Chapter 03

1039 Kata
Tak banyak yang berubah dari penampilan Thalia. Gadis itu menggunakan blouse dengan model yang sama hanya warnanya saja yang berbeda. Rambutnya yang cukup panjang itu di ikat menjadi satu ke belakang. Dan jangan lupakan high heels yang di perintahkan sang CEO. Gugup dan kerepotan bercampur menjadi satu hingga membuat Thalia menjadi pusat perhatian karyawan yang baru tiba di kantor pagi itu. Gadis itu hanya tersenyum kaku menanggapinya. Dengan ragu, ia memasuki ruang sang CEO. Thalia menyisirkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun, Rayhan tidak ada di ruangannya. Dengan langkah hati-hati, Thalia melangkah lebih dalam lagi. “Permisi, Pak,” akhirnya Thalia membuka suara. “Kemana tuh, Om-Om? Katanya jam delapan?” gerutu Thalia dengan langkah yang tidak seimbang karena tidak terbiasa memakai high heels. “Ehem,” Dehaman Rayhan sukses membuat Thalia melompat dari tempatnya. Beruntung, ia sempat bertumpu pada pinggiran meja Rayhan. Jika tidak, ia pasti sudah sukses tersungkur di lantai. “Pak, kalau jantung saya copot gimana? Ini gak ada asuransinya, Pak. Ngagetin aja!” Thalia memajukan bibirnya. “Maaf deh maaf. Lagian kamu mindik-mindik kayak maling gitu,” kekeh Rayhan. “Saya kan permisi dulu, Bapak aja yang gak denger. Faktor U!” Thalia memelankan dua kata di belakangnya. “Apa?” Rayhan menautkan alisnya. “Ah enggak kok!” Thalia tersenyum kikuk. “Sudah siap?” tanya Rayhan. Raut wajahnya berubah serius. “Iya, Pak,” jawab Thalia mantap. “Eh ini pakaian saya gak salah kan, Pak?” Thalia yang sadar meminta pendapat atasannya itu langsung memukul mulutnya sendiri. “Lia b**o ah, masa nanya gitu,” Thalia merutuki dirinya. “Not bad! Masih menonjol biarpun gak ketat!” Komentar Rayhan yang lantas dibalas tatapan membunuh dari Thalia. “Pak, kenapa jadi ke situ arahnya? Bapak mau cari sekertaris apa cari model?” Thalia menggebu-gebu. “Maaf lagi, otak saya kadang gak fokus,” jawab Rayhan sambil menggaruk tengkuknya. “Dasar Om-Om kurbel!” dengus Thalia. “Kenapa, Lia?” Sialnya Rayhan mendengar gerutuan Thalia meski nada bicaranya sudah sepelan mungkin. “Kenapa apanya? Ini saya kapan kerjanya, Pak? Kebiasaan banget bahas yang gak penting. Jangan bilang, Bapak mau modusin saya!” Thalia menaikkan sebelah alisnya dan tatapan yang menyelidik. “Adik kecil, kamu mau banget saya modusin?” tawa Rayhan pecah seketika. “Ih kan ngeselin. Saya pulang!” Thalia menghentakkan kakinya. “Maaf lagi deh. Ayo ke ruangan kamu!” ajak Rayhan sambil menepuk puncak kepala Thalia. Terlihat seperti ayah yang tengah membujuk putrinya yang sedang merajuk. “Emang saya kucing di tepuk-tepuk gini.” Thalia menyingkirkan tangan Rayhan dari kepalanya. Selanjutnya Rayhan melangkah menuju sebuah ruangan dan diikuti Thalia dari belakangnya. “Nah ini ruangan kamu,” Rayhan menunjukkan sebuah ruangan yang masih berada di ruangannya dan hanya di beri sekat oleh rak buku yang menjulang tinggi. Thalia memandang takjub ruangan yang seperti tanpa dinding karena di kelilingi oleh rak-rak buku yang menjulang. “Wow! Kayak di film Harry Potter,” ungkap Thalia di tengah ketakjubannya. Rayhan yang mendengar hal itu hanya tersenyum gemas ke arah Thalia yang tentu saja gadis itu tidak mengetahuinya. “Nanti saya jelaskan sedikit tentang pekerjaan kamu, dan selebihnya kamu baca-baca.” Thalia hanya merespon kata-kata Rayhan dengan anggukan dan masih takjub mengamati ruangan yang menjadi tempat kerjanya kini. “Apa ini yang disebut nothing impossible? Aku bahkan gak pernah membayangkan hal ini bakal terjadi sama aku,” pikiran Thalia sudah terbang jauh. “Bengong lagi?” Rayhan menepuk pundak Thalia. “Em.. Enggak, anu, saya, saya cuma speechless aja,” jawab Thalia terbata-bata. “Hari ini jadwal saya di kantor memang tidak padat. Jadi, saya bisa ngajarin kamu dulu. Tapi, setelah itu saya mau keluar. Jadi, kamu bisa baca-baca dulu. Nanti, kalau ada yang kurang paham, bisa tanyakan ke saya besok pagi.” Rayhan menjelaskan. Thalia tampak serius menyimak penjelasan Rayhan sambil memutar bolpoin di tangannya. Sambil terus menyimak, tangan Thalia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. “Pak, maaf,” potong Thalia. “Iya, ada yang kurang paham, Lia?” tanya Rayhan. “Bukan, Pak. Apa Bapak tidak keberatan kalau saya pakai kacamata? Soalnya saya gak bisa baca lama-lama tanpa kacamata,” ungkap Thalia. Sebuah kacamata dengan bentuk cat eyes yang sedang trendi saat ini sudah bertenger di atas hidungnya. “Saya gak keberatan kok. Kecuali, kalau kamu minta saya pangku,” canda Rayhan. “Nyerempet lagi,” Thalia menggembungkan pipinya. Hal itu membuat Thalia semakin terlihat menggemaskan, kacamata dan pipi yang sama-sama bulat. “Kamu cute banget pakai kacamata gitu,” puji Rayhan terang-terangan. “Bapak adalah orang ke dua puluh juta yang bilang saya cute, dan saya akui sih kalau saya memang baby face,” ungkap Thalia dengan percaya dirinya. “Pede banget kamu!” “Daripada minder?” jawab Thalia tak mau kalah. “Bawel,” Rayhan mencubit pipi Thalia gemas. “Pipi kamu empuk banget, apalagi yang lain,” gurau Rayhan. “Jangan macam-macam, Pak. Nanti, saya laporin ke Komisi Perlindungan Anak lho!” ancam Thalia. “Lah emang kamu anak-anak?” “Ya apalah, tindak pelecehan atau apa!” ancam Thalia lagi. “Kok kamu bisa ngerti sih kata-kata ambigu saya. Jangan-jangan,” tatap Rayhan menyelidik. “Apa?” Thalia mencondongkan wajahnya. “Saya kira kamu polos,” “Polos sama dengan b**o! Dan saya gak polos karena saya gak b**o, Pak. Kalau saya polos, nanti saya di b**o-begoin orang mau aja. Knowledge is important. Tapi, Bapak jangan mikir macam-macam. Tau bukan berarti pernah melakukan, contohnya orang yang tau tentang n*****a bukan berarti dia pernah pakai n*****a kan?” Thalia malah berpidato panjang lebar dan Rayhan menatapnya takjub. “Wow!” hanya itu yang keluar dari mulut Rayhan. “Dan satu lagi, biarpun saya dari kampung, tapi saya gak kampungan.” “Kamu cocok jadi pengacara, Lia. Cara pembelaan kamu luar biasa,” “Terserah!” jawab Thalia sekenanya. Gadis itu kembali melanjutkan membaca beberapa dokumen yang tengah ia pelajari. “Lia, kamu saya tinggal gak masalah kan?” tanya Rayhan sembari melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. “Hm,” jawab Thalia bergumam. “Beneran? Saya ada urusan penting.” Rayhan kembali memastikan. “Iya, Bapak Rayhan!” jawab Thalia tegas dan menutup dokumen yang sedang dibacanya. “Bener gak bakal nangis?” tanya Rayhan yang sekarang hanya bergurau. “Pak, jangan alay deh! Gak cocok sama usia!” cibir Thalia. “Jadi, saya tua maksud kamu?” tanya Rayhan tak terima. “Syukur kalau sadar! Katanya tadi ada yang penting?” sindir Thalia. “Baru kali ini saya diusir dari kantor saya sendiri.” Ucap Rayhan dengan drama ala-ala. “Ck,” Thalia hanya menanggapinya dengan berdecak. “Oke! Saya pergi ya, kamu hati-hati loh, di belakang kamu suka ada penampakan!” Rayhan pura-pura bergidik ngeri. “Saya gak takut hantu, saya lebih takut sama Bapak,” Thalia mencebikkan bibirnya. Rayhan menepuk puncak kepala Thalia gemas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN