"Saya hanya takut kehilangan...." Kata itu selalu terngiang-ngiang di otak Alfarezi. Dia sampai tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat. Pikirannya terus berputar pada kata yang begitu terkesan dalam itu. Tidak hanya dia, bahkan Erik dan Sakila pun juga melakukan hal yang sama. "Sepertinya saya terlalu berlebihan dan membuat ini menjadi tidak nyaman. Maafkan saya pak Erik, ibu Sakila, pak Alfarezi, saya tidak bermaksud membuat makan bersama ini menjadi tidak nyaman. Terimakasih atas jamuannya yang sangat luar biasa, saya pamit pulang." Ayana berkeinginan untuk pulang, bangkit dari kursinya. Dengan cepat Alfarezi juga ikutan bangun. "Aku antar kamu. Jangan pulang sendirian!" Katanya tegas. Alfarezi berlari naik ke kamarnya dan tidak lama dari itu dia kembali muncul dengan membawa

