Ayana baru selesai masak untuk nanti malam, hendak membersihkan diri setelah seharian ini diuji oleh perasaan yang tidak menentu. Sebelum masuk ke kamar mandi, sempat mengecek ponselnya. Ia kaget melihat begitu banyak panggilan dari nomor yang sama, tapi tidak diketahui olehnya. Takut berani untuk menghubungi lagi, Ayana memilih untuk tidak menggubrisnya. Langkahnya sudah hampir sampai di kamar mandi, suara ponselnya kembali berdering. Menautkan alisnya bingung, dari orang yang sama. Sama persis, tidak ada satupun yang berbeda. "Siapa dia? Rajin sekali menghubungiku. Apa dia tidak punya kerjaan lain?" Meskipun begitu, ia menerimanya. Menempelkan ponselnya dan menunggu orang itu yang berbicara lebih dulu dibandingkan dirinya yang memulai. Sebab ia suka tidak tahu harus memulainya dari

