“Sampai kapan dit, lo mau nyimpen perasaan lo sama nabila?” tanya Agus tiba tiba,
“Gue masih belum berani buat ngungkapin karena gue selalu merasa gak pantes buat dia,” jawab Radit
Agus terkekeh
“Lo tuh ya, udah kayak cinta terlarang aja. yang penting kalian tuh sama sama single, udah itu aja!”
Degh
‘Itu dia masalahnya, Gue sekarang udah kejebak sama ikatan pernikahan sialan ini!’ batinnya
Jam pelajaran pun dimulai,
Seorang dosen cantik berambut panjang berwarna coklat dan sedikit bergelombang melangkah masuk ke dalam kelas, dengan raut wajah dingin dan datarnya ia menyapa.
“Selamat pagi semuanya!” sapa Elvira
“Selamat pagi Bu.”
Agus membisikkan sesuatu pada Radit,
“Nah kalau ini baru tipe gue.” bisiknya
Radit membola
“Gila lo!”
“Kenapa? Lagian Bu Elvira tuh masih single, cantik, pintar dan tajir, gak ada laki laki yang bakalan nolak dia!”
“Kecuali gue,” ucap pelan Radit
“Apa?”
“Gapapa!”
Elvira yang menyadari ada mahasiswanya yang sedang mengobrol pun langsung menegurnya.
“Agus! Radit! Bisa kalian diam?”
“I-Iya Bu.” Jawab mereka bersamaan.
Radit pun memalingkan pandangannya ke arah samping dan melihat nabila yang tengah tersenyum ke arahnya, Tanpa ragu Radit pun membalasnya.
‘Ah gila! Gue berada di satu ruangan sama Istri sekaligus gebetan gue.’ Radit pun memijat perlahan keningnya dan menghela nafas kasar.
Ia memutuskan untuk kembali fokus mengikuti pembelajaran.
“Baiklah! Untuk tugas kali ini, kalian bisa membuat kelompok dan mempresentasikannya, minggu depan sudah harus selesai.”
“Ya Bu,”
Elvira pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.
“Eh Tugas kali ini, kita kerjain di rumah lo aja ya Dit?”
“Sorry gak bisa.”
“Kenapa?”
“Pokoknya gak bisa!”
Agus pun terlintas sebuah ide
“Nabila!” teriak Agus
Nabila melihat ke arah Agus. “Iya?”
“Lo mau ikut sekelompok sama kita?”
“Emm Boleh, Kalau Radit gak keberatan.”
“Lo gak keberatan kan dit?” tanya agus
“E-enggak koq,” jawab gugup Radit
“Ok, Fiks! Kita belajarnya di rumah lo.”
“Eh?”
“Udah gapapa! Sekalian lo nembak Nabila.” bisik Agus
‘Sialan nih bocah, dia ngejebak gue dengan manfaatin Nabila,’ batin Radit.
***
Sepulang dari kampus Radit memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. sayup sayup terdengar suara tangisan,
“Siapa yang nangis ya? Gak mungkin ada Kuntilanak sore sore gini kan? Gue jadi merinding.”
Radit pun mencari asal suara,
Hingga ia pun menemukan asal suara tangisan tersebut dari balik kamar Elvira.
Ia kemudian menempelkan telinganya di balik pintu kamar tersebut.
Tiba tiba
Ceklek
Blugh
Radit langsung terjungkal ketika Elvira tiba tiba membuka pintu kamarnya,
“Lo, ngapain?” tanya Elvira heran
Radit pun langsung berdiri,
“Gapapa, Gue cuman lewat dan kepeleset.” jawab gugup Radit,
Ia kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.
“Dasar aneh!” gumam Elvira
Di malam hari,
Elvira tengah berkutat dengan pekerjaannya,
“Gue mau protes,” ucap Radit tiba tiba seraya berdiri di depan Elvira.
“Protes apa?”
“Kenapa sih, lo ngasih tugas kelompok susah gitu? nyusahin hidup orang tau!”
Elvira menatap tajam Radit,
“Kalau lo gak mau ngerasain susahnya mikir, berhenti aja jadi orang waras!”
“Maksud lo?”
Elvira tak menggubris pertanyaan Radit, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Ck,” Decak kesal Radit yang melangkah pergi
Hari pun berganti,
Ting Tong
Terdengar suara bel pintu,
Radit yang masih terbalut selimut pun mendengar suara bel tersebut,
“Siapa sih?” gumamnya
“Woy! El! Ada tamu, Bukain! Gue masih ngantuk!” teriaknya
Tidak terdengar sahutan dari luar, hanya suara bel pintu yang kembali terdengar.
Ia mulai merasa terganggu, dan memutuskan untuk membukakan pintu, dengan wajah yang masih mengantuk.
“Siapa sih? Gue pengen tidur sepuasnya hari minggu, malah di gangguin!” gerutu Radit
Ceklek
Kedua bola mata radit membulat sempurna, saat melihat dua sosok yang tidak asing untuknya berdiri di hadapannya,
“Pagi!” sapa salah satu dari mereka
“Nabila? Agus?” ucap kagetnya
“Hai, Bro!”
Radit yang syok langsung menutup kembali pintunya,
“Gawat!! kalau mereka tau gue serumah sama El, Habis gue! Gue harus amanin semuanya.” ucapnya pelan.
Dengan cepat Radit mengambil seluruh foto pernikahan yang dipajang dan menyembunyikannya di dalam gudang,
“Bisa gawat kalau mereka tahu!” gumamnya.
Setelah dirasa semua sudah diamankan, Radit kembali membukakan pintu dengan nafas yang tersekat sekat ia berkata. “Sorry, Tadi rumahnya berantakan, jadi gue rapihin sebentar.”
Agus pun menerobos masuk. “Oh Gitu ya?”
Mereka pun melihat ke arah sekeliling,
“Rumah lo gede juga ya? Lo gak takut tinggal sendirian?” tanya Agus
“Enggak!” Radit menggelengkan kepalanya cepat.
“O ya, Kalian tau dari mana gue disini?” tanya Radit heran
“Oh, Gue tau dari bokap lo.”
“Oh,” Radit menganggukkan kepalanya
“Eh, Dari bokap gue? Trus dia ngomong apa lagi?”
“Gak ngomong apa apa lagi, kenapa emangnya?” Agus menatap curiga pada Radit.
“Oh Gapapa, kalian duduk aja dulu, gue ambilin minum dulu.” Radit pun melangkah menuju dapur,
“El kemana sih? Tiba tiba ngilang gitu gak tau kemana, Tapi ada untungnya sih dia gak ada, jadi gak ketauan.” gerutu Radit
Ia kemudian hendak membuka lemari es namun matanya menangkap secarik kertas yang tertempel di sana, berisi pesan yang ditinggalkan oleh El.
‘Gue pergi lari pagi bentar, hari ini bibi gak dateng, jadi tolong lo bersihin rumah!’
“Eh buset, dia kira gue babu?” Radit yang merasa kesal pun meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia menyiapkan beberapa cemilan dan juga minuman segar untuk kedua temannya.
“Makanan datang,” ucap Radit seraya menyimpan makanan dan minuman tersebut diatas meja.
“Makasih, padahal gak usah repot repot lho.” ucap Nabila
“Gapapa koq bil, cuman cemilan doang.” jawab Radit
Agus menatap mereka bergantian,
“Ekhem, nasib jadi jomblo ya gini, ketika bertiga malah kayak obat nyamuk.” ucap Agus
Nabila dan Radit pun tertawa mendengarnya,
Tiba tiba terdengar suara pintu utama yang terbuka,
Radit membulatkan kedua matanya dan langsung menuju ke pintu,
“El? koq lo udah balik?” ucapnya pelan
“Kenapa? Ini kan rumah gue juga!”
“Siapa dit?” teriak Agus dari dalam rumah
“Bukan siapa siapa! cuman SPG yang nawarin produk!” teriak Radit
Plakk
Elvira memukul lengan Radit,
“Apa lo bilang?” ucap Elvira dengan raut wajah kesal
“Udah ntar aja berantemnya! di dalam ada Agus sama Nabila, lebih baik lo pergi kemana dulu kek, gue takut mereka liat.” ucap pelan Radit
Elvira menghela nafas kasar dan ia pun melangkah pergi keluar,
“Siapa dit?” tanya Nabila yang tiba tiba sudah berada di belakangnya.
“Ya ampun ngagetin aja,” Radit mengelus elus dadanya
“Bukan siapa siapa koq, ayo kita lanjut belajarnya.”
***
Elvira yang merasa kesal pun memutuskan untuk berjalan jalan di taman dekat rumah, tanpa sengaja kedua matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi untuknya tengah berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang taman.
“R-Raka?”
Kedua matanya pun berkaca kaca, Ia kemudian berlari untuk menghampirinya
“Raka!” teriaknya
Namun, teriakan Elvira tak terdengar oleh Raka.
Langkah Elvira pun terhenti melihat sosok seorang gadis yang di hampiri oleh Raka,
“D-Danisa?”
Bagaikan tersambar petir, Ia melihat bagaimana Raka memperlakukan Danisa dengan begitu mesranya.
“J-jadi, Danisa orangnya?” gumam Elvira
kenyataan jika selingkuhan Raka adalah sahabatnya sendiri membuatnya sangat syok.
Cairan bening itu pun menetes begitu saja, Kakinya tiba tiba tidak bisa digerakkan, tubuhnya pun terasa kaku, Ia pun mulai kehilangan keseimbangan dan..
Blugh
Elvira jatuh pingsan.
***
Sementara itu,
“Dit, Bil, Gue pamit duluan ya.” ucap Agus
“Lo mau kemana?” tanya Radit
“Nyokap gue ngechat nyuruh gue pulang, gak tau deh mau ngapain, paling disuruh pasang gas.” Agus terkekeh
“Ya udah, hati hati ya.” ucap Nabila
“Sorry ya, Bye.”
Agus pun dengan langkah cepatnya bergegas melangkah keluar dan langsung mengendarai motornya,
Di perjalanan, tanpa sengaja ia melihat sebuah kerumunan di pinggir jalan.
“Ada apa ya?” Agus pun memperlambat laju motornya.
Kedua matanya membulat sempurna saat melihat tubuh yang tergeletak di atas tanah.
“Bu Elvira?” syoknya
Agus langsung menghentikan laju motornya dan menghampiri Elvira,
“Tolong telepon ambulance!” teriaknya
Salah seorang dari mereka pun menghubungi ambulance,
Tak lama kemudian, ambulance pun tiba, dan Elvira pun dibawa ke rumah sakit.
Setelah mendapatkan pemeriksaan,
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya agus khawatir
“Tidak apa apa, beliau hanya kelelahan saja.” terang Dokter
“Begitu ya? terima kasih dok.”
“Iya sama sama.”
Agus pun melangkah mendekat ke arah Elvira yang terbaring lemah diatas tempat tidur, Ia duduk disampingnya dan menatap dalam Elvira.
“Kamu itu sosok gadis yang sangat misterius, terlalu banyak yang kamu sembunyikan dibalik topengmu yang terlihat dingin, dan aku ingin sekali bisa menjadi seseorang yang menghangatkan hatimu yang dingin itu.” gumamnya
Dilain sisi,
Terlihat seseorang yang berjalan kesana kemari berulang kali, dengan sesekali melihat jam tangan yang ia kenakan.
Ia kemudian meraih ponselnya, dan untuk kesekian kalinya ia kembali menghubungi nomor yang ia tekan,
‘Nomor yang anda tuju tidak aktif.’
Lagi lagi hanya suara operator yang ia dengar,
“Ck, El kemana sih? Udah sore gini masih juga belum pulang.” Decak kesal Radit
“Apa dia marah gara gara gue usir tadi ya?”
Tak lama kemudian,
Ting tong
Terdengar suara bel berbunyi, Radit pun bergegas membukakan pintu.
“El, Lo darimana aja?” tanya Radit kesal
“Bukan urusan lo!” jawab sinis Elvira
Radit memperhatikan sesuatu yang aneh di wajah Elvira,
“Koq muka lo pucet gitu? Lo gapapa?”
“Gak usah pura pura perhatian!” Elvira melangkah masuk ke dalam rumah.
“Nyesel gue nanya!” gumam Radit seraya menutup pintu.
***
Keesokkan harinya,
Radit melihat wajah Elvira yang semakin terlihat pucat,
“Lo beneran mau nyetir? Muka lo pucat gitu.”
“Iya, gue gapapa.”
Setibanya di kampus,
Baru beberapa langkah keluar dari mobil, elvira kembali ambruk dan jatuh pingsan, Radit yang panik pun langsung menggendong Elvira ala bridal style, Ia berlari menuju ruang kesehatan tanpa memperdulikan dirinya yang menjadi pusat perhatian karena menggendong Elvira.
“Dit?” panggil Agus
Namun panggilan agus tidak ia dengar, begitupun dengan keberadaan Nabila yang ia lewati begitu saja, sehingga membuat Nabila terdiam mematung.
Setibanya di ruang kesehatan,
“Ada apa?” tanya seorang dokter.
“Saya tidak tau, dia tiba tiba saja jatuh pingsan, sejak pagi wajahnya memang sudah pucat.” terang Radit dengan nafas terengah engah
Dokter pun langsung memeriksa keadaan Elvira,
“Sepertinya, Bu Elvira belum makan sejak kemarin? dan itu menyebabkannya pingsan.”
Radit baru menyadari jika sejak kemarin, Ia memang tidak melihat Elvira memakan sesuatu.
“Dit?” panggil Agus yang ternyata mengikuti langkahnya
“Bu Elvira kenapa lagi? Padahal kemarin dia dari rumah sakit.” terang Agus yang membuat Radit semakin terkejut.
“Lo tau darimana?”
“Kemarin waktu di perjalanan pulang, gue gak sengaja nemuin bu elvira pingsan di pinggir jalan, trus gue bawa dia ke rumah sakit, dokter bilang dia kecapean.”
Radit pun menatap dalam Elvira, Ia merasa bersalah karena membiarkan Elvira pergi begitu saja.
***
Ia memutuskan untuk membawa pulang Elvira ke rumah.
“Biar gue aja dit, yang anterin bu El ke rumahnya.” agus menawarkan diri
“Ga usah, biar gue aja.”
“Tapi..?”
“Gapapa, lagian gue juga yang nemuin dia pingsan tadi.”
“Yaudah, ati ati ya.”
“Hm.”
Radit pun membawa pulang Elvira.
Di perjalanan,
“Kenapa lo bisa pingsan gini?” tanya Radit
Elvira hanya terdiam seraya menatap ke arah luar jendela, Kedua matanya terlihat berkaca kaca menahan tangis.
“Apa gue bikin salah sama lo?”
Tidak ada jawaban dari Elvira, Radit pun hanya menghela nafas kasar.
Setibanya di rumah, Elvira langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Dia itu kenapa?” gumam radit.
Ting tong
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi, Radit pun bergegas membukakan pintu.
Matanya membulat saat ia melihat kedua orang tuanya yang tiba tiba datang dan berada di hadapannya sekarang.
“P-papa? mama?”
Mama pun langsung memeluk erat putranya itu.
“Bagaimana kabar kamu, Nak?”
“B-Baik Ma.”
Mama melepaskan pelukannya dan mengelus lembut wajah Radit.
“Kamu gak kuliah?” tanya papa heran
“I-ini pah, El tadi pingsan di kampus, jadi Radit nganterin El ke rumah untuk istirahat dulu.”
“Pingsan? Kenapa bisa pingsan?”
“Dokter bilang kecapean.”
Mama dan papa pun langsung melangkah cepat menuju ke kamar Elvira.
Tok tok tok
“El?”
Mendengar seseorang memanggilnya, Elvira kemudian membukakan pintu kamarnya, dan ia sama terkejutnya dengan Radit.
“P-papa? Mama? S-Silahkan masuk.”
“Kamu gapapa? Radit bilang kamu tadi pingsan di kampus?” tanya papa khawatir.
El pun melemparkan senyumannya
“Aku gapapa Pah, Papa gak usah khawatir.”
“Gimana gak khawatir, kamu sampai pingsan gitu. Lain kali jangan terlalu kecapean El, Papa janji akan segera mengajarkan Radit bagaimana caranya bertanggung jawab pada seorang istri.”
“Gapapa Pah, lagipula Radit sudah cukup baik menjadi seorang suami.”
Radit terlihat salah tingkah mendengar pujian tersebut.
“Kalau gitu, Papa sama mama bakalan menginap disini sampai kamu sembuh.”
“APA?” ucap kaget Elvira dan Radit
Papa pun merasa heran melihat reaksi keduanya.
“Kenapa?”
“Emm.. Kami bakalan merasa canggung aja sama Papa dan juga Mama. El sudah ada Radit yang merawat.”
Mereka berdua pun menatap Radit yang melemparkan senyuman canggungnya.
Papa menghela nafas panjang.
“Baiklah, Papa dan Mama akan menginap disini malam ini. dan akan pergi esok hari.”
‘Aduh, Gimana nih? Mereka bisa bisa tahu kalau selama ini kami tidur di kamar yang terpisah.’ batin Radit.
Setelah papa dan mama keluar dari kamar El, Radit pun menutup pintu kamar perlahan.
“Ada apa?” tanya El ketus
“Psstt, Jangan keras keras!”
Radit pun mendekat ke arah El
“Gue pengen ngomong sama lo,”
“Ngomong apa?”
“Kita harus bikin strategi biar papa sama mama gak tau dengan kondisi pernikahan ini yang sebenarnya,”
“Maksudnya?”
“Kita harus tidur di kamar yang sama, karena kalau mereka sampai tahu kita tidur di kamar yang terpisah, bisa mati!”
“Gue gak mau! Lo harus tetep tidur di kamar lo sendiri!” El melangkah pergi menuju tempat tidurnya.
“Ckk, terserah! Gue gak rugi juga. Kalau semua ini sampai terbongkar, siap siap aja lo jadi janda!”
Radit pun melangkah pergi meninggalkan Elvira sendirian.
Malam hari pun tiba,
Selesai makan malam, Elvira berpamitan untuk pergi ke kamar duluan.
“El duluan ya pah, mah?”
“Iya El, selamat istirahat ya!”
Elvira pun melangkah pergi ke kamarnya.
Hingga larut malam, Radit masih setia di depan layar televisi mengikuti pertandingan sepak bola favoritnya.
Mama yang terbangun dari tidurnya mendapati Radit yang masih menonton televisi,
“Radit, kamu masih belum tidur?”
“Oh Belum mah! Radit masih mau nonton dulu.”
“Jangan begadang hanya untuk menonton bola, kasihan istri kamu menunggu di kamar, lebih baik kamu ke kamar sekarang dan temani dia.”
“I-iya mah.”
Radit pun menuruti perintah mamanya.
Namun, mamanya merasa heran karena Radit memasuki pintu kamar yang lain.
“Lho? Kok Radit malah masuk kesana?”
Mama pun mengetuk pintu kamar tersebut.
“Radit?” panggil mama
Mendengar suara mama, Radit langsung terkejut.
“Gawat! Mama pasti liat gue masuk kesini, aduh gimana nih?” gumamnya
Radit mondar mandir seraya berpikir apa yang harus ia lakukan.
Radit pun membuka pintu kamarnya
“Iya ma?”
“Kenapa kamu masuk kesini? Kamar Elvira kan disana?” tanya heran mama
“Oh i-iya, Hooaamm, Karena ngantuk radit jadi gak nyadar masuk kesini.”
Mama pun tersenyum.
“Ya udah sana.”
Radit pun melangkah masuk ke dalam kamar Elvira yang tidak terkunci.
“Huufftt, hampir aja.” ucap pelan Radit
Tatapannya pun beralih pada sosok elvira yang tengah tertidur lelap di tempat tidur miliknya.
Radit pun menghampirinya, Ia memperhatikan wajah sang istri yang terlihat sangat lelah.
Radit pun berjongkok disamping tempat tidur dan menatap lekat Elvira, seketika ia teringat kejadian tempo hari.
“Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan juga Kakakku? Apa yang sudah kakak lakukan sama kamu?”
Radit mengulurkan tangannya dan hendak mengelus kepala Elvira, namun geraknya terhenti saat tiba tiba Elvira membuka matanya.
“Radit?” Elvira terkejut melihat Radit berada sedekat itu dengannya hingga ia reflek mendorong Radit dengan cukup keras.
blugh
“Aww!” terdengar teriakan keras Radit yang terjatuh.