"Apa si Ayana itu hamil duluan ya? Rasanya gak percaya banget kalau pak Alfarezi mau nikah sama dia." "Iya. Kan gak setara gitu. Pak Alfarezi mapan, tampan, punya segalanya. Sedangkan si Ayana itu... kita tahu sendiri lah dia bagaimana. Hahaha...." Cuap-cuap buah bibir itu terdengar itu ketika Ayana melewati lobi, hendak ke kantin karena Alfarezi menyuruhnya ke sana segera. Iya, acara penyambutan Alfarezi menjadi pimpinan baru tidak dihadiri oleh Ayana sebab saat itu tiba-tiba ada pasien kecelakaan yang baru datang harus segera ditanganinya. Alhasil, dia harus memilih menangani pasien, dibanding mendengar sambutan Alfarezi. Tetap profesional. Mendengar itu membuat langkah Ayana berhenti sejenak, menarik senyumnya dan lanjut melangkah lagi menuju kantin. "Kalian gak akan tau apa yang t

