Thalia berjalan di belakang Rayhan, ia masih canggung untuk mensejajarkan langkahnya dengan pria itu. Ia hanya menunduk sambil menggembungkan pipinya. “Lia,” panggil Rayhan sebelum gadis itu memasukinya. Thalia menoleh canggung kemudian menghampiri bosnya itu dengan langkah berat. “Iya, Pak.” Rayhan mengerutkan keningnya melihat perilaku aneh Thalia. “Saya mau minta maaf, Li. Saya tau saya yang salah.” Sebelum Thalia menjawab, ponsel Rayhan berbunyi dan sang pemilik langsung mengangkatnya dan berjalan menjauhi Thalia. Daripada terlihat seperti orang bodoh yang mematung menunggu Rayhan, Thalia memutuskan pergi ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia menatap layar komputernya, namun tak benar-benar menatapnya, pandangannya kosong. Sesekali ia mengetuk kepala

