“Masih marah?” tanya Rayhan yang entah kapan sudah berdiri di bibir pintu ruangan Thalia. “Apa?” tanya gadis itu ketus. “Mas kan udah minta maaf. Masa masih ngambek aja? Pipi kamu makin kembung tuh kalo cemberut terus!” goda Rayhan. “Bodo! Jijik! Mas-Mas apa? Geli!” Rayhan tekekeh melihat ekspresi dan gerutuan kesal Thalia. Insiden sepulang kerja kemarin memang masih membuat Thalia kesal dan enggan bertatap muka dengan bosnya itu. Tetapi, apalah daya, ia tak bisa menghindar karena pekerjaan. Dan ia harus profesional. “Yah, Mas harus ngapain dong biar kamu gak marah lagi?” tanya Rayhan dengan wajah yang di buat semelas mungkin. “Jangan bilang kayak gitu!” “Kayak apa?” “Mas,” jawab Thalia. “Iya, kenapa?” Rayhan menaik turunkan alisnya. “Maksudnya jangan bilang Mas-Mas, Pak Bos! Au

