Chapter 04

1253 Kata
"Jangan takut bermimpi. Karena satu diantara jutaan mimpimu suatu saat akan terwujud." ---- Sudah beberapa hari Thalia bekerja di perusahaan Rayhan, dan sudah banyak yang ia ketahui. Meski, terkadang ada kesulitan . "Lia, saya keluar dulu. Mau bertemu teman lama dan akan kembali setelah makan siang. Jadwal saya kosong kan?" tanya Rayhan dari balik ruangannya. "Iya, Pak. Hanya ada meeting dengan para investor jam dua siang nanti." "Ah sayang ya kamu sibuk. Padahal saya bisa ajak kamu." "Kenapa, Pak?" tanya Thalia yang samar-samar mendengar ucapan Rayhan. "Ah, enggak! Saya pergi dulu ya. Dan kamu jangan lupa makan siang," ujar Rayhan. Entah kenapa, ada desiran aneh di hati Thalia saat bosnya berkata demikian. "Aish, Lia. Jangan aneh-aneh!" Thalia menepis pemikiran tersebut. **** Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Setelah berkutat dengan bermacam-macam dokumen, Thalia meregangkan tubuhnya dan mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya. Tak ada larangan makan di ruangannya, kecuali saat jam bekerja. Dan Thalia lebih suka membawa bekal daripada pergi ke kantin perusahaan atau sekedar pergi ke restoran. Menghemat pengeluaran, terlebih ia belum genap sebulan bekerja. Cah kangkung dan ayam goreng menjadi menu makan siangnya kali ini. Ia tersenyum menatap makanan di hadapannya. Namun baru saja ia mengangkat sendoknya, terdengar teriakan dari ruangan Rayhan. "Hey monster! Where are you?" teriak seorang gadis kecil yang tiba-tiba masuk ke ruangan Rayhan. Tentu saja, Thalia buru-buru menghampiri gadis kecil itu. "Hai," sapa Thalia. "Hallo kakak cantik. Apa kakak lihat monster?" tanya gadis itu dengan nada yang menggemaskan. "Monster? Ini kantor, Sayang. Gak ada monster. Kamu cari siapa?" tanya Thalia lembut. Gadis kecil di hadapan Thalia memang sangat menggemaskan. Usianya sekitar lima tahunan. Namun, anaknya terlihat sangat cerdas. Thalia tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya, ia mencubit pelan pipi gadis kecil itu. "Kakak magang di sini ya?" tanya gadis kecil Itu seolah paham tentang pekerjaan. "Enggak. Kakak kerja di sini," jawab Thalia. "Ah kakak masih kecil gini masa udah kerja?" Gadis kecil itu semakin kepo. "Kakak udah gede kok, Sayang." Thalia mengacak rambut gadis kecil itu gemas. Thalia boleh berbangga, karena di usianya yang sudah hampir dua puluh dua masih terlihat seperti anak SMA. "Tapi kakak imut," puji gadis kecil itu lagi. "Tapi imutan kamu kok," kekeh Thalia. Setengah jam sudah Thalia meladeni gadis kecil menggemaskan yang mencari monster ke ruangan bosnya. Ia hampir kehabisan waktu makan siangnya. "Oh iya, kamu kok bisa ada disini anak manis?" tanya Thalia lembut. "Hampir lupa," gadis kecil itu menepuk jidatnya. Thalia memandangnya heran. "Kita belum kenalan ya, kak. Nama kakak siapa?" gadis kecil itu mengulurkan tangannya. "Ditanya malah balik nanya," batin Thalia. "Nama kakak Thalia, panggil aja Lia." Jawab Thalia. "Oke sekarang giliran aku," Gadis kecil itu belum menyelesaikan kata-katanya sampai akhirnya pintu ruangan Rayhan terbuka. Dan siapa lagi yang masuk jika bukan sang empunya. "Oh my God, Princess! Kamu ngapain ke sini? Gangguin tantenya ya?" tanya Rahyan menjawil hidung gadis kecil yang sudah berada di gendongannya. "Tante? Maksudnya tante aku? Hah? Aku gak setua itu kali, emang dia Om-Om?" gerutu Thalia dalam hati. "Hey, Monster! Aku gak gangguin kak Lia ya! Justru kamu yang gangguin aku lagi kenalan!" Gadis kecil itu melipat tangan di depan dadanya sambil berpaling dari wajah Rayhan. "Minta maaf sana sama tantenya." "Tante lagi?" Thalia semakin tak terima dengan ucapan Rayhan. "Ih, Papa! Jangan panggil Kak Lia tante dong. Papa gak lihat, Kak Lia itu masih imut gitu?" protes gadis kecil itu. Thalia tersenyum mendapat pembelaan dari gadis kecil menggemaskan itu. "Wait, Papa? Jadi?" Pikiran Thalia berkecamuk. "Maaf ya, Lia. Dia ini Paulina, anak saya," ujar Rayhan. "Just call me Papau, Kak!" protes gadis kecil bernama Paulina itu. "Wow. Cute name!" "Thanks, but you're too!" Gadis yang menggemaskan dan pandai merayu. "Apa tadi dia gangguin kamu?" tanya Rayhan menurunkan Paulina dari gendongannya. "Ah enggak, Pak. Awalnya saya kaget waktu ada anak teriak-teriak di ruangan Bapak dan cari monster. Tapi, anak Bapak lucu, pintar juga," puji Thalia tulus. "Iya, saya sering dia panggil monster," kekeh Rayhan. Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap di hati Thalia saat mengetahui Rayhan sudah memiliki anak. Tetapi memang di usia yang sematang itu, sudah sewajarnya Rayhan telah berkeluarga. Mengapa ia jadi agak kecewa begini? Aneh. "Kamu sudah makan siang?" tanya Rayhan. "Em, belum, Pak," jawab Thalia ragu. "Kamu makan siang dulu gih. Jangan telat makan lho, nanti sakit. Maaf ya tadi Papau gangguin kamu." "Baik, Pak. Saya permisi dulu." Thalia mengangguk hormat sebelum berlalu dari hadapan Rayhan. Thalia beranjak ke ruangannya dengan perasaan yang berkecamuk. Perhatian Rayhan padanya malah terasa berbeda dari sebelumnya. "Kak Lia mau kemana?" tanya Paulina saat Thalia hendak kembali ke ruangannya. "Kakak mau makan siang. Papau mau ikut?" Thalia mulai menyukai kelucuan gadis itu. "Boleh?" tanya Paulina dengan antusias. "Yuk!" Paulina mengamit tangan Thalia dan berjalan beriringan menuju ruangan Thalia. "Papau, jangan gangguin kak Lia lagi!" teriak Rayhan. Putri kecilnya itu menoleh ke arahnya dan menjulurkan lidahnya tanda mengejek. "Sayang, kamu jangan gitu sama Papa. Gak baik. Anak manis harus hormat sama orang tua," nasihat Thalia yang menyaksikan hal tersebut. "Tapi, monster nyebelin, Kak. Sibuk terus, gak punya waktu buat Papau!" Gadis kecil itu memajukan bibirnya. "Papa kan cari uang buat Papau." Thalia mensejajarkan tingginya dengan gadis itu. "Papa sibuk karena sayang sama Papau. Mungkin, sekarang Papau belum ngerti, tapi nanti kalau Papau udah gede pasti ngerti kok." Thalia menjawil hidung Paulina sebelum menggendong gadis kecil menggemaskan itu. Paulina mengangkat bahunya. "Tapi, Papau sendirian terus, Kak. Papau bosen!" Raut wajahnya berubah sendu. "Mama kamu?" tanya Thalia. Gadis kecil itu semakin menunduk sedih. "Kata Papa, Mama udah di surga, Kak. Kata Papa, Mama meninggal waktu Papau masih satu tahun. Papau cuma tau Mama dari foto aja!" Gadis yang cukup cerdas dari anak-anak seusianya. Thalia jadi menyesal menanyakan hal tersebut. "Ah kalau begitu, Papau harus sayang sama Papa. Papa bukan hanya jadi Papa buat kamu, tapi juga jadi Mama. Kalau Papau gak sayang sama Papa, nanti Mama sedih. Papau mau Mama tenang di surga kan?" Thalia memecah kesenduan itu. "Iya, Kak. Papau janji gak bakal ngelawan lagi sama Papa. Papau sayang Papa!" Paulina memeluk erat Thalia. Diam-diam, Rayhan memperhatikan putrinya dan tersenyum bangga melihat apa yang Thalia lakukan kepada putrinya. Usianya memang masih muda. Namun, pemikiran gadis itu ternyata lebih dewasa dari usianya. "Papau suka ayam goreng gak? Kak Lia bawa lho." Thalia menunjukkan kotak bekalnya pada Paulina. "Papau mau, Kak!" seru gadis kecil itu antusias. "Ini buat Papau." Thalia menyodorkan sepotong ayam goreng yang di bawanya. "Itu kan makan siang kamu, Li," sambar Rayhan yang turut menghampiri mereka. "Gak apa-apa kok, Pak," jawab Thalia sambil tersenyum ramah. "Saya makan dulu ya, Pak," ucap Thalia sungkan sambil mengangkat sendoknya ragu. "Iya, Lia. Selamat makan!" Deg. Lagi-lagi, hati Thalia berdetak lebih cepat saat Rayhan memberi perhatian padanya dan mengingat bahwa status bosnya itu tidak beristri. "Kak, ayam gorengnya enak!" puji Paulina sambil tak berhenti mengginggit ayam goreng di tangannya. Saking semangatnya, gadis kecil itu sampai tersedak dan seketika Thalia panik dan mengambil botol minumnya. "Duh pelan-pelan makannya, Sayang. Ini minum dulu." Thalia menepuk bahu Paulina lembut sambil meminumkan air padanya. Persis seperti ibu pada anaknya. "Papau gangguin kamu terus ya?" Rayhan menggaruk tengkuknya. "Gak masalah, Pak. Saya suka anak kecil dan Papau juga anaknya lucu, dia gemesin banget. Rasanya pengin saya bawa pulang." Thalia segera menutup mulutnya karena lancang mengatakan hal tersebut. "Maaf, Pak!" cicit Thalia. "Kalau kamu mau bawa pulang anaknya, kamu harus bawa pulang papanya sekalian." Rayhan mengedipkan sebelah matanya sambil berlalu dari hadapan Thalia. Thalia mematung dan mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Rayhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN