Pada akhirnya aku pun menelepon Mas Rian saat itu.
"Mas. Kamu lagi ngapain?" Aku merasa diriku saat itu sangat canggung dan gugup dicampur juga dengan rasa takut. Aku tidak ingin ia marah kalau aku meminta kembali uang padanya.
"Iya Mbak waalaikumsalam? Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Anu, uang untuk buku yasin... Kurang Mas." ucapku.
"Oh kurang berapa Mbak?" tanyanya.
"Dua ratus lima puluh ribu, Mas." ucapku.
"Oh, yaudah nanti saya transfer Mbak." ucapnya. Aku terkejut mendengarnya.
"K-kamu enggak marah, Mas?" tanyaku.
"Loh, marah kenapa?" tanya Mas Rian heran.
"Enggak Mas, enggak kenapa-napa hehe." ucapku.
"Mbak nyimpen rahasia lagi ya? Hayo ngaku. Mikirin apalagi sih Mbak?" tanyanya menggodaku. Aku tersenyum, cengar-cengir sendiri.
"Apasih Mas, enggak. Udah kamu kerja lagi sana." ucapku.
"Mbak kalau merasa ada masalah atau uangnya kurang, bisa kok langsung hubungi saya. Saya siap dua puluh empat jam menerima keluh kesah Mbak atau permintaan Mbak. Cuma mau ngingetin aja, kalau Mbak sudah punya saya sekarang. Barangkali lupa." ucapnya seraya cengengesan.
Aku tersenyum. "Dasar kamu nih, dari dulu enggak pernah berubah penyakit ngegombalnya." ucapku sambil menahan semu merah di wajah.
"Emang saya harus berubah Mbak? Kalau berubah jadi orang lain nanti Mbak kangen lagi." ucapnya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Hobi sekali sih anak ini... Ah tidak, suamiku ini.
"Mbak, mau denger quotes dari saya enggak? Ada alasan kenapa bunga mawar memiliki duri di sekitar batangnya, tidak lain karena supaya ia tetap terjaga dari siapapun untuk memetiknya. Sekalipun Mbak belum pernah disentuh sama Mas Indra, keindahan Mbak masih tetap terjaga, hingga sampai masanya sang pemilik benar-benar memetiknya. Saya adalah pemilik yang hanya bisa memetik keindahan bunga mawar itu." ucap Mas Rian.
Aku tersenyum mendengarnya. Aku membalas perkataannya.
"Siip, udah cocok jadi tukang gombal kamu. Udah berhenti aja jadi direktur sana. Daftar jadi pelawak." ucapku.
Ia tertawa membahak di ujung sana. Aku ikut tersenyum mendengarnya seperti itu.
"Yaudah Mbak jaga diri ya dirumah. Jangan capek-capek, acaranya juga besok, dan buku yasin nanti biar saya bilang ke tukang cetaknya buat kirim ke rumah aja jangan Mbak yang pergi kesana. Biar nanti saya transfer ke rekening karyawannya." ucapnya.
"Oh gitu, yaudah Mas. Makasih banyak ya Mas. Love you very much."
"Love you very much too."
Aku tersenyum dan telepon pun berakhir. Kehadiran Mas Rian itu seperti kado, yang melengkapi segala yang kubutuhkan selama ini.
Tapi aku sebenarnya penasaran, dengan apa yang ada didalam hati Mas Rian selama ini tentangku.
Apakah dia terpaksa menerimaku sebagai istrinya karena wasiat kakaknya atau karena dia memang mencintaiku sejak lama?
Aku hanya penasaran dengan perkataan Mas Indra saat sebelum menjelang wafatnya, yang mengatakan kalau Mas Rian sudah lama mencintaiku.
Tapi kalau Mas Rian sejak awal mencintaiku lalu kenapa ia berpacaran dengan Fika dan ingin menikahinya?!
Huft... Aku tidak menemukan jawaban.
Jujur aku selalu penasaran mengenai hal itu. Kapan-kapan aku ingin menanyakan tentang hal itu.
Esok sorenya katering makanan dan buku yasin sudah diantar ke rumah. Tenda juga sudah dipasang didepan rumah. Begitupula dengan kue dan 1 kardus air mineral, aku sudah membelinya.
Aku membuat gorengan juga saat itu untuk sekedar cemilan. Ini adalah pengajian khusus ibu-ibu, jadi hanya akan dihadiri oleh ibu-ibu saja.
Acara dimulai pukul 7 malam ini. Semua sudah rapih, aku juga sudah membersihkan, merapikan dan mengepel rumah.
Pukul 5 sore aku beristirahat sejenak, sekedar melonjorkan kaki ditemani oleh ponsel. Mas Rian dan aku saling berkirim pesan saat itu.
Dia berkata mau menitip apa. Aku hanya membalas enggak mau apa-apa. Aku cuma ingin dia pulang cepat saja.
Jujur Mas Rian sangat perhatian terhadapku, setiap pulang kerja dia selalu menanyakan ingin menitip apa, entah apakah Mas Rian bersikap seperti ini hanya kepadaku atau kepada Fika juga?
Intinya pertanyaanku masih sama seperti yang kemarin.
Aku merasa tidak heran, jika sosok seperti Fika bisa mampu menjadi pacar seorang pengusaha sukses itu.
Mas Rian pantas, tapi bagaimana dengan diriku sendiri? Apakah di mata orang aku pantas menjadi istri Mas Rian?
Saat dipikirkan terus, tiba-tiba Mas Rian muncul didepan pagar. Membuka pintu pagar dan memasukkan motornya ke garasi.
Aku segera mendekatinya dan mencium tangannya. "Macet gak?" tanyaku.
"Enggak." ujarnya seraya melepas helm, aku mengambil helmnya dan taruh di tempatnya.
"Udah beres semuanya?" tanyanya.
"Udah Mas." ucapku. Ia mengangguk.
"Ngundang berapa orang?" tanyanya.
"Sekitar 50-an orang kayaknya." ucapku.
"Oh, tapi kok karpetnya cuma segini? Enggak jadi minjem tikar sama Hilya? Atau mau lesehan diatas lantai?" tanya Mas Rian ngaco. Aku mencubitnya.
"Ngelawak kamu, Mas? Nanti katanya Hilya kesini, mau ngebawain tikar. Tapi aneh ya, kok jam segini belum datang? Khawatir dia kenapa-napa Mas. Apa aku susul kesana ya sekarang?" tanyaku cemas.
"Coba Mas telepon dulu sekarang." ucap Mas Rian langsung merogoh ponselnya dan menelepon adik perempuannya itu. Ternyata setelah ditanya, gadis itu baru jalan menuju rumahku.
Sepuluh menit setelahnya Hilya pun sampai dirumahku. Jika ditanya kenapa bisa secepat itu, karena ia tinggal hanya beda satu blok saja dengan rumahku.
Sebenarnya mereka kini tinggal di rumah lama Mas Rian. Rumah yang cukup besar itu. Jujur, Mas Rian pernah mengajakku untuk pindah ke rumah tersebut dan rumah ini dijual.
Akan tetapi aku malah menolaknya. Aku beralasan jika rumah ini memiliki banyak kenangan bersama Mas Indra.
Meskipun hanya terhitung beberapa bulan kami tinggali, akan tetapi aku tidak bisa meninggalkan rumah yang disana banyak kenangan bersama Mas Indra.
Meskipun statusku kini adalah istri sah Mas Rian, akan tetapi aku masih menyayangkan saja menjual rumah yang dibeli susah payah oleh Mas Indra.
Aku cukup menghargai apapun yang Mas Indra berikan untukku.
Sekitar jam 7 malam, ba'da Isya orang pun sudah berkumpul dirumah kami. Entah Mas Rian maupun Hilya turut membantuku dalam mengoper gorengan atau air mineral untuk menyuguhkan mereka.
Acara segera dimulai setengah jam setelahnya. Dimana semua ibu-ibu sudah mengumpul duduk dari tengah rumah sampai depan rumah.
Kami juga membagikan buku yasin kepada para ibu-ibu tersebut. Aku yang membagikan sampai keluar tapi setelah kulihat, diluar masih belum terlalu banyak yang datang, mungkin banyak yang ngaret.
Setelah membaca barzanji, shalawat, mengaji surat yasin lalu kemudian ceramah. Aku memotong semangka dan bagikan hingga ke depan, oper-operan dengan Hilya.
Akan tetapi... Sayang sekali didepan orang tetap tidak bertambah. Aku curiga, kenapa banyak sekali yang tidak datang ke pengajian?! Padahal aku sudah mengundangnya, tidak hujan juga.
Seorang anak kecil yang mengambil semangka dari piring lantas keluar dari rumahku, ia bertemu dengan temannya yang sedang bermain diluar.
"Itu semangka dari pengajian, Dan? Itu kan ada HIV-nya! Jangan dimakan! Nular entar!" ucapnya, aku langsung terkejut saat mendengarnya.
Aku langsung berkata pada anak itu.
"Virus HIV itu enggak nular lewat udara, Dek. Apa yang kamu katakan itu salah." tegurku. Anak itu pun langsung pergi dari sana.