bc

Setelah Kita Berpisah (Ku Kembalikan Anakmu, Bu)

book_age18+
348
IKUTI
2.6K
BACA
heir/heiress
mystery
like
intro-logo
Uraian

Namira Mumtazah harus merelakan rumah tangganya dengan suaminya, Albian Prakarsa berakhir karena belum hadirnya seorang generasi penerus di umur pernikahan yang menginjak lima tahun. Albian yang merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya dituntut untuk segera memberikan cucu. Ibunda Albian yang dari awal tidak menyukai Namira karena perbedaan status sosial memaksa Albian bercerai dengan Namira dan menikah dengan gadis pilihannya.

Bagaimana nasib Namira setelah berpisah dari Albian?

Apakah pernikahan kedua Albian akan bahagia?

chap-preview
Pratinjau gratis
Talak
Talak aku, Mas," ucapku ketika sidang perceraian akan diputuskan. "Aku tidak bisa, Mir." Air mata mas Bian mengalir deras. "Mas, demi aku. Tolong, lakukanlah!" "Bian, tunggu apa lagi. Ayo cepat talak Namira." Suara ibu mertuaku, yang sebentar lagi akan menjadi mantan menggema di ruang pengadilan. "Namira Mumtazah binti Bagas Hardinal aku, Albian prakarsa menjatuhkan talak kepadamu dengan penuh kesadaran." Suara Mas Bian bergetar. Tubuhnya luruh bersimpuh di kakiku. Aku tidak sanggup menahan air mataku hingga terjatuh di atas kepala mas Bian. "Bangunlah, Mas. Tidak etis rasanya mas melakukan ini." Aku menggapai bahu mas Bian. Menariknya agar berdiri. Dia lantas memelukku erat. "Kita bukan lagi mahram, Mas." Ku urai pelukannya perlahan. Pelukan hangat yang tidak akan pernah aku rasakan lagi. Ku bimbing Mas Bian ke hadapan ibunya setelah ketuk palu hakim. "Aku kembalikan anakmu, Bu. Aku harap setelah ini mas Bian juga kalian akan berbahagia." Aku meraih tangan mantan ibu mertuaku walaupun dengan enggan dia mengulurkannya. Aku menciumnya takzim. "Aku pamit, Bu." Ibu mas Bian membuang muka. Sungguh angkuh sekali mantan ibu mertuaku itu. Mas Bian menatapku dengan air mata yang masih saja mengalir. "Mas, jaga dirimu baik-baik. Kalau mas memang mencintaiku, lakukanlah perintah ibu dengan sebaik-baiknya. Aku pergi, Mas." Aku berjalan menjauh. Mutiara, sahabatku sudah menungguku tidak jauh dari tempatku berdiri. "Namira.... Jangan tinggalkan aku." Aku tidak menoleh sedikitpun mendengar ratapan mas Bian. Aku juga sibuk menyusut air mataku. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan mereka. Rasa cinta yang begitu besar di antara kami menyebabkan perpisahan ini sangat sulit. Satu tahun yang lalu ibu mas Bian datang ke rumah. "Mira, keluarga kami butuh penerus yang sampai sekarang belum bisa kamu berikan." Aku menunduk tidak berani menatap wajah ibu mertuaku. "Tolong bujuk Bian untuk menikah lagi." Aku mengangkat kepalaku menatap ibu mertua. "Aku tidak mau dimadu, Bu." "Kalau begitu lepaskan Bian." Aku akhirnya meminta mas Bian menikah lagi. Tapi dia tetap kukuh sama pendiriannya. "Aku tidak apa-apa dengan atau tanpa anak asalkan tetap bersama kamu," ucapnya kala itu. Andai saja mas ibumu berpikiran sama denganmu. Ibu mertuaku hampir setiap hari membawa Clara ke rumah. Gadis pilihannya yang akan dia jodohkan dengan mas Bian. Mentalku dihajar habis-habisan saat mas Bian tidak ada di rumah. Saat mengetahuinya mas Bian mengamuk yang membuat ibunya terkena serangan jantung. Entah betul atau ibu hanya bersandiwara yang akhirnya membuat mas Bian menuruti kemauannya. Berulang kali mas Bian membujukku agar tidak bercerai. Tapi aku tetap kukuh pada pendirianku. "Lebih baik bercerai daripada dimadu." Aku sudah membayangkan nasibku jika memilih tetap bersama mas Bian. Ibu akan menjadikan aku bulan-bulanannya jika nanti Clara hamil. Mentalku tidak cukup kuat untuk menerima berbagai penghinaan ibu mas Bian. Dengan berat hati, mas Bian mengabulkan permohonanku. Kami masih tinggal bersama selama keputusan perceraian belum keluar atas permintaan mas Bian. Juga syarat yang mas Bian ajukan kepada ibunya sebelum benar-benar berpisah. "Aku ingin mengukir kenangan indah bersama kamu satu bulan ini," ucap mas Bian mengecup tanganku. "Kamu akan lebih sulit lagi melupakan aku, mas." "Aku hanya ingin menghabiskan waktu sebulan ini bersamamu," ucapnya memeluk pinggangku erat. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa jika harus berbagi suami dengan wanita lain." "Aku mengerti. Maafkan aku juga yang tidak bisa menolak keinginan ibu." "Andai aku tidak mandul, Mas." "Mir, aku ngga suka kamu bicara begitu." "Maaf mas, aku...." Aku tidak melanjutkan ucapanku karena bibirku dibungkam oleh mas Bian dengan ciuman. Dan setelah sebulan menghabiskan waktu dengan indahnya, akhirnya hari perpisahan itu juga tiba. ***** "Menangislah, Mir jika itu bisa membuatmu lebih baik," ucap Mutia setelah kami berada di dalam mobil. Aku menumpahkan tangisku yang sedari tadi berusaha aku tahan. "Auww." Aku merasakan perutku kram. "Mir, kamu kenapa?" Mutia panik. "Ngga tahu, nih perutku kram." Darah segar mengalir dari sela****nganku. "Astaga, Mir darah." Mutia segera melajukan mobilnya ke klinik terdekat dengan kecepatan tinggi sementara perutku rasanya semakin kram. Setelah ditangani dokter aku merasa lebih baik. "Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok," tanya mutia yang masih bisa kudengar. Aku rasanya sangat mengantuk. "Kita bicara di ruanganku." Mutia mengikuti langkah dokter tersebut. dr. Adrian Brasidi, Sp.OG Dokter kandungan? Apa Namira hamil? "Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" Syukurlah kamu membawanya tepat waktu. Janinnya bisa diselamatkan namun kandungannya lemah. "A...apa, Dok? Namira hamil?" Mutia kaget sekaligus bahagia. "Iya, sudah menginjak enam minggu." "Untuk sementara ibu Namira harus istirahat total. Ini resep vitamin yang harus dikonsumsi oleh ibu Namira," ucap dokter Adrian sambil memberikan kertas resep. "Terima kasih, Dok." Mutia segera keluar dari ruangan dokter Adrian dan berjalan menuju kamar perawatan Namira. "Namira Mumtazah, akhirnya aku menemukanmu," gumam dokter Adrian. Mutia bergegas ke ruang rawat Namira setelah menebus resep obat di apotik. Wajah teduh itu begitu damai terlelap dalam tidurnya. "Namira, semoga kamu bisa menerima kenyataan ini." Mutia yang lelah akhirnya merebahkan dirinya di sofa. Tidak butuh waktu lama baginya untuk pindah ke alam mimpi. Dokter Adrian masuk ke ruang rawat Namira. "Nami...." Dokter Adrian menyunggingkan senyum saat mengucap nama itu. Ingatannya melayang jauh ke beberapa tahun silam. "Nami.... pipi kamu gembul kayak bakpau." "Hey, namaku Namira bukan Nami." "Nami... Nami... Nami...." "Ibu, kak Ian meledekku.... hu...hu...hu..." Anak perempuan berusia sembilan tahun itu menangis sambil mengadu kepada ibunya. "Sudah.... Sudah.... Ian adeknya jangan dibikin nangis terus dong." "Habisnya lucu sih Bude kalau Nami menangis. Mukanya kayak ikan buntal. Hahahaha." "Ian, jangan diledekin gitu, dong. Bisa jadi nanti Namira jadi jodoh kamu," ibu meledekku. "Ogah....." "Hey, kak Ian kalau nanti aku sudah besar aku akan menjadi wanita cantik," katanya sambil bertolak pinggang. "Aku tidak mau sama laki-laki perut buncit seperti kak Ian. We....." Namira kecil memeletkan lidahnya. "Awas ya, kamu Nami." Aku dan Namira kecil berkejar-kejaran di taman belakang rumah eyang. Namira mengerjapkan matanya, lalu membukanya perlahan. "Dokter?" "Ah, iya a-aku mau mengecek keadaan ibu tapi ibu lagi tidur," ucapnya gugup. Aku mengernyitkan kening. "Apa yang terjadi sama saya, Dok?" tanyaku penasaran. "Aku tidak biasanya datang bulan sampai separah ini. Mungkin karena sudah telat dua minggu ya, Dok. Siklus haidku memang tidak menentu." "Aku sudah meresepkan vitamin. Mungkin sudah ditebus oleh rekan ibu. Diminum ya bu vitaminnya." " Baik, Dok." "Apa aku bisa pulang sekarang, Dok." "Kita observasi sampai besok, ya bu." "Panggil Mira aja, Dok. Berasa tua banget aku dipanggil ibu." Aku terkekeh. Aku memang orang yang mudah bergaul. "Iya, Bu... Eh Mira." Dokter tampan itu tersenyum. "Aku pamit, ya Mira mau periksa pasien lain. Dijaga kandungannya baik-baik." "Kandungan?" "Kamu harus istirahat total dan tidak boleh stres karena kandungan kamu lemah." "A-aku ha-hamil?" tanyaku tak percaya. Dokter Adrian mengangguk sebelum keluar dari ruang rawatku. "Ya Allah mengapa engkau titipkan amanah ini setelah aku berpisah dengan suamiku?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook