Alfarezi seperti cacing kepanasan. Sampai jam 1 pagi, ia tak kunjung bisa tertidur. Kerjaannya hanya bolak-balik tidak karuan, sampai-sampai sepertinya mesin AC di kamarnya ngambek dan tidak berfungsi lagi. Gerah karena resah memikirkan Ayana, juga gerah karena AC rusak di waktu yang tidak tepat. "Ayana ku sayang… kapan sih kamu mau pulang biar aku bisa peluk kamu lagi? Aku gak sanggup tidur sendirian terus sampai berbulan-bulan." Ia berbalik badan lagi menjadi telungkup, melebarkan tangan dan kakinya dari ujung ke ujung saking gabutnya. Sekarang, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain mengeluh. Berharap Ayana pulang pagi ini dari Bogor ke Jakarta pun sepertinya sangatlah percuma. "Apa aku harus kerja di sana, ya?" "Atau bangun rumah di sana juga? Biar gak jauh dari anak dan

