Berkat Ken, Gauri jadi mengetahui kalau Meira adalah salah satu pelang*gan tetap di Skyward Cafe. Ken mengatakan hal itu setelah Gauri menolak untuk menemui Meira yang katanya ingin bertemu dengan dirinya.
Hari ini Gauri memang masih mendekam di dalam ruangannya yang berada di lantai atas.
Untuk mencapai ke ruangan itu, Gauri memiliki tangga sendiri yang terletak di dekat meja bar. Sehingga kalau ia akan keluar ruangan, ia hanya perlu menuruni tangga tanpa harus melewati pengunjung yang ada di lantai dua. Tangga itu tidak terlalu lebar, sehingga orang yang lewat pun tidak bisa berjalan berdampingan.
Tepat jam 7 malam, Gauri baru menuruni tangga setelah sok sibuk dengan menghabiskan waktu untuk membaca novel di dalam ruangannya.
Sebenarnya ia jarang meninggalkan cafe di jam seperti ini, karena ia lebih sering pulang di sore hari.
Lalu, di meja dekat tangga, Gauri mendapati Okta yang sedang berangkulan mesra dengan pacarnya—Jessy. Bahkan ada Juna dan Meira yang juga sedang berada di meja yang sama.
Mereka double date ya?
Gauri mendecih. Jadi, apa maksud Meira yang ingin menemuinya tadi? Mengajak ia bergabung di meja mereka, dan menjadikannya sebagai kambing congek di sana?
Gauri lantas menurunkan kakinya dari atas anak tangga terakhir, dan membuat dirinya seolah-olah tidak menyadari keberadaan Juna bersama teman-temannya.
"Hai, G!" Jessy melambaikan tangan dengan senyum manis di bibirnya. Gauri nyaris mengumpat keras karenanya.
Sapaan Jessy itu membuat ketiga pasang mata yang juga berada di sana langsung mengalihkan pandangan mereka pada Gauri yang langsung berhenti berjalan.
Gauri membalas sapaan itu seadanya. Ia sedang tidak ingin menjadi owner yang beramah-tamah pada pengunjung di cafe-nya. Karena ia tidak suka melakukan hal itu pada penghuni meja satu itu. Katakanlah ia kekanakan, karena masih saja mengingat kejadian di masa lalu mereka. Dan Gauri juga tidak peduli kalau keempat orang di meja itu tidak pernah kembali lagi ke cafe-nya, malahan bagus kalau mereka semua tidak pernah menginjakkan kaki di sini lagi.
"G, kamu mau ke mana?"
Gauri tidak menyangka kalau Juna akan nekat menyusulnya sampai di parkiran.
"Pulang."
"Kamu gak bisa gabung dulu sebentar sama anak-anak di dalem? Nanti Leo bakalan nyusul kok."
Kepala Gauri tampak menggeleng. "Lo tahu kan kalau mereka itu temen-temen lo, bukan temen-temennya gue."
"Terus ngapain gue mesti gabung di tengah orang-orang asing begitu?" tanya Gauri karena melihat Juna yang terdiam akibat ucapannya.
"Kamu tahu, G, kalau mereka bukan orang-orang asing.
Bullshit!
Ingin sekali Gauri meneriakkan kata itu di depan wajahnya Juna, bila perlu di depan teman-temannya juga. Ia sudah muak berhadapan dengan perkumpulan orang-orang menyebalkan seperti Juna dan teman-temannya.
Bagaimanapun, mereka semua ikut andil dalam kejadian di masa lalu. Di mana akar permasalahan Gauri dan Juna mulai muncul.
Gauri ingat, awalnya ia merasa lucu karena Juna memiliki nama yang sama dengan nama ayahnya. Kemudian mereka jadi semakin dekat, karena Juna semakin hari semakin gencar melakukan pendekatan dengan dirinya.
Gauri suka pada Juna yang baik dan perhatian. Bahkan Gauri juga sangat senang melihat lesung pipi yang terdapat di pipi kirinya Juna, hingga ia memiliki kebiasaan menyuruh Juna berbicara apa saja, atau tersenyum agar lesung pipinya itu terlihat, dan ia bisa menyentuh lekukan itu dengan jari telunjuknya.
Sampai suatu hari, mendekati hari Ujian Nasional, Juna tiba-tiba memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin nyaris dua tahun lamanya. Dengan alasan paling basi yang pernah Gauri dengar, yaitu ingin fokus ujian. Bah! Bukannya fokus menghadapi ujian, yang ada malah Gauri tambah banyak pikiran, karena ia terus memikirkan dimana letak kesalahannya.
Lalu Gauri mencoba mencari-cari Juna, karena laki-laki itu susah sekali dihubungi, dan tidak bisa ditemui semenjak memutuskan hubungan dengannya. Bahkan semua teman dekat laki-laki itu kompak tutup mulut, dan membiarkannya frustrasi sendiri. Padahal Gauri sudah memohon pada mereka semua untuk memberitahunya, tapi permohonan itu hanya dianggap sebagai angin lalu saja oleh mereka semua.
Tiba saat di pesta kelulusan, Gauri tahu kalau ia yang sempat menangisi Juna selepas berakhirnya hubungan mereka hanya membuang-buang waktu dan tenaganya. Bahkan di acara itu juga Gauri jadi tahu dimana letak 'kesalahan' dalam hubungan mereka. Kesalahan itu bukan ada pada Gauri, tetapi pada Juna sendiri.
Pantas saja Jessy, Okta, Randi, juga Leo tidak mau buka suara tentang keberadaan Juna, dan terkesan menutup-nutupi sesuatu darinya. Karena laki-laki itu ternyata sibuk menghabiskan waktu bersama teman perempuan mereka sendiri, yaitu Meira.
Hubungan yang terjalin antara Juna dan Meira sangat klise, sahabat jadi cinta.
Jadi, jangan salahkan Gauri kalau ia begitu muak dengan persahabatan yang terjalin di antara keenam orang itu sampai hari ini.
***
Dinda adalah orang pertama yang Gauri ajak bergabung di Skyward Cafe.
Pertama, karena mereka lahir di tahun yang sama, sehingga bisa menjadi cukup dekat padahal Dinda adalah adik kelasnya. Mereka pertama kali saling mengenal saat duduk di bangku SMA, kala itu Gauri mendapatkan tantangan dari teman-teman sekelasnya untuk ikut berfoto di tengah-tengah perkumpulan murid yang tidak dikenalnya selepas upacara 17-an. Dan Dinda adalah orang yang saat itu refleks merangkul tangannya agar ia bisa masuk ke tengah-tengah jejeran murid yang sudah bersiap untuk difoto oleh seseorang.
Kedua, karena mereka sudah saling mengenal sedari SMA hingga kuliah. Bahkan mereka berdua pun masih tetap berhubungan saat Gauri sudah lulus duluan.
Jadi, sudah dipastikan kalau Dinda mengenal Juna dan teman-temannya. Sehingga Gauri pun bertanya pada Dinda perihal Meira yang menjadi pelang*gan tetap di cafe-nya.
"Iya, Mbak. Mbak Meira, Mas Juna, dan teman-temannya yang lain memang sering nongkrong di sini, tapi ... mereka tuh seringnya dateng sekitaran jam tujuh, pokoknya pas Mbak udah pulang duluan."
Dinda memang selalu memanggil Gauri dengan sebutan Mbak. Karena meskipun mereka lahir di tahun yang sama, tapi Gauri tetap lebih tua darinya. Terlebih lagi, perempuan itu adalah atasannya.
Melihat Gauri yang masih diam saja, Dinda kembali melanjutkan ceritanya. "Mbak Meira juga cukup sering kok nanyain Mbak lagi ada di sini, atau enggak. Terus gak tahu kenapa, Mas Juna selalu bilang buat jangan cerita apa-apa ke Mbak."
Gauri masih diam saja, karena ia tidak tahu harus menanggapi informasi ini seperti apa.
Pantas saja ia tidak pernah melihat Meira, ataupun Juna sebelum pertemuannya dengan Meira di meja bar sore itu. Tetapi, Ken malah memberitahunya kalau Meira itu salah satu pelang*gan tetap di cafe mereka.
"Din, gue kayaknya bakalan jarang dateng ke sini deh mulai hari ini."
"Lho? Kenapa, Mbak?" Dinda langsung terkejut dengan ucapan Gauri barusan.
Gauri mengibaskan tangannya. "Lo tahu sendiri kan gimana hubungan gue sama mereka dulu? Dan bisa-bisanya mereka jadiin cafe gue sebagai salah satu tempat mereka buat ngumpul."
"Kalau misalnya gue pasang foto mereka berenam di pintu depan sebagai orang-orang yang dilarang masuk ke cafe ini, salah gak sih, Din?" tanya Gauri yang sepertinya mulai merasa frustrasi.
*****