bc

My Husband is Brondong

book_age18+
224
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
confident
sweet
highschool
lonely
husband
like
intro-logo
Uraian

Seorang pemuda yang terjebak dalam ikatan pernikahan karena kesalahan sang kakak,

Demi menyelamatkan nama baik kedua keluarga Radit pun terpaksa menyetujui pernikahannya bersama Elvira yang berusia lebih tua darinya,

'Sial amat nasib gue, dikawinin sama tante tante,' (Radit)

'Gue gak bakalan jatuh cinta sama bocah tengil kayak dia, apalagi dia memiliki darah yang sama dengan si pengkhianat itu,' (Elvira)

chap-preview
Pratinjau gratis
Menikahi calon adik ipar
Di suatu pagi terdengar derap langkah kaki yang tergesa gesa menuju ke sebuah ruangan, Dengan raut wajah cemas mereka menghampiri seorang gadis yang tengah duduk mematung seraya menggenggam erat ponsel di tangannya, buliran bening itu pun terus mengalir deras dari kedua bola matanya. “Ada apa ini?” tanya seorang pria paruh baya dengan nafas yang tersekat sekat “Kami tidak tahu tuan, tapi setelah mendapatkan telepon, nona menjadi aneh dan hanya diam mematung.” terang salah seorang yang berdiri disana. Seorang wanita paruh baya pun menghampiri gadis itu dan memegang wajahnya, “Ada apa Nak?” Tanpa terasa buliran bening itu pun kembali mengalir begitu saja, Sang ibu pun menarik putrinya itu ke dalam pelukannya. “Pernikahan ini dibatalkan sepihak oleh Raka.” terang Elvira “A-apa?” Syoknya Sang ayah pun meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan Elvira kecuali dirinya dan sang istri. “Apa sebenarnya yang terjadi? Apa kamu bertengkar dengan Raka?” “Gak yah! El sendiri gak ngerti, kenapa jadi begini!” tangis El pun semakin pecah. Sang ayah yang tidak terima pun murka. “Arrgh! Apa apaan mereka itu! Kurang ajar! Bisa bisanya mempermainkan anakku seperti boneka!” teriaknya “Tenang yah! Kasian El! Lagipula, Tidak enak jika terdengar oleh para tamu diluar. disini El yang paling terluka, cobalah untuk menenangkan hati El bukan memperkeruhnya.” ibu mencoba menenangkan ayah Di lain sisi, Pranggg Keluarga pihak pengantin pria pun tak kalah marahnya dengan keputusan sebelah pihak yang dilakukan oleh Raka pengantin pria. “Dasar anak kurang ajar!! Dia sengaja mau bikin nama keluarga kita malu!!” teriak sang Papa “Sabar pah, Tenang dulu!” ucap sang istri mencoba menenangkan. “Gimana mau tenang mah, Dia itu benar bener gak punya otak! Harusnya kalau gak suka bilang dari awal, gak gini caranya!! Dia udah bikin malu kita mah! Sekarang, dia malah kabur gak tau kemana, Bawa semua tabungannya dan mobilnya.” Sang istri hanya bisa menahan tangis seraya mencoba untuk menenangkan sang suami “Bagaimana kalau kita temui dulu keluarga El? Kita bicara baik baik sama mereka dan minta maaf sama mereka, Mama gak mau persahabatan kita putus gara gara ini.” Sang suami pun menghela nafas kasar. setelah berpikir sejenak, Ia kemudian menyetujui usulan sang istri. *** Setibanya di ruangan Elvira, Mereka menerima kemarahan dari keluarga Elvira, dan mereka hanya terdiam tanpa melawan, “Anak kamu itu bener bener udah bikin malu! Harusnya dia bilang kalau emang gak mau nikah sama El, jangan sok sokan setuju tapi nyatanya kayak gini! mereka itu udah lama pacaran, tapi kenapa baru sekarang Raka mutusin hubungannya sama El secara sebelah pihak?!” bentak Ayah “Sekali lagi, kami benar benar minta maaf, kami tidak tahu jika Raka akan melakukan semua ini.” ucap Papa Keluarga Elvira pun terdiam, “Lalu bagaimana sekarang? Tamu sudah berdatangan, Upacara pernikahan akan segera dilaksanakan. Apa kita harus mengumumkan pembatalan pernikahan saja?” tanya Ayah Elvira menundukan pandangannya, Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, “Tapi jika itu dilakukan, dua keluarga akan menanggung malu seumur hidup.” jawab Papa Tanpa sengaja pandangan mata Papa tertuju pada seorang pemuda yang tengah duduk dengan santainya di sofa, dengan earbuds yang terpasang di telinganya, senyumannya pun tiba tiba berkembang, “Aku punya ide.” ucap Papa tiba tiba “Apa itu?” tanya Ayah Papa pun menghampiri Pemuda tersebut, dan menepuk bahunya sehingga membuatnya melepas earbuds yang sedang ia kenakan. “Bagaimana jika kita menikahkan Elvira dengan Radit?” “APA?” Elvira dan Radit sangat terkejut mendengar ide yang dilontarkan oleh Papa. “Wah! Papa jangan ngadi ngadi deh! Radit masih kuliah, masa muda Radit masih panjang, gak mungkin Radit nikah sama tante tante!” Papa pun menggeplak kepala Radit, Plakk “Aww!” ringis Radit “Pokoknya, Kamu harus nikah sama Elvira Titik!” “Tapi pah, Radit masih kecil, Radit masih kuliah, Radit mau ngasih makan apa coba ke tante itu? Lagian Radit juga gak cinta sama dia.” ucap datar Radit “Cinta bisa menyusul Dit! Kalau kamu nikah sama Elvira, kamu gak perlu kerja, Papa yang bakalan menanggung biaya hidup kalian!” “Bukan gitu pah!” Tiba tiba, “El juga gak setuju Pah, mungkin lebih baik kita umumkan aja kalau pernikahan ini dibatalkan.” Ibu dan mama pun mulai menangis. “Apa kalian tega, dua keluarga menanggung malu seumur hidupnya?” ucap mama Elvira dan Radit pun terdiam, “Mama mohon dit.” mama melipatkan kedua tangannya dan berlutut di hadapan Radit dengan air mata yang terus mengalir. Elvira dan Raditya merasa tidak tega melihat kedua orang tua mereka menangis dan memohon pada mereka. “Ibu belum pernah meminta apapun sama kamu, setidaknya tolong kabulkan permintaan Ibu yang mungkin akan menjadi permintaan pertama dan terakhir.” ucap Ibu yang melakukan hal yang sama dengan mama. “Bu, jangan ngomong gitu!” mata El berkaca kaca Elvira pun menatap Radit, dan Radit pun memberi anggukan sebagai jawaban setuju atas permintaan mereka. *** Upacara pernikahan pun dimulai, Radit mengucapkan janji suci pernikahan dengan lancar, dan mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri. Raut wajah bahagia menyelimuti kedua keluarga namun Tidak dengan kedua mempelai pengantin. mereka berpura pura tersenyum di hadapan para tamu. Pesta pernikahan pun selesai. Radit melangkah masuk ke dalam kamar apartemen sementara yang telah disediakan untuk pengantin baru yang terletak tidak jauh dari tempat resepsi pernikahan. Ia melihat, Elvira yang tengah berdiri di balkon. Radit pun memilih untuk membiarkannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. “Aduh lupa, baju gue masih di koper.” Radit melangkah kembali keluar Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sosok Elvira yang sudah berdiri diatas pagar balkon, dan bersiap hendak melompat dari lantai 10 tempat mereka berada sekarang. Ia syok dan seketika berlari ke arah Elvira, Ia menarik tangan Elvira dan menangkapnya. mereka pun jatuh bersamaan, hingga kaki Elvira terbentur pagar balkon cukup keras. “Hey! Lo udah gila ya?” teriak Radit seraya memegangi Elvira erat. “Lepasin gue! Biarin gue mati aja!” Elvira mencoba untuk memberontak, “Gue tau lo terpukul atas perbuatan kakak gue, tapi gak gini caranya! Lo gk mikirin gimana perasaan ortu lo? Hidup lo masih panjang! Lo gak perlu kayak gini buat orang yang gak pantes buat lo!” teriak Radit seraya memegang erat tubuh Elvira yang terus memberontak. Perlahan tenaga Elvira pun mulai habis, Ia mulai sedikit tenang tetapi masih terus menangis, Radit pun melepas pegangannya. “Seenggaknya, kalo lo mau mati jangan disini!! Apalagi lagi sama gue, ntar disangka gue udah bunuh lo! Lo gak mau kan keluarga lu ancur? keluarga gue ancur? karena merasa bersalah atas apa yang terjadi sama lo?” Elvira hanya mampu terdiam mendengar ocehan Radit. perlahan Radit menarik tangan Elvira hingga ia berhasil membawa Elvira ke tempat yang aman, Ia mengunci rapat rapat jendela itu. “Sekali lagi lo lakuin ini, itu berarti Lo bener bener udah gak waras, dan gak pernah mikirin ortu lo!” Radit pun melangkah pergi meninggalkan Elvira yang masih menangis tersedu sedu. ** Keesokkan harinya, Kedua keluarga tengah menunggu sepasang pengantin baru di meja makan. Yang ditunggu tunggu pun datang, Radit dengan langkah cepatnya menghampiri kedua keluarga, sedangkan Elvira tertinggal di belakang. “Lho? Mana El?” tanya Papa heran “Oh, Ada tuh, di belakang!” jawab santai Radit. Papa pun membisikkan sesuatu ke telinga Radit, “Kenapa kamu biarin istrimu berjalan sendirian? kenapa gak gandengan tangan?” bisiknya “Ya elah pah, dia kan udah gede, gak perlu dituntun tuntun lagi kayak anak kecil!” jawab Radit santai “Wah bener bener ya! Harusnya kamu bisa sedikit romantis sama istri kamu, Apalagi kalian pengantin baru!” Namun, Radit seperti menganggap angin lalu ucapan dari sang papa, Ia lebih memilih menikmati hidangannya daripada meladeni ucapan papanya. Tak lama kemudian Elvira datang menghampiri mereka, Namun ada yang berbeda dari cara berjalan Elvira, dan kedua orang tua mereka pun menyadari hal itu. Papa radit menatap sekilas radit yang masih sibuk dengan makanannya. “El, Kamu gapapa?” tanya mama cemas “Gapapa ko, El cuman kecapean aja.” Ayah pun tertawa kecil dan menepuk nepuk bahu Radit yang duduk disampingnya, hingga Radit tersedak. Uhhuuk uhhuuk “Dasar anak muda, Kamu sama sekali gak melewatkan kesempatanmu ya. sampai sampai istrimu berjalan seperti itu!” Ayah terkekeh Radit mengerutkan dahinya, “Maksud Ayah?” “Sudahlah, jangan pura pura! Ayah juga pernah muda, jadi hal yang seperti itu wajar.” “Iya tidak apa apa, mudah mudahan tokcer. biar nanti mama cepet cepet bisa nimang cucu.” tambah Mama Radit Elvira yang langsung mengerti arah pembicaraannya pun mencoba untuk menjelaskan. “A-ayah, Ibu, Mama, Papa, Ini semua gak kayak gitu kejadiannya. ini itu karena, emm karena....” ucap Elvira terhenti ‘Aku gak mungkin bilang ke mereka kalau semalam aku nyoba buat bunuh diri.’ batinnya Mama Radit pun mengelus lembut punggung menantunya itu, “Sudah tidak apa apa, lagipula kalian kan sudah resmi menjadi suami istri. jadi itu semua tidak masalah, Malahan mama seneng. Itu artinya kamu udah bisa move on dari Raka.” Elvira hanya terdiam ‘Sudah tidak bisa dijelaskan lagi, biarin aja deh mereka berpikiran begitu.’ batin Elvira Selesai sarapan, Elvira kembali ke kamar apartemen untuk beristirahat. disusul oleh Radit yang ingin bersantai sambil memainkan game favoritnya. Sedang asik bermain game seraya duduk santai di sofa panjang, Radit kembali teringat tentang pembicaraan keluarga mereka tadi pagi yang belum Radit mengerti. “Hey!” panggil Radit tanpa menatap ke arah Elvira Elvira tidak menjawab dan hanya terus membaca majalah yang ada di tangannya. “Heey!” Radit memanggilnya dengan suara yang lebih keras. “Apaa?” jawab sinis El tanpa menatap Radit. “Btw, tadi pagi kalian tuh ngomongin soal apa sih? gue gak ngerti sama sekali! Trus hubungannya sama cara jalan lo apa? lo kek gitu kan karena jatuh semalam.” tanya Radit bertubi tubi “Lo tuh pura pura polos apa bego beneran? kayaknya gak mungkin cowok seusia lo, gak ngerti arah pembicaraan orang tua kita tadi.” ucap kesal El “Kok lo malah ngatain gitu? Kan bisa lo jelasin baik baik.” Elvira menghela nafas panjang. “Gapapa ko, Mereka cuman nyangka Lo udah unboxing gue.” “Haah?” radit terkejut mendengar penjelasan singkat Elvira, hingga ia seketika menghentikan permainan game nya. “Trus hubungannya ama cara jalan lo apa?” tanya Radit polos. Elvira menarik nafas panjang “Itu pelajaran untuk orang dewasa, Bukan pelajaran buat bocah tengil kayak lo!” Elvira kemudian berdiri dari duduknya, Ia hendak melangkah pergi melewati Radit. tiba-tiba tangannya ditarik oleh Radit dan membuat Elvira terjatuh diatas Radit, Hingga pandangan mereka pun bertemu dalam jarak yang dekat, “Apa menurut lo, gue masih bocah?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook