Oh iya, aku hampir lupa. 40 hari Mas Indra kan jatuh di hari senin nanti. Tiga hari lagi.
Minimal aku harus membuat persiapan seperti membuat buku yasin, menyewa tenda, menyiapkan makanan, buah, air mineral, tikar dan sebagainya.
Aku segera membalas pertanyaan Bu Sinta tadi.
"Tiga hari lagi Bu, Ibu datang ya?" pintaku, yang setahuku rumahnya terletak tiga rumah disebelah kananku.
"Oh oke Bu, saya pasti datang." ujarnya.
Untuk tikar aku tidak memilikinya, aku harus meminjam ke siapa ya? Apa ke Bu Sinta saja ya? Tapi masa aku yang tidak terlalu mengenalnya malah justru meminjam tikar sih?
"Oh iya, denger-denger pacarnya Mas Rian itu keponakannya Bu Ratmi ya?" tanya Bu Sinta seraya mengambil sayur mayur dan tahu, memisahkannya.
Aku tersentak. Bu Sinta tahu sampai sedetail itu?! Jangan bilang Bu Ratmi yang menyebar tentang berita itu?
Heuh.. Padahal aku tidak pernah mengumbar cerita tentang Mas Rian pada siapapun.
Aku segera membalas. "Iya Bu, benar. Tapi ngomong-ngomong kok Ibu bisa tahu ya tentang berita itu?" tanyaku.
"Oh itu, saya dengar dari anaknya bu Ratmi Bu. Kebetulan anaknya suka main sama anak saya." ucap Bu Sinta.
"Oh gitu ya hehe." ucapku. Benar kan? Anaknya juga pasti tahu dari dia. Ah sudahlah.
"Menurut saya sih enggak masalah mau menikah sama siapa juga. Yang penting kan saling mencintai dan menghargai satu sama lain ya Bu? Supaya langgeng rumah tangganya." ucapnya.
Aku mengangguk. "Iya Bu. Benar." ucapku. "Bu Lisa juga suka kan sama Mas Rian? Makanya kalian berdua menikah?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Ia kembali berkata.
"Iya lah kenapa musti dipermasalahin? Fika juga ngerelain aja kan ya Mas Rian nikah sama Mbak?" tanyanya.
Aku tersenyum mengangguk. "Iya. Fika bahkan menyarankan saya untuk menikahi Mas Rian."
"Iyalah, Mas Rian juga keliatannya suka banget sama Mbak. Udah jangan dengerin kata orang." ucap Bu Sinta. Aku mengangguk.
Setidaknya, aku merasa dibela.
"Oh iya saya duluan ya Bu, anak saya sendirian dirumah soalnya." ujar Bu Sinta seraya mengambil belanjaan dari tukang sayur dan kembaliannya. Aku mengangguk.
"Iya Bu." ucapku seraya tersenyum.
Aku memisahkan beberapa sayuran, bawang serta cabai dan tomat lalu membayarnya.
Aku bawa seplastik belanjaan dan segera pergi dari sana. Pulang.
Tiba-tiba tanganku dicolek oleh seseorang. Aku langsung bergidik kaget.
"Astagfirullah." Terlebih saat melihat orang yang mencolekku adalah seorang preman pasar, bercelana jins robek dan baju kaus hitam.
Tepatnya ada dua preman pasar yang berdiri disana. Menghalangi jalanku. Banyak orang tampak tidak berani berurusan dengan mereka, bahkan semua orang yang berada disana tampak acuh, membiarkanku digoda oleh sang preman.
Tidak ada satupun yang menolongku!
"Hai Mbak, mau kemana? Boleh minta sisihan uangnya gak? Laper nih belum makan." pintanya tersenyum lebar.
Aku berniat menghindari mereka, akan tetapi mereka masih saling menghalangiku.
Aku ingin pergi pun tidak bisa karena mereka terus mencegatku. Aku bingung. Kemana aku harus pergi, mereka terus mengikutiku!
Apa aku kasih saja ya uang ke mereka? Supaya mereka bisa melepasku.
Aku pun segera memberikan salah satu dari mereka selembar uang dua ribuan. Preman yang menerima uang tersebut pun meremehkan mentah-mentah.
"Ya elah, ini sih cuma buat beli rokok. Buat makan mana?!" tanya pria itu. Aku ketakuan, mereka ngapain sih minta-minta begini? Orang-orang disini juga tidak ada satupun yang membantuku atau sekedar menegur mereka.
Itulah yang menyebabkan diri mereka jadi semakin betah melakukan tindakan seperti ini. Ah, Mas Rian.
Aku kapok berbelanja disini!
Meskipun lokasinya dekat dengan rumahku, tapi aku beneran tidak mau lagi berbelanja disini.
Aku memberikan uang sepuluh ribuan padanya. Akan tetapi ia langsung merebut dompetku dan ambil dua ratus ribu dari dompetku itu. Aku melotot, itu... Banyak sekali!
"J-jangan segitu, itu kebanyakan Bang." ucapku mencoba mengambilnya kembali. Salah satu dari mereka langsung menepis tanganku.
"Bawel lo!"
Mereka langsung pergi begitu saja dari sana dengan perasaan bahagia. Sedangkan aku murung, kesal, marah.
Kenapa mereka mengambil uangnya banyak sekali? Uang untuk makan kok sebanyak itu! Apa yang harus kukatakan pada Mas Rian nanti?
Masalahnya itu kan uang untuk biaya 40 harian Mas Indra nanti. Pokoknya aku kapok berbelanja disini!
Aku yang baru akan pergi tiba-tiba dipegang pundaknya oleh seseorang. Aku mengira itu preman lagi hingga langsung kutarik saja tangannya dan hendak kugigit akan tetapi orang itu menjerit.
"AAA!" Suara perempuan?!
Ternyata itu adalah Hilya.
"Loh kamu, jadi kamu bukan preman?!" tanyaku tidak percaya.
"Emang kapan aku berubah jadi preman Mbak?" tanyanya balik. Aku hanya tertawa kecil dibalas seperti itu.
"Kamu kenapa bisa ada disini?"
"Ini kan pasar terdekat Mbak, siapapun pasti bakal kesini." ucapnya. "Iya sih." balasku.
"Aku habis beli ayam potong barusan. Mbak sehat kan? Kok kayak pucat gitu mukanya? Sampai ngira aku preman lagi?" tanyanya.
"Ah, enggak. Barusan ada preman, cegat Mbak." ucapku.
Hilya tersentak.
"Hah? Serius Mbak? Terus Mbak diapain? Mbak enggak kenapa-napa kan?" tanyanya beruntun.
"Iya, cuma dipintain uang. Yah tapi gak apa-apalah. Jangan kasih tahu Mas Rian tapi ya." ucapku.
"O,oh yaudah Mbak. Duh rawan juga ya disini." ucapnya, aku mengangguk.
"Lainkali Mbak enggak mau deh belanja disini lagi." ucapku.
"Iya, Hilya juga enggak bakal kesini lagi kalo gitu. Takut, mana kadang suka bawa uang pas-pasan kalo kesini. Nanti suruh minta lepas baju lagi." ucap Hilya. Aku tertawa.
"Enggak lah, mana mau dia baju bekas kamu."
Aku kok jadi kepikiran dengan tikar yang harus kupinjam untuk 40 hari nanti ya?
Tadinya aku mau beli saja tikar atau karpet itu, tapi sekarang uang budget pemberian Mas Rian sudah berkurang. Aku harus bagaimana?!
Aku tidak enak jika harus meminjam dengan tetangga. Aku tahu pasti rumor buruk tentangku sudah menyebar ke banyak orang termasuk tetangga.
Apa aku meminjam ke ibu mertuaku saja ya? Barangkali ibu mertuaku memiliki tikar atau karpet lebih.
Lumayan tidak perlu keluar uang untuk membeli tikar atau karpet baru. Aku hanya tidak mau meminta uang terus pada Mas Rian.
Hilya melihatku terus diam seperti itu, ia pun bertanya.
"Mbak kenapa diam aja? Kok enggak pulang? Kayak ada yang dipikirin?" tanyanya.
"Eh? Hil, anu. Kamu punya tikar atau karpet lebih enggak? Mbak boleh pinjam?" tanyaku hati-hati.
"Oalah, tikar ya? Ada sih. Buat apa memang Mbak?" tanyanya balik.
"Ini kan tiga hari lagi mau 40 hari Mas Indra. Mbak kayaknya kekurangan tikar atau karpet deh Hil. Boleh gak Mbak minjem?" tanyaku.
"Boleh banget Mbak, kebetulan Hilya juga mau ikut hadir disana. Nanti deh Hilya bawain, sore pokoknya aku udah ada disana." ucapnya.
Aku sangat lega mendengarnya.
"Alhamdulillah, makasih banyak ya Hil." ucapku.
"Sama-sama Mbak." ucapnya.
Syukurlah tidak perlu keluar uang untuk membeli tikar maupun karpet.
Aku juga tidak perlu mengatakan pada Mas Rian kalau uang untuk 40 hari Mas Indra hanya tinggal sedikit. Cukup untuk uang katering, kue, buah, air mineral dan lain sebagainya.
Dua hari berselang aku mulai kebingungan, sebab uang untuk membayar buku yasin habis.
Aku baru memesannya dua hari yang lalu di sebuah percetakan dekat rumah dan kini tidak tersisa lagi uang untuk membayarnya.
Karena aku baru saja membelanjakan uang itu. Kukira cukup, ternyata justru kurang. Alhasil pun jadinya uang untuk membayar buku yasin jadi tidak ada. Meleset dari perkiraanku.
Karyawan percetakan itu sudah mengirim chat beberapa kali padaku, aku jadi bingung. Aku harus gimana?
Kalau aku cancel, wong bukunya sudah jadi. Masa aku tega mengcancel orderan buku itu?