Elvira mendorong keras tubuh Radit, dan kembali berdiri.
“Iya! di mata gue, lo masih bocah!”
Elvira pun melangkah pergi, dengan raut wajah kesalnya.
“Ck, Dasar Tante!” decak kesal Radit,
Hari pun berganti,
Kedua orang tua mereka mengantarkan mereka ke sebuah rumah yang siap huni di kawasan perumahan elite.
Mereka pun tiba di sebuah rumah yang cukup luas dengan sebuah kolam renang dan halaman belakang yang tak kalah luasnya.
“Ini rumah untuk kalian.” ucap papa seraya menatap bangunan yang luas itu
“Apa rumah ini gak terlalu besar buat kita yang cuman berdua?” tanya Radit
“Ya gak, nanti juga kan anggota keluarganya akan bertambah. jadi saat itu tiba, semuanya sudah siap.”
Radit mengerutkan dahinya seraya menghela nafas kasar.
“Serah papa deh.” Radit melangkah masuk terlebih dulu
“Rumah sebesar ini, gimana cara El bersihinnya?”
“Gak usah khawatir El, Ayah udah siapin asisten rumah tangga buat kamu. tapi mereka hanya akan datang siang aja."
Elvira mengerutkan dahinya,
“Eh, kenapa gitu yah?”
“Ya, biar kalau malam harinya mereka gak ganggu kalian.” Ayah terkekeh
Elvira pun memutarkan kedua bola matanya dan melanjutkan langkahnya.
***
Setelah kepergian kedua orang tua mereka, Elvira menghampiri Radit yang tengah asik memainkan ponselnya.
“Hey!” panggilnya
Namun Radit tidak menjawab panggilannya dan terus fokus pada ponsel miliknya.
Karena kesal, Elvira pun melemparkan bantal sofa ke arah Radit.
Bugh
Lemparannya tepat mengenai wajah Radit,
“Isshh, paan sih?” tanya kesal Radit
“Gue mau ngomong sama lo."
“Ya tinggal ngomong aja! Gak usah pake ngelemparin segala!”
“Gue gak suka kalau lawan bicara gue itu gak ngeliat ke gue waktu diajak bicara.”
“Ribet banget.”
Raut wajah kesal radit pun terlihat jelas, Ia menyimpan ponselnya di atas meja dengan kasar.
“Mau ngomong apa?” tanya Radit ketus
“Lo harus tanda tangan disini.” Elvira menyodorkan secarik kertas pada Radit,
Radit mengerutkan dahinya. “Paan nih?”
“Itu surat perjanjian pernikahan, ada beberapa hal yang gak boleh lo langgar! Contohnya, kita tidur di kamar masing masing.” jelas Elvira
“Huh, Lagian siapa yang mau tidur bareng sama tante tante?”
“Ya udah, Cepet!”
Tanpa membaca isi surat perjanjian tersebut. Radit pun langsung menandatanganinya, dan memberikannya kembali pada Elvira
“Nih!”
Elvira meraih kertas tersebut,
“Ingat! Pernikahan ini hanya berlangsung sampai lo selesai kuliah, artinya kurang lebih selama dua tahun,”
“Lama banget, gak bisa besok aja?”
“Mau nya juga gitu, tapi gak lucu kan kalau keluarga gue dan keluarga lo jantungan gara gara denger anaknya baru aja nikah besokkan nya langsung pisah!”
Radit hanya menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, Ia kemudian berdiri dan melangkah pergi seraya berkata,
“Atur aja deh, yang penting hidup gue tetep berjalan normal dan tentram!”
Elvira menghela nafas kasar melihat sikap Radit, Ia kemudian duduk di sofa seraya menatap kosong langit langit rumah.
‘Kenapa kamu setega ini Raka? Ninggalin aku demi selingkuhan kamu tepat di hari pernikahan kita, sekarang aku harus terjebak dalam ikatan pernikahan yang sama sekali gak aku inginkan.’ batin nya berkata
“Ternyata berapa lama pun sebuah hubungan tidak bisa menjamin seseorang benar benar mengenal pasangannya dengan baik.” mata Elvira berkaca kaca mengingat kenangannya bersama Raka.
Hari pun berganti,
Radit dan Elvira bersiap untuk pergi ke kampus,
“Oh ya, Lo bisa kan berangkat sendirian? Gue mau pake mobil hadiah dari ayah ke kampus.” ucap Radit
“Gue juga mau pake mobil itu buat ke kampus.”
“Ya elah, ngalah napa? gue kan pengen keliatan keren gitu di depan gebetan,”
“Kenapa gue yang harus ngalah?”
“Lo itu ya?”
Tiba tiba terdengar suara dering ponsel Radit, Matanya membulat sempurna saat melihat nama yang tertulis di layar ponselnya,
“Papa?”
Radit melihat ke arah Elvira,
“Hey,”
“Apa?”
“Papa Vc, gimana nih?”
“Ya udah angkat aja!”
Radit pun langsung berlari dan duduk disamping Elvira seraya merangkulnya, Elvira terkejut dengan apa yang dilakukan Radit,
“Eh ngapain lo?”
“Udah diem!”
Radit pun mengangkat telepon Papanya,
“Pagi putra dan menantuku!” sapa papa
“Pagi juga pah,” jawab Radit dan Elvira bersamaan
“Waa, papa seneng liat kalian bisa cepet deket kayak gini, Radit ingat kamu harus temenin Elvira kemanapun dia pergi,”
“Iya pah,”
“Mobil hadiah dari ayah Elvira itu untuk kalian pergi sama sama, papa pesan jangan dipakai untuk sendirian ya,”
‘papa tau aja, aku mau pake sendiri.’ batin Radit
“I-iya pah,”
“Ya sudah, Radit jaga istrimu dengan baik ya!”
Radit mengangguk seraya tersenyum yang dipaksakan.
Telepon pun dimatikan,
Terdengar suara helaan nafas kasar mereka, Elvira yang menyadari tangan Radit masih berada di bahunya pun melepas kasar pegangannya.
“Udah pura puranya!”
Elvira kemudian melangkah pergi,
“Jutek banget.” Gumam Radit
Radit pun mengikuti langkah Elvira.
Sesampainya di depan pintu mobil,
“Sini, biar gue yang nyetir!” Radit mengulurkan tangannya meminta kunci mobil
“Lo belum punya sim kan? Jadi lebih baik, gue yang bawa.” Elvira langsung masuk ke dalam mobil
“Ck,” Radit pun hanya bisa pasrah dan ikut masuk ke dalam mobil.
“Gak bisa gitu dong, gue kan cowok! masa iya lo nyetirin buat gue?”
Elvira menatap tajam Radit,
“Emangnya kalo cewek nyetirin buat cowo kenapa? Apa itu bisa ngerubah lo jadi cewek? gak kan?”
“Ya, gak gitu konsepnya.”
Elvira pun mulai melajukan kendaraannya.
Di perjalanan, Radit mencoba untuk memecah keheningan.
“Em, ngomong ngomong lo punya masalah apa sama kakak gue sampe lo ditinggalin gitu aja? Apa kalian ada masalah serius?”
Ckiiiittt
Elvira tiba tiba menginjak rem mobil
Dugh
Kepala Radit pun terantuk,
“Aww,” ringis Radit
“Kenapa lo berhenti mendadak? Sakit tau kepala gue!” Radit mengelus elus kepalanya yang terasa sakit
Tanpa menatap Radit, Elvira berkata. “Lo mending keluar,” usirnya
Radit membulatkan matanya. “Lo ngusir gue?”
Ia kemudian menatap tajam Radit
“Gue gak suka sama cowok yang kepoan sama hidup orang!”
“Eh, gue nanya kayak gitu wajar! Pertama dia kakak gue, dan kedua gue yang kena getahnya akibat dari kelakuan dia, wajar gue pengen tau tentang itu!”
“Surat perjanjian nomer lima poin b tertulis, diantara kita ga boleh saling mencampuri urusannya satu sama lain, paham?”
“Eh, Gue gak baca itu.”
“Huh, Lo harus baca ulang surat itu, sekarang keluar!”
Radit dengan raut wajah kesalnya pun keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras, kemudian Elvira pun melajukan mobilnya kencang.
“Arggh! Siaall! Pantesan aja Raka mutusin dia, sifatnya itu nyebelin banget!” gumamnya
Radit pun melanjutkan langkahnya menuju kampus yang jaraknya sudah lumayan dekat,
Sedangkan Elvira menepikan mobilnya tak jauh di tempat ia menurunkan Radit, Ia menundukkan kepalanya di balik kemudi dan tangisannya pun pecah mengingat pertanyaan yang dilontarkan oleh Radit.
‘Seandainya aku tahu apa kesalahanku sama kamu Raka? mungkin aku bisa menjawab pertanyaan itu.’ batinnya.
***
Setibanya di kampus,
Dengan wajah kelelahan, Radit menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Lo kenapa? Kayak cape gitu?” Tanya seorang pemuda berparas manis bernama Agus teman sekelas Radit.
“Gue emang cape,”
“Cape? Habis dari mana lo?”
“Dari rumah, gue cape karena jalan kaki kesini.”
“Apa? jalan kaki? Tumben tumbenan lo jalan kaki? Eh, Bukannya rumah lo itu cukup jauh? Serius, lo jalan kaki?”
“Lo bisa diem gak! Bawel banget kek cewek!” ucap kesal Radit,
“Iya sorry sorry, Gue kan cuman nanya.”
Pandangan agus pun beralih pada sosok seorang gadis yang melangkah masuk ke dalam kelas,
“Woy!” Agus menepuk nepuk bahu Radit
“Paan?” Radit menoleh
“Nabila tuh!” Agus menunjuk ke arah depan.
Radit langsung menatap ke arah yang dituju.
“Pagi Nabila!” sapa Agus seraya melemparkan senyuman
“Pagi,” jawabnya
Sedangkan Radit hanya tersenyum dan mematung menatap nabila dengan hati yang berbunga bunga.