Tami memasuki gedung perkantoran Wijaya's Corp. dengan terengah-engah. Ia mengedarkan pandangan hingga matanya tertuju pada satu titik. Ya, meja resepsionis. Mungkin ini akan membantu. Ia berjalan pelan menuju meja Intan yang pemiliknya tengah sibuk dengan telepon di kuping kirinya. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya Intan selepas menaruh gagang telepon. Sekilas, ia melirik gadis di depannya, penampilannya jelas sekali jika ia seorang mahasiswi. Tami ragu, tapi akhirnya ia menanyakan juga keberadaan Rayhan. “Sudah ada janji sebelumnya?” tanya Intan formal. Tami hanya menggeleng polos sambil mencari alasan yang tepat untuk menemui Rayhan. Tapi apa? Kepalanya masih bekerja keras. “Maaf?” Intan membuyarkan lamunan Tami. “Ah, iya, Mbak, anu,” Tami yang refleks karena panggilan Intan

