07: G dan Rasa (Tidak) Suka

942 Kata
Acara lamaran Alina akan berlangsung nanti malam di kediamannya. Seluruh keluarga besar ibunya diwajibkan untuk hadir di sana tepat jam 7 malam untuk menyambut kehadiran calon suaminya Alina. Termasuk ibunya Gauri beserta keluarga. Dengan memakai baju berwarna mocca tua yang sesuai dengan dress code yang sudah diberitahukan sebelumnya, warna pakaian mereka semua tampak kompak dengan anggota keluarga lainnya. Gauri lantas naik ke lantai atas—dimana kamar Alina berada—sebelum ada salah satu tantenya yang menahannya di bawah, dan ia akan ditanyai macam-macam tentang pasangan. Berhubung Gauri ikut mendampingi Alina bersama dengan beberapa sepupu mereka yang lainnya, jadi Gauri datang ke tengah-tengah acara tepat saat Alina sudah dipersilakan untuk turun ke lantai bawah oleh salah satu sepupu laki-lakinya yang bertugas menjadi MC di acara lamaran itu. Saat memperhatikan keadaan sekitar, mata Gauri tak sengaja bertatapan dengan sepasang mata milik Meira yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu. Dahi Gauri lantas mengerut tak suka melihat kehadiran perempuan itu di sana. Karena setahunya, acara lamaran ini hanya dihadiri oleh keluarga besar dari kedua belah pihak saja. Dan Gauri sudah bisa menebak, pasti Meira adalah salah satu keluarganya Indra—calon suaminya Alina. "Ternyata Jakarta itu memang sempit ya?" Gauri langsung melirik Meira yang tertawa renyah di sampingnya. Saat ini mereka berdua sedang berdiri di dekat meja panjang yang terdapat berbagai jenis kudapan. "Iya, Jakarta memang sempit.” Gauri mengangguk samar. "Saking sempitnya, bikin gue muak sendiri, karena ketemu orang yang itu-itu lagi." Meira terkesiap di sampingnya, dan Gauri menyadari itu. Tanpa berujar apa-apa lagi, Gauri melangkah meninggalkan Meira di sana tanpa peduli kalau perempuan itu bisa saja tersinggung dengan kalimat pedas yang ia ucapkan. Kadang-kadang Gauri heran pada orang-orang sejenis Meira dan Juna yang berani membangun obrolan santai bersama orang yang bermasalah dengan mereka, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Apakah baik Meira maupun Juna tidak menyadari kesalahan mereka sehingga masih berani berinteraksi dengannya? Oke, katakanlah mereka adalah teman satu angkatan saat masih di sekolah dulu. Tetapi, mereka kan tidak sedekat itu. Jangan sampai Gauri besok benar-benar mamajang foto Meira dan Juna beserta keempat teman mereka yang lain di depan pintu cafe-nya sebagai orang-orang yang dilarang masuk ke sana, karena makin ke sini Gauri semakin sering bertemu dengan salah satu dari mereka. Terlebih lagi Meira dan Juna. Gauri sudah muak bertemu dengan mereka berdua. Setelah sempat berbicara sebentar dengan Meira tadi, Gauri mencari celah agar ia bisa pulang duluan dari acara ini. Tidak apa-apa kalau ia harus pulang naik taksi, atau ojek online sekalipun. Karena ia tidak ingin bertahan di sini lebih lama lagi, apa lagi sampai acaranya benar-benar selesai. Lantaran tante-tantenya pasti akan kembali meributkan soal dirinya yang masih saja melajang. *** "Hai, lagi sibuk ya?" Gauri nyaris saja melepaskan nampan berisi cangkir kotor serta piring bekas yang baru saja ia ambil dari salah satu meja. Siang ini Skyward sedang ramai-ramainya, sehingga Gauri harus ikut turun tangan membantu pegawainya seperti biasa. "Untung gue gak jantungan." Juna tertawa singkat. "Makan siang bareng, yuk! Nanti aku yang traktir." "Gak tertarik." "Kok kamu jutek banget sih, G, sama aku?" Gauri mendengkus sebal, dan kembali melangkah. Ia yakin Juna pasti tahu alasan yang membuatnya jadi begini setiap kali mereka berdua berinteraksi. "G," panggil Juna yang mengekor di belakang. "Stop calling me G." Gauri menatap Juna dengan tatapan tajamnya. Ia juga merasa muak dengan panggilan itu. Juna tampak mengerjap pelan. "Kamu gak berhak ngatur aku, karena aku suka dengan panggilan itu." "Tapi gue yang gak suka dipanggil begitu," balas Gauri seraya menggeleng dengan tatapan matanya yang terlihat semakin tajam. Juna hanya mengangkat bahunya, dan duduk di salah satu bangku yang terletak di depan meja bar. Kemudian menyebutkan pesanannya pada Dito sekaligus mengabaikan Gauri yang masih berdiri dengan wajah marah di tempatnya tadi. *** From +628121183XXXX: Nanti sore aku jemput di kafe ya? Kita pulang bareng. Gauri hanya melongo menatap deretan kalimat yang dikirimkan oleh nomor asing ke ponselnya. Seakan tersadar, Gauri langsung memencet foto profil milik orang yang baru saja mengirimkan pesan padanya. Gauri mengenali wajah di foto itu, meski foto itu dibidik dari arah samping. Karena ia tahu kalau itu adalah fotonya Juna. Ia lantas menarik napas pelan, tak memiliki niatan untuk membalas pesan itu. Lagi pula, ia membawa mobil sendiri. Jadi, untuk apa laki-laki itu sampai mau menjemputnya kemari. Setelah selesai dengan urusannya di dapur, Gauri kembali mengecek ponselnya yang tadi sempat ia tinggalkan di atas meja kecil di samping dispenser dapur. Ada banyak notifikasi yang masuk, salah satunya dari aplikasi pesan singkat berlogo gagang telepon yang berada di dalam bulatan. Gauri lantas membalas pesan dari ibunya terlebih dahulu, lalu membalas pesan konyol Raya yang sedang pamer foto honeymoon padanya, dan terakhir ia baru membuka rentetan pesan dari Juna. Karena banyaknya pesan yang masuk dari laki-laki itu, Gauri akhirnya terpaksa mengetikkan balasan. Me: Ganggu, gue block juga lo. +628121183XXXX: Jangan gitu dong. Tak lama kemudian, muncul satu pesan lagi dari nomor yang sama. +628121183XXXX: Jadi, gimana, G? Me: Apanya? +628121183XXXX: Pulang bareng aku. Me: Gue bisa pulang sndiri. +628121183XXXX: Gmn klo aku mampir ke cafe kamu, trs kita ngobrol sebentar. Bisa? Me: G. +628121183XXXX: Singkat bener. Pesan itu hanya dibaca saja oleh Gauri. +628121183XXXX: Please, G. Me: Cafe gue gk butuh pelang*gan kyk lo. Berhubung Gauri merasa sudah terlalu banyak berkirim pesan dengan Juna, ia akhirnya mematikan data seluler di handphone-nya tepat setelah pesan terakhirnya itu terkirim ke nomornya Juna. Gauri tidak peduli lagi jika setelah ini Juna—kalau bisa temannya juga—tidak lagi datang ke cafenya ini. Gauri yakin, kalau kehilangan pelang*gan seperti mereka tidak akan membuat usahanya jadi bangkrut seketika. ***** Btw, beberapa kata yang kena sensor, sengaja aku ubah penulisannya. Entah itu pke simbol (*) atau angka. Jadi, harap maklum ya^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN