Thalia memasukkan sepatunya ke dalam kantung plastik transparan setelah menggantinya dengan sandal. Berhubung musim hujan, Thalia tak ingin mengambil resiko sepatu yang basah karena kehujanan. Ia membawa sandal jepit untuk ia kenakan saat pulang kantor.
“Masa, sandal kamu kayak punya Papau?” Pertanyaan Rayhan mengejutkan Thalia yang tengah berjalan menenteng kantung plastik berisi sepatu di tangan kirinya.
“a***y! Eh,” Thalia menutup mulutnya.
“Sandal kamu imut banget,” kekeh Rayhan menunjuk sandal jepit berwarna ungu dengan bulu-bulu ungu bulat di atasnya, yang Thalia juluki ‘si jambul'.
“Matanya jelalatan amat, Pak? Sandal saya aja sampe di liatin gitu,” sindir Thalia sambil menekan tombol lift di hadapannya.
Rayhan hanya tertawa menanggapi Thalia yang menggerutu sambil ikut masuk ke dalam lift khusus karyawan.
“Kok Bapak masuk ke sini?” tanya Thalia.
“Mau aja!” jawab Rayhan singkat.
“Ck,” decak Thalia sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Sibuk terus,” sindir Rayhan tanpa ada reaksi dari Thalia.
“Pak, gak ada kegiatan lain apa selain gangguin saya?" Thalia mendengus kesal. Semakin lama, Thalia semakin mengetahui sifat jahil bosnya yang tidak pernah bosan mengusilinya setiap waktu. Dan hari ini lebih parah. Bosnya itu mengikutinya sampai jam pulang.
“Lagian, kamunya main HP terus sih!”
“Ya sudah, Bapak main HP juga. Punya kan?”
Thalia langsung keluar lift meninggalkan Rayhan dengan tergesa-gesa.
“Pulang sama siapa?” tanya Rayhan sambil mensejajarkan langkahnya dengan Thalia.
“Sama sepupu saya,” jawab Thalia seadanya.
“Sepupu yang mana?” Rayhan mulai kepo.
“Memangnya, Bapak tahu sepupu saya yang mana saja?” tanya Thalia dengan nada kesal. Rayhan seperti tidak punya kerjaan lain saja.
Rayhan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Thalia melirik kembali ponselnya yang tak kunjung mendapat pesan masuk dari sepupunya, Tami. Padahal, sebelumnya Tami sudah berjanji akan menjemputnya sepulang kuliah. Ini bahkan sudah lewat setengah jam dari jadwal pulang kantor Thalia.
Langit sore pun perlahan-lahan mulai tertutup awan hitam pekat yang menandakan hujan akan segera turun.
“Masih mau nunggu sepupu kamu?”
“Lah? Bapak kok masih di sini?”
“Kamu ya! Ditanya malah balik tanya!”
“Lagian, Bapak kepo amat sih. Pulang aja sih! Mobilnya mogok?” tanya Thalia ketus.
“Saya nungguin kamu. Nanti kalo sepupu kamu udah dateng, saya pulang kok.”
“Duh, saya bukan anak TK, Pak. Gak bakal di culik orang lagi kalo nunggu sendirian.” Thalia semakin malas meladeni celotehan Rayhan.
“Gemesin banget sih kamu.”
“Dasar tua-tua keladi. Orang tua yang gak nyadar umur. Dia pikir lucu apa ngomong kayak gitu? Sok imut banget!” gerutu Thalia dengan suara yang sangat pelan. Harap-harap Rayhan tidak mendengarnya.
“Ya sudah. Saya pulang duluan ya. Jangan rindu—“
“Dasar, temen seangkatannya Dilan!” potong Thalia ketus.
Rayhan hanya terkekeh gemas melihat Thalia yang marah-marah karena kejahilannya.
Lagi-lagi, Thalia mengintip jam dari layar ponselnya, waktu sudah berjalan lama. Namun, Tami belum juga menjemputnya.
“Tami ke mana sih? Mana HPnya gak aktif lagi,” gumam Thalia.
“Lia!” panggil seseorang dari arah belakang.
“Iya?” refleks gadis itu menoleh ke arah suara.
“Belum pulang?” tanyanya.
“Eh, em, iya, Kak Egi kok?” Thalia bertanya balik dengan gugup.
“Iya. Gue di divisi keuangan. Jangan bilang, Lo sekertaris Pak Bos yang baru?” selidik Egi sambil terkekeh.
Egi Ferdinand, adalah lelaki yang pernah Thalia sukai semasa SMA. Ia adalah senior OSIS Thalia. Lelaki paling hits pada masa itu. Gadis itu tidak menyangka jika lelaki yang pernah disukainya diam-diam itu bekerja pada perusahaan yang sama dengannya.
“Kok, Kak Egi tahu?”
“Lo udah hits di kalangan penghuni kantor. Katanya, sekertaris barunya masih unyu. Gue perhatiin Lo kali. Lo aja yang kelewat sibuk sampe gak ngeh ada gue.”
Keduanya terlibat percakapan hangat seputar masa sekolahnya dulu sampai menceritakan tempat kerjanya. Thalia sedikit mencari informasi lewat Egi yang sudah bekerja lebih lama darinya.
“Oh iya, lo kok belum pulang?”
“Nunggu sepupu aku jemput, Kak. Katanya pulang kuliah mau jemput.”
Masih berbincang dengan Egi, ponsel Thalia bergetar menandakan ada panggilan masuk. Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah kesal.
“Kenapa, Li?” tanya Egi yang melihat wajah Thalia yang di tekuk.
“Sepupu aku gak bisa jemput, Kak.”
“Bareng gue aja mau?” tawar Egi.
“Gak usah, Kak. Nanti pesan ojek online aja.” Thalia sebenarnya mau saja pulang bersama Egi, tapi ia masih gugup mengingat dulu ia pernah menyukai Egi.
“Gak papa. Lagian udah mau hujan juga. Yuk!”
Thalia akhirnya mengiyakan ajakan Egi. Daripada iya terjebak di kantor entah sampai kapan.
Keduanya kini sudah berada dalam Avanza silver milik Egi. Dan benar saja, dalam hitungan menit hujan turun dengan derasnya.
“Tuh kan, beneran hujan!” Egi memecah kecanggungan yang kembali terjadi di antara mereka.
“Iya,” jawab Thalia singkat.
“Lo kost atau gimana?”
“Iya, Kak. Tapi, sekarang aku mau ke rumah sepupu aku.”
“Oke, di mana alamatnya?”
Setelah menyebutkan alamat tujuannya, keheningan terjadi kembali. Hanya suara penyiar dari radio di mobil Egi yang tak henti-hentinya membacakan request para pendengar dan tak kunjung memainkan lagu.
Thalia menggeser ikon kunci di ponselnya saat sebuah pesan ia terima.
Pak Bos : Nolak pulang sama saya tapi pulang sama karyawan saya?
Thalia malas membalas pesan dari Rayhan dan menutup kembali ponselnya. Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar kembali.
Pak Bos : Pacar kamu?
Pak Bos : Gebetan?
Pak Bos : Apa siapanya kamu?
“Dasar orang tua kepo!” gerutu Thalia dengan suara pelan setelah membaca pesan dari Rayhan yang bertubi-tubi.
“Gimana, Li?” tanya Egi yang sepintas mendengar gumaman Thalia.
“Enggak, Kak.” Thalia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Thalia Anandita : Temen.
Thalia menjawab singkat pesan dari Rayhan karena terlanjur membacanya.
Pak Bos : Katanya kamu perantau, kok cepet banget dapet temen? Kayaknya akrab banget lagi sampe ngobrol ketawa gitu. Seneng banget kelihatannya.
Rayhan mengirimkan pesan yang cukup panjang pada Thalia. Gadis itu mengembuskan napas panjang. Ia tidak mengerti mengapa Bosnya itu kepo sekali dengan urusan pribadinya.
Thalia Anandita : Kepo amat, Pak?
Pak Bos : Berhenti, saya di depan mobil temen kamu!
Hanya dari pesannya saja, Thalia sudah merasakan aura perintah yang tidak bisa di bantah dari bosnya. Memangnya siapa dia berani mengatur kehidupan pribadinya? Rayhan hanyalah bos di tempatnya bekerja.
Benar saja, Rayhan sudah bertengger manis di samping mobil sport mewahnya beberapa meter dari mobil Egi yang tengah melaju.
“Stop, Kak!”
Perintah Thalia mengagetkan Egi yang spontan menginjak rem dan menimbulkan decit yang cukup keras akibat gesekan ban dengan aspal basah setelah terguyur hujan.
“Kenapa, Li?”
Thalia hanya menunjuk ke arah Rayhan dengan dagunya.
“Oh, sorry.”
Rayhan menghampiri mobil yang ditumpangi Thalia.
“Pak,” sapa Egi yang ikut turun dari mobilnya.
“Saya ada perlu dengan Thalia!” ucap Rayhan dingin dengan nada bicara yang sangat datar, membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya merinding.
“Iya, Pak. Maaf tadi saya hanya mengantar Thalia,” jawab Egi ramah.
“Thanks, Kak. Maaf juga udah ngerepotin,” ujar Thalia sungkan.
Egi hanya mengangguk dan tersenyum sambil kembali masuk ke dalam mobilnya.
Thalia menutup pintu mobil Rayhan dengan kasar. Kemudian, memasang seatbeltnya dengan malas. Ia enggan berbicara apapun, ia kesal pada Rayhan yang bertingkah seenaknya saat berada diluar kantor.
“Lia,” panggil Rayhan.
“Hmm.”
“Kenapa pulang sama karyawan saya? Padahal, saya ngajak kamu pulang duluan!” omel Rayhan.
“Dikira mau minta maaf, malah ngomel. Dasar orang tua!” oceh Thalia dalam hati.
“Terserah saya dong. Bapak kan cuma bos saya di kantor. Kok ngatur-ngatur hidup saya?” jawab Thalia ketus.
Rayhan tidak menjawab. Ia rasa, apa yang dikatakan Thalia memang benar adanya.
“Lia,” panggil Rayhan lagi dengan lebih hati-hati.
Tidak ada jawaban. Thalia benar-benar dibuat kesal oleh perilaku Rayhan yang seenaknya. Padahal, ia hanyalah pegawainya di kantor. Pria itu tidak berhak mencampuri urusan pribadinya.
“Ya sudah, saya minta maaf deh.”
Thalia masih enggan bicara. Rayhan ini pekerjaannya mengganggunya, minta maaf, kemudian mengganggunya kembali.
“Lia,” Rayhan menoleh ke arah Thalia.
Gadis itu menekuk wajahnya dan memainkan ponsel yang digenggamnya.
“Saya turun di sini saja, Pak!” Akhirnya Thalia membuka suara.
“Jangan, Li. Kamu tanggung jawab saya sekarang. Kalo kamu kenapa-napa, saya gimana?”
“Kan saya yang kenapa-napa. Kok Bapak yang gimana? Lagian saya udah gede, Pak!”
“Eng, anu, saya nanti repot kalo kamu gak ada.” Rayhan beralibi.
“Au!” Thalia mendelik sebal ke arah Rayhan. Ia bahkan tidak peduli pada tata karma karyawan pada atasnya. Salah siapa membuatnya kesal?
“Li, jangan ngambek dong cantik. Saya cuma gak mau kamu kenapa-napa.”
“Saya gak bakal kenapa-napa, Bapak Rayhan! Tadi itu teman sekolah saya, Kak Egi. Jadi apa salahnya saya pulang sama dia? Lagian, Bapak bukannya pulang juga malah mata-matain saya. Bapak itu bos. Masa, kerjaannya cuma ngurusin hidup saya aja?” Thalia menumpahkan semua kekesalannya.
Rayhan hanya menganga mendengar penuturan Thalia. Sedangkan, gadis itu kembali diam dan enggan menoleh ke arah Rayhan sama sekali.