Tok! Tok! Tok! "Sayang, tolong bukain pintunya dong! Jangan kekanakan gini!" Tok! Tok! Tok! Tangan Alfarezi sudah terangkat ingin menggebrak pintu kamarnya. Beruntungnya ia berhasil menahan amarahnya meski sesak di d**a semakin memenuhi dirinya. Ia ingin sekali mendobrak pintu agar bisa berbicara dengan Ayana, tapi tidak bisa. Ayana tidak mau mendengarnya sama sekali, malah terkesan tutup telinga. "Sayang!" Teriak Alfarezi, hampir kehabisan kesabaran. "Tolong kamu bukain aku pintu kamar kita. Aku mau masuk dan bicarain masalah ini dengan baik-baik. Kamu jangan kekanakan kayak anak kecil. Aku berhentiin kamu kerja di sana supaya tidak terpengaruh sama Cantika lagi, bukan karena selingkuh sama dia. Bahkan kamu pegang sendiri HPku, tapi tidak ada catatan sedikitpun aku chat dengannya."

