"Apa sebaiknya kita ke kamar saja?" Tanya Alfarezi dengan nada yang sudah sedikit melemah. Napasnya sudah tidak teratur, sama seperti Ayana yang sedari tadi pikirannya sudah diluluh lantakkan oleh sentuhan demi sentuhan dari Alfarezi di momen menuju malam pertama mereka ini. Ayana masih belum sanggup membuka matanya. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus yang kepanasan. Sedari tadi tangannya tidak lepas dari bahu suamimya. Adalah pemandangan yang begitu indah ketika Ayana memejamkan matanya dengan tubuh menggeliat ingin membanting diri sendiri seketika saat Alfarezi mulai meraba-raba lebih jauh untuk merangsang mereka masing-masing. Kini keduanya dalam keadaan tanpa benang sedikitpun di dalam bathtub. Alfarezi masih memangku Ayana, belum mulai memasuki ke intinya. Dia masih ingi

