Ceklek. "Belum tidur?" Tanya Ayana langsung pada suaminya yang tampak murung di atas kasur. Dia bersandar dengan raut muka menahan kesal. "Gimana aku bisa tidur?! Dipanggil masuk kamar malah keasikan main. Aku kan jadi kesal, aku marah diabaikan seperti ini. Gak boleh ada yang bisa mengalihkan perhatian istri kamu, meski keponakanku sekalipun!" Batin Alfarezi. Tidak ada jawaban dari pria itu, hanya membuang mukanya kesal. Ayana paham kalau Alfarezi sedang kesal, tapi tidak sepenuhnya menjadi kesalahannya juga. Suaminya ini sudah memanggilnya berulang kali untuk masuk ke kamar, hanya saja keponakan-keponakan suaminya yang masih kecil yang kini menjadi keponakannya juga, selalu mengajaknya main. Mereka mengajak Ayana main kuda-kudaan lah, main Barbie lah, main petak umpet lah, dan mas

