
Tiba-tiba,
“Aaaaa!!” jerit Radit
Rupanya radit minum botol yang berisi kecap asin.
“Huweekk..” Radit pun berlari menuju kamar mandi.
Raka pun tertawa.”Dasar! ada-ada aja tuh anak!”
Tak lama kemudian Radit pun kembali, Namun ia tidak melihat Raka dan Elvira.
“Lho? mereka kemana?”
“Kamu nyari siapa?” tanya heran nabila
“Elvira tadi.. emm maksudnya Bu Elvira tadi kemana?”
“Oh, Mereka lanjut jalan. Kenapa?”
“Kamu tau kemana?”
Nabila menggelengkan kepalanya,
“Bil, kamu bisa pulang sendiri kan? Nanti aku hubungi kamu. ada yang harus aku kerjain! Ini masalah hidup mati seseorang.”
“Apa?”
Radit pun berlari pergi.
‘Ini gak bisa dibiarin! gue yakin, Raka cuman mau mainin Elvira kayak dulu lagi.’ batinnya.