Lo dan Raka

1108 Kata
"Radit, Lo ngapain di kamar gue?" Radit yang tersungkur diatas lantai hanya merintih kesakitan karena dorongan keras el padanya. "Lo gak kira kira ya, ngedorong suami lo sampe terjungkal kayak gini!" ucap kesal Radit "Lagian salah sendiri, tiba tiba muncul di depan muka gue." Mendengar suara ribut di kamar elvira, papa dan mama pun menghampiri mereka, "Ada apa ini?" tanya papa cemas Radit pun berdiri seraya memegang pinggangnya yang terasa linu. "Gapapa koq pah, Radit cuman jatuh dari tempat tidur barusan. Mama dan papa pun tersenyum menatap mereka. "Ya sudah, lanjutkan kegiatan kalian. papa dan mama ke kamar dulu." Baru beberapa langkah papa kembali menatap ke arah Radit, "Radit, selamat berjuang! semangat!" ujar papa seraya mengangkat tangan kanannya. Radit mengerutkan dahinya, Ia merasa heran dengan tingkah papa. dan hanya ikut mengangkat tangan kanannya. Papa dan mama pun melangkah pergi meninggalkan mereka. Tiba tiba Bugh Lemparan bantal Elvira tepat mengenai wajah Radit, "Lo, tidur dibawah!" "Apa? Kenapa gue harus tidur dibawah?" "Lagian siapa yang nyuruh lo masuk kesini?" "Eh, jelas jelas ini bukan mau gue! Lo gak liat, gimana mama papa ngawasin gue?" "Ya udah, lo tidur di bawah!" "Enggak!" Radit yang tidak mau mengalah pun langsung memaksa tidur di atas tempat tidur hingga terjadi dorong dorongan. "Ih, pergi gak lo!" Elvira mendorong radit dengan kakinya. "Lo tuh ya! Gue gak mau tidur di bawah! badan gue bisa sakit!" "Manja!" "Ya udah, lo aja yang tidur dibawah!" "Gaak!" "Tuhkan, Lo juga sama." Elvira pun akhirnya mengalah, ia menumpuk bantal guling di tengah tengah. "Pokoknya, lo gak boleh keluar dari batas ini, Inget ya!" "Iya iya!" Radit kemudian berbaring dan memunggungi Elvira, begitupun dengan Elvira. Beberapa menit berlalu, namun kedua mata mereka tidak mau terpejam. 'Koq gue malah jadi gak ngantuk ya? gara gara dia nih ganggu gue terus.' batin mereka berkata. Elvira pun berbalik, ia melihat punggung Radit yang terlihat nyaman, reflek ia pun mendekat dan menyandarkan kepalanya di punggung Radit Degh Radit yang memang belum tertidur pun membulatkan matanya. 'Apa el udah tidur ya?' batin radit Radit pun membiarkan El bersandar di punggungnya. Matahari pun menampakkan sinarnya, cahayanya menembus celah celah gorden kamar. Tok tok tok "Radit, El, Apa kalian masih tidur?" Mendengar suara mama, Radit dan El pun langsung terbangun. Namun betapa terkejutnya mereka, karena terbangun daalam posisi saling berpelukan. "Aaaaaaaaaa." Radit dan elvira berteriak bersamaan. Papa dan mama yang mendengar teriakan mereka pun merasa khawatir dan langsung membuka pintu kamar mereka. "Ada apa?" tanya papa "Kenapa lo meluk gue?" tanya elvira syok "Gue yang harusnya ngomong gitu!" "Eh apa apaan kalian! Apa kalian kehilangan ingatan atau bagaimana? Kalian itu suami istri, jadi wajar jika tidur sambil berpelukan." ujar papa Elvira dan raditya pun saling bertatapan dan kembali memalingkan wajahnya. "Iihhhhh." Raditya langsung melangkah pergi menuju ke kamar mandi. Papa dan mama hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar anak zaman sekarang." *** Di lampu merah, tanpa sengaja mobilnya berdampingan dengan sebuah mobil yang tidak asing untuknya, matanya pun menangkap sosok yang selama ini ia rindukan. Ia melihat Raka yang tengah tertawa bahagia bersama Danisa di dalam mobil. Radit yang berada di sampingnya merasa heran melihat Elvira yang terdiam menatap ke arah samping. "Ada apa?" Namun tidak terdengar jawaban dari Elvira, Ia pun menatap ke arah pandangan Elvira. "Kakak?" Radit yang hendak memanggil kakaknya pun terhenti karena melihat seorang gadis disamping kakaknya, Ia langsung menatap Elvira yang terlihat menahan tangis. "Lo, gapapa?" tanya Radit cemas. Lampu pun berubah hijau, Elvira langsung melajukan kendaraannya dengan kencang. "Woy, pelan pelan!" Radit syok dengan yang dilakukan Elvira. Namun ucapan Radit tidak didengar oleh Elvira, Ia terus saja melajukan kendaraannya dengan kencang hingga membuat Radit berpegangan erat. "Lo pengen bunuh gue? berhenti!" teriak Radit. Tiba tiba Elvira menginjak rem mendadak, dan membuat kepala Radit terantuk bagian depan mobil "Aduh!" Radit yang bersiap untuk memarahi gadis itu pun terhenti karena melihatnya yang meneteskan airmata. "El?" panggil Radit Elvira pun menatap Radit dan tangisnya pun pecah. Radit membiarkan elvira menangis untuk mengeluarkan semua kesedihannya. *** Setibanya di kampus, Elvira terlihat murung, wajah dinginnya semakin terlihat. Tapi bagi Radit, wajah dingin Elvira sudah menjadi pemandangan biasa. Ia justru khawatir dengan kesedihan yang dirasakan Elvira. 'Apa El gapapa?' batinnya melihat sang kakak tadi membuatnya merasa sangat kesal. 'Bisa bisanya dia lakuin semua itu sama El.' Reflek Radit pun menggebrak meja yang berada di hadapannya. Brakk "Gak bisa!" Sontak seluruh siswa yang berada di dalam ruangan begitupun dengan dosennya langsung terkejut dan menatap tajam ke arah Radit. "Gak bisa apa?" tanya dosen yang kebingungan. "I-itu pak, gak bisa emm gak bisa ditahan lagi pak! saya mau pergi ke toilet, permisi pak!" radit langsung berlari keluar ruangan. Dosennya pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya. *** "Radit.. radit! lo bikin malu diri lo sendiri" gumamnya. Radit terus berjalan menuju ke toilet tanpa memperhatikan langkahnya. kemudian tanpa sengaja, Blugh Radit menabrak seseorang didepannya, "Eh, maaf maaf." "Iya, gapapa." Pandangan mereka pun bertemu, "Lho, Nabila?" Nabila pun melemparkan senyuman manisnya. Radit kemudian mengajak Nabila untuk mengobrol di Cafetaria. "Kamu apa kabar?" tanya ramah Radit. "Baik, Kamu sendiri?" "Aku juga baik, ngomong ngomong ko kita kaku banget ya? kayak belum kenal aja." Nabila pun tersenyum malu. 'Etdah, Tuh senyuman manis banget kayak gula.' batin Radit. "Kamu ada waktu gak sore ini?" "Emang kenapa?" "Gapapa, aku cuman pengen ajak kamu nonton." Nabila mengangguk anggukkan kepalanya. "Boleh." "Kalau gitu, aku jemput kamu nanti jam 5 sore. Oke?" "Oke." Mereka pun melanjutkan obrolan hingga tak terasa sudah lebih dari satu jam. *** Radit tengah bersiap untuk menjemput Nabila. "Duh, Gimana jemput nabilanya ya? Motor gue kan di rumah bokap." Radit pun berpikir sejenak, "Gue bujukin El, siapa tau dia mau minjemin mobil itu." Radit pun dengan langkah cepatnya menuju ke kamar Elvira. Tok tok tok "El?" beberapa kali radit mengetuk, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. "El, gue pinjem mobil dong bentaran! ntar gue balikin lagi, janji deh!" Hening Merasa tidak ditanggapi, Radit pun mulai merasakesal. "El?" teriaknya "Kalau lo gak mau minjemin, gue dobrak pintu kamar lo!" ancam Radit. Namun tetap tidak ada suara. "El? Bener ya? Gue gak tanggung jawab kalau lo kenapa kenapa! gue mulai ngitung ya, satu... dua... ti..." "Lo ngapain di depan kamar gue?" tanya El yang tiba tiba berada di belakang Radit. "K-Koq lo ada disitu?" "Ditanya malah balik nanya!" elvira pun melangkah masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh langkah Radi. "El, gue mau pinjem mobil. bentaran aja, gue ada janji sama..." ucap radit terpotong karena tiba tiba Elvira melemparkan kunci mobil ke arahnya. Radit pun dengan sigap menangkapnya. "Beneran nih? Biasanya lo introgasi gue kalau gue mau pergi." Elvira hanya diam dan membereskan buku buku miliknya. "Tapi, makasih ya. Gue pergi dulu! ntar gue langsung balikin." Radit langsung melangkah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN