Masalah baru

1474 Kata
Aku meraba-raba yang ada disekelilingku. Mencari Fika. "Fik? Fika? Kamu kemana? Kok enggak ada sih? Fika." ucapku seraya terus mencari, layaknya seorang tunanetra dadakan. Aku terus melangkah maju dalam keadaan meraba seperti itu, hingga diriku tak sengaja tersandung hingga menyebabkan diriku hampir terjatuh. Akan tetapi ketika akan terjatuh, seseorang keburu menangkap tubuhku. Aku merasakan wangi parfum yang begitu enak tercium oleh hidungku. Parfum lelaki yang sangat familiar dan sering kucium. Seperti parfum siapa ya? Ah tapi intinya orang yang menangkapku saat itu adalah seorang pria. Aku harus menjauhkan diriku darinya reflek. "M-maaf... saya enggak sengaja." ucapku. Tiba-tiba saja pria itu segera membuka penutup mataku hingga membuatku langsung terlonjak ketika melihat dengan jelas siapa pria bersetelan jas rapih yang ada dihadapanku. Dia adalah... Mas Rian. "Mas, Rian?" tanyaku. Ternyata dia sudah sampai. Syukurlah, Fika pasti sudah lumutan menunggunya sejak tadi. "Yaudah Mas sekarang kamu temuin pengantinmu gih. Dia udah nungguin dari tadi." pintaku. Mas Rian tersenyum melihatku. "Pengantinnya ada disini." ucap Mas Rian menunjukku dengan dagunya. Aku terheran. "M-maksud--" Aku langsung tersadar saat melihat pakaian sangat indah yang kupakai. Ini... bukankah yang kupakai ini terlihat seperti gaun pengantin? Bahkan wajahku terasa sangat lengket saat itu ditambah pernak-pernik diatas kerudungku yang kini terasa begitu berat. Tidak mungkin... mungkinkah yang dikatakan Mas Rian barusan... sungguhan?! Kalau aku adalah pengantinnya?! Tapi bagaimana dengan Fik-- Di seberang sana Fika tampak melambai seraya menyunggingkan senyuman manis padaku. Apakah dia yang merencanakan ini semua?! Aku kembali melihat ke arah Mas Rian yang tak bosannya tersenyum padaku. "Mbak Lisa, udah siap kan?" tanya Mas Rian. Aku terheran menatapnya penuh tanya. "Apa?" "Yuk nikah." ucap Mas Rian lagi, tersenyum lebar. Aku balik tersenyum malu. "Y-yaudah." ucapku gugup. Hilya, Rhena maupun banyak orang yang menonton kami saat itu pun saling menggoda bahkan melempar kami dengan satu per satu bunga. Setelahnya acara akad nikah pun dilaksanakan, diriku dan Mas Rian resmi menikah hari itu, seusai akad itu diikrarkan. Aku pun mencium tangan Mas Rian lalu setelahnya giliran Mas Rian mencium keningku. Kebahagiaan hari ini... sejatinya adalah penutup dari kesedihan yang sudah kita lalui bersama dan pembuka bagi kisah kami selanjutnya ke depannya. Satu bulan setelah pernikahan aku dan Mas Rian diadakan. Kami berdua tinggal di rumah lamaku, rumah dimana aku dan Mas Indra biasa menghabiskan waktu. Rumah yang sengaja Mas Indra beli untuk kami berdua. Terkadang aku menangis menyadari kalau Mas Indra sudah benar-benar tidak ada. Rasanya seperti mimpi melihatnya tidak berbaring di kasurnya, duduk di kursi depan atau memelukku dari belakang ketika berada di dapur. Aku... diam-diam merindukan sosoknya yang seperti itu. Mas Rian segera menyesap teh manis yang kubuat lalu bangkit dari kursi. Ia melihatku terdiam. "Kenapa Mbak?" tanyanya tersenyum samar. Aku segera menggeleng. "Enggak apa-apa. Udah berangkat gih, udah kesiangan." ucapku. Mas Rian menebak."Keinget Mas Indra ya?" tanyanya. Aku menapi. "Apasi, enggak." ucapku setengah tertawa. "Serius Mbak, Mbak lagi keinget sama Mas Indra kan yang suka duduk disini?" tanya Mas Rian, aku tidak menyangka perkiraannya seperti tepat sasaran. Dia ini dukun beranak bukan sih? "Dikit. Udah kamu berangkat." ucapku mengusirnya. "Loh, dikit berarti iya kan?" tanya Mas Rian yang beralih memegang kedua tanganku dan menatapku lekat. "Kenapa Mbak? Apa Mbak ngerasa saya kurang tampan hmm? Atau saya kurang baik seperti Mas Indra? Atau saya kurang... romantis?" tanya Mas Rian yang berangsur menaikkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Mas Rian menatapku dengan pandangan liarnya, wajahku mendadak memerah. Dia ini apa-apaan sih! Bikin jantungku serasa dibombardir saja! Aku segera menjauhkan diriku darinya. "E-enggak kok. Enggak gitu. Malah justru.. kamu... lebih peka aja dari Mas Indra." ucapku segera menyudahi kesalahpahaman itu, bagaimanapun aku tidak ingin membuat Mas Rian khawatir apalagi sampai merasa dirinya dibandingkan dengan almarhum Mas Indra. Bagaimanapun mereka berdua sama-sama berarti di mataku. "Kalian itu sama-sama baik, sama-sama bernilai di mata Mbak. Jangan sekali-kali deh kamu bandingin diri sama Masmu. Udah pergi sana. Mbak usir kamu pake baygon! Mana tuh baygon." ucapku seraya mencari baygon semprot. Mas Rian tertawa. "Dih Mbak nih, memangnya saya nyamuk apa?" tanya Mas Rian. "Ya terus pakai apa? Sapu?" tanyaku. "Bukan laler." balasnya tertawa. "Yaudah kepret aer deh." Ia semakin tertawa. "Bukan kucing!" "Yaudah sendal." "Enggak nyolong mangga tuh." ucapnya. "Ya terus apa?! Buru Mas! Udah jam setengah tujuh lewat!" tanyaku frustasi. "Usir pakai cium aja." ucap Mas Rian langsung membuat wajahku memerah apel. Aku pun menutup wajahku dengan kedua tangan. "Akhh! Enggak mau! Takut akh!" ucapku. "Takut nambah?" tanya Mas Rian, aku mencubitnya, masih menutup wajahku dengan tangan. Mas Rian memegang kedua tanganku mencoba melepas tutupan tanganku. "Pokoknya harus cium dulu, enggak bakal pergi kalo enggak cium." ucapnya. "ENGGAK! CIUM ASPAL SANA." tolakku. "Loh, enggak gitu lah. Kita kan udah sah Mbak. Ayo lepas. Ayo Mbak Lisa istriku." ucap Mas Rian seraya melepas tutupan kedua tanganku dari wajah secara perlahan. Aku malu-malu melihatnya. Baru mendongak, Mas Rian sudah keburu mencium keningku lembut. Aku pasrah, semau dia saja deh. Ia menatapku teduh lalu tersenyum. "Gitu dong. Itu baru istrinya Mas direktur." ucap Mas Rian. Aku tergelitik ingin tertawa. Tapi mau gimana, tampangnya sweet begitu. Nanti dikira merusak suasana lagi. Kutahan saja deh tertawanya. Mas Rian pun keluar rumah bersama motornya lalu pagar yang semula kubuka langsung kututup kembali. Mas Rian di luar pagar langsung mengerlingkan matanya ke arahku. Dasar genit! Dia ini enggak mirip sama sekali dengan Mas Indra, sumpah deh! Tapi entah kenapa ya kalo jauh rasanya kangen terus. Akh, aku ini kenapa sih! Sindrom penyakit anak muda kayaknya sedang menggerogoti! Aku segera melambai tangan padanya. "Hati-hati." "Assalamualaikum." ucapnya seraya pergi mengendarai Nmaxnya. Aku membalas. "Waalaikumussalam." Tiba-tiba aku mendengar percakapan orang depan rumahku yang kala itu sedang berbincang dengan saudaranya. Beliau adalah Bu Ratmi. Seingatku itu adalah saudara dari kampungnya yang sedang main kemari. "Iya tanah kuburan suaminya masih basah loh tapi udah punya suami lagi. Apa enggak bikin kesal orang tua yang kayak gitu?" tanya Bu Ratmi. "Kok bisa sih menikah kayak gitu? Apa enggak kasihan sama almarhum suaminya?" tanya saudaranya itu. "Jadi gini loh Bude, dia kan suaminya mengidap HIV terus meninggal. Wong sakit HIV kan berat ya, eh malah istrinya tinggal kabur. Ya masa sakit HIV ditinggal gitu aja bukannya dirawat atau dibawa ke rumah sakit, ini malah ditinggal. Enggak etis kan Bude? Kok tega gitu sama suami sendiri begitu, ditelantarin. Coba kalo kebalik, dia yang sakit HIV gimana tuh, suaminya kan yang ngurusin?" tanya Bu Ratmi. Aku mengernyit kesal, dia pasti dapat info itu setengah-setengah dari orang lain. Kenapa sih heboh sekali perihal masalah ini? Padahal yang merasakan bukan mereka dan yang mereka dengar juga belum tentu benar. Aku yang kesal pun segera mengunci pagar dengan keras lalu masuk ke dalam rumah, tutup pintu. Apapun itu omongan orang, aku tidak harus peduli. Setahuku juga, Bu Ratmi ini masih merupakan bibinya Fika. Aku yakin dia merasa menyesal jika pada akhirnya Fika harus menyerahkan calon suaminya kepadaku, wanita yang bahkan tidak pernah disentuh oleh kakaknya sendiri. Aku yakin upayanya ini adalah bentuk pembelaannya atau penyesalannya mengenai Fika yang tidak jadi menikah itu. Apalagi biaya menikah mereka sudah keluar banyak, eh malah tidak jadi. Hufft jadi rumit begini. Tapi aku benar-benar menyayangkan sikapnya ini, bagaimanapun kan Fika sendiri yang memintaku untuk menikahi Mas Rian, dia malah terlihat mendukung sekali saat itu. Fikanya saja tidak merasa terbebani lalu kenapa Bibinya yang justru repot mengenai perkara ini?! Daripada sibuk meladeni omongan orang, lebih baik aku ke pasar saja deh membeli sayur. Toh stok sayuran di kulkas sudah habis, apalagi aku juga belum masak untuk hari ini. Masak apa ya kira-kira? Aku pun mengganti baju, bawa dompet lalu naik motor beat milik Mas Rian. Aku segera ke pasar yang letaknya didepan perumahan sana. Aku yakin Mas Rian sangat suka kalau diriku memasak ayam teriyaki kesukaannya. Setelah sampai di pasar, aku pun segera membeli sayur-mayur dan ayam potong. Banyak sekali pengunjung pasar sana, apalagi saat berada di tukang ayam potong sana. Sampai ngantri begitu. Semoga saja aku tidak kesiangan masaknya. Tiba-tiba aku bertemu dengan tetangga sebelah kananku yang juga sedang berbelanja disana namanya adalah Bu Sinta. "Eh kamu Lis." ucapnya. Aku balik menyapanya. "Belanja Bu?" tanyaku. "Iya." ucapnya seraya memilih sayuran disebelah tukang ayam itu. "Oh iya tadi saya denger kamu diomongin sama Bu Ratmi. Itu posisinya kamu lagi ada diluar kan ya? Dengar pembicaraan itu?" tanya Bu Sinta. Aku tidak menyangka dirinya akan membahas tentang hal ini. Aku hanya tersenyum canggung dan mengangguk. "Kok gitu ya, dia kayak sengaja itu mancing kamu. Padahal kan kamu ada didepan saat itu, kenapa enggak kamu labrak aja sekalian Lis?" tanyanya. Aku hanya tersenyum. Ah harus menjawab apa aku.. aku bukan tipe orang yang seperti itu. Disamping itu aku juga masih menghormatinya sebagai tetanggaku. Tapi aku cukup merasa bersyukur karena masih ada yang membelaku dalam perkara ini. Aku tidak terlalu mengenal Bu Sinta, dia dan aku hanya sering bertemu di pengajian saja akan tetapi dia membelaku. Aku sudah merasa cukup senang dengan hal itu. "Oh iya, 40 hari Masmu kapan Lis?" tanya Bu Sinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN