08: Alasan Mereka Balikan

1185 Kata
Gauri memutar bola matanya dengan malas begitu melihat Juna yang sedang bersandar di dekat pintu cafenya. Sehingga ia pun ingin sekali melemparkan tas bermerknya ke wajahnya Juna. Namun, kalau dipikir-pikir, itu terlalu elit untuk dilakukan. Juna lebih pantas ditimpuki pakai batu koral, sampai namanya terukir di batu nisan. Gauri segera menggelengkan kepalanya atas pemikirannya barusan, ia belum siap untuk menjadi seorang kriminal. Tanpa menghiraukan keberadaannya Juna, Gauri langsung memasuki cafenya dengan langkah ringan. Beberapa pegawainya ada yang sedang sibuk menurunkan kursi dan membersihkan meja. "Lo tuh kenapa sih?" tanya Gauri pada Juna yang mengekorinya sampai di depan meja bar. Sebelah tangan Gauri bergerak untuk meletakkan tasnya ke atas sana. "Memangnya aku kenapa?" Juna malah balik bertanya dengan wajah polosnya. "Heh, Junaedi!" Telunjuk Gauri terangkat, dan mengacung pada dadanya Juna. Ia berusaha menekan suaranya agar tidak terlalu didengar oleh para pegawainya yang sedang berlalu-lalang. "Lo tuh gak sadar ya sama kesalahan lo dulu sampe-sampe berani nongol di hidup gue lagi kayak gini?" "Asal lo tahu, Skyward ...," Gauri mengedarkan pandangannya pada suasana cafenya yang belum dibuka. " ... gak butuh pelang*gan kayak lo." "Jadi, lebih baik lo jangan pernah dateng ke sini lagi, khususnya ke hadapan gue, karena gue benci banget sama lo!" Jari telunjuk Gauri kembali menekan dadanya Juna saat ia menegaskan kalimat terakhirnya. "Udah ngomongnya?" Sebelah alis Juna terangkat, tanpa sungkan laki-laki itu menggenggam tangan Gauri yang tadi digunakan perempuan itu untuk menekan dadanya. Gauri bertambah kesal. Di saat ia sudah sangat meledak-ledak, bisa-bisanya Juna tetap tenang seperti sekarang. Juna mengangguk samar dengan pandangan lurus kepada dua manik matanya Gauri. "Aku anggap kamu udah selesai." "G ...." Juna menatap Gauri dengan sendu. Tetapi, nada suaranya kali ini sarat akan ketegasan. "Aku masih cinta sama kamu." Gauri sempat terkejut, meski hanya sebentar. Karena di detik selanjutnya, ia malah mendengkus dan menatap Juna dengan pandangan tersinis yang ia bisa. Tak lupa, ia juga menyentak tangannya agar terbebas dari genggaman tangannya Juna. "Gak usah ngomong soal cinta kalau nyatanya lo sempat mendua." "Gue hafal banget Jun sama cowok playboy macem lo ini. Jadi, gue gak bakalan biarin diri gue jatuh sama pesona lo untuk yang ke-dua kali. Mungkin yang dulu itu gue sempet beg0, makanya bisa kecolongan, tapi sekarang gak lagi." Gauri mengomel dengan sangat lancar, tanpa memedulikan kalau saat ini pegawainya sedang menonton dan mendengarkan celotehan darinya. "Inget baik-baik ya, gue gak bakalan biarin hati gue dihancurin oleh orang yang sama." Pandangan Gauri akhirnya berpaling pada Dito yang sedang mengelap cangkir dengan gerakan pelan di balik meja bar. "Dit, usir dia dari sini sekarang, dan pastikan kalau orang ini gak pernah dateng lagi ke cafe kita.” Tanpa memberikan kesempatan bagi Juna untuk berbicara, Gauri segera membawa tasnya menuju ke lantai atas. Sampai di dalam ruangannya, Gauri langsung melempar tasnya ke atas sofa, lalu menghempaskan tubuhnya sendiri di sofa yang lainnya. Untuk ukuran hatinya yang rentan seperti sekarang, pernyataan cinta Juna tadi sebenarnya nyaris meluluhlantakkan hatinya Gauri. Sudah berapa lama ia tidak mendengarkan sederet kalimat seperti tadi? Rasa-rasanya sudah sangat lama sekali. Bahkan selepas putus dari pacar terakhirnya dulu, Gauri baru menyadari jika pacarnya itu tidak pernah mengucapkan kalimat sederhana berupa ‘I Love You’ padanya. Makanya, saat ia telah sadar, ia jadi tidak heran kalau pacarnya kala itu tidak menganggap serius hubungan yang terjalin di antara mereka. Dan hari ini, hati Gauri yang sedang rentan serta gampang baper malah kembali disirami oleh perasaan campur aduk dengan perut melilit saat kembali memutar ulang kalimat yang ia dengar dari mulutnya Juna tadi. Tetapi, Gauri memilih untuk segera menepis semua hal janggal yang sedang ia rasakan saat ini. Hingga satu pertanyaan pun muncul, apakah Juna tadi serius? Gauri kontan mengerjap pelan. “Kok gue jadi kepikiran?” *** "Ma," panggil Gauri yang membuat Yashinta langsung berpaling sekilas ke arahnya. "Mama dulu pacaran sama Papa berapa lama ya? Pernah putus-nyambung enggak sih, Ma?” Yashinta yang sedang mengaduk adonan bakwan, kini menaruh perhatian lebih pada Gauri. Ia sedang mencoba menyelami pikiran putrinya, karena ia sangat hafal, Gauri tidak mungkin hanya iseng saat sedang bertanya, ataupun membahas sesuatu padanya. "Kalau enggak salah sih tiga tahunan lebih, Ri. Udah mau jalan empat tahun deh kayaknya. Terus Papa melamar Mama ke orang tua dulu, pas udah dikasih restu, Papa kamu baru deh lamar Mama di ... warung tenda." Gauri hanya menyimak, dan dahinya mengernyit saat Yashinta sengaja memelankan kata ‘warung tenda’ tanpa berniat untuk menginterupsi cerita ibunya. Melirik Gauri sekilas, kini Yashinta mulai memasukkan adonan bakwan menggunakan centong stainless ke dalam minyak panas. Yashinta yang memunggungi Gauri, lantas kembali melanjutkan ceritanya tanpa diminta. "Dulu Papa kamu baru gerak buat lamar Mama juga gara-gara sebelumnya Mama sempet bilang ke dia ‘Jangan sampe ya di tahun kelima hubungan kita, masih belum ada kemajuan juga.’ Yashinta tiba-tiba mendengkus samar, tapi Gauri masih bisa mendengar. "Mama waktu itu udah sempet mau putusin Papa kamu saking capeknya, dan Mama udah bertekad kalau sampe waktu itu putus beneran, itu bakalan jadi yang terakhir kalinya Mama bilang putus ke Papa. Terus Mama juga gak mau lagi balikan sama dia. Karena selama pacaran, Mama udah ... emm, berapa kali ya dulu Mama minta putus?" Yashinta terkekeh sendiri sembari menggaruk pelan kepalanya. "Lupa deh." Tepat saat Yashinta berbalik ke arah meja makan, sudah ada dua penghuni baru di sana. Ada Arjun—Papanya Gauri, dan juga Ganesh—kakaknya Gauri. Mereka berdua tadi pulang secara bersamaan dan langsung bergabung dengan Gauri yang sedang bertopang dagu di atas meja makan tanpa menimbulkan suara. Mengabaikan tatapan usil ayahnya serta saudara sulungnya, Gauri memilih bertanya pada ibunya. "Terus apa yang ngebuat Mama mau diajak balikan sebelumnya?" Arjun langsung menyanggah. "Enak aja! Dulu itu Mama kamu lho, Ri, yang sering minta putus terus ngajak Papa balikan lagi.” Yashinta hanya berdecak di dekat meja kompor sana. Gauri lantas menatap ayahnya dengan penuh minat. "Terus apa yang ngebuat Papa mau diajak balikan sama Mama?" "Karena Papa kasihan aja sama Mama kamu yang maksa terus, dan melas minta balikan,” jawab Arjun sambil tertawa santai tanpa menghiraukan delikan tajam yang Yashinta berikan. "Pfftt, emang bener, Ma?" tanya Ganesh pada ibunya. "Enggak ya, enak aja." Setelah itu, Yashinta kembali sibuk dengan gorengannya. Arjun langsung menyudahi tawanya, dan menatap punggung istrinya itu dengan penuh perasaan. "Karena kami masih saling mencintai, Ri.” Diam-diam Yashinta tersenyum kecil di depan sana tanpa membalikkan badannya. Sedangkan Gauri, ia langsung termangu dengan jawaban itu. Kini pandangan Arjun hanya terfokus pada Gauri yang tampak termenung. "Bosan dalam berpacaran itu hal yang biasa. Apa lagi hubungannya kayak Papa dan Mama yang pacarannya udah lama." "Memangnya tadi kamu nanya apa sih, Ri?" Arjun kini menatap anak keduanya itu dengan raut wajah ingin tahunya, pun dengan Ganesh yang juga menatap adiknya dengan pandangan serupa dengan sang ayah. "Itu lho ... hmm, bukan apa-apa kok. Papa kepo deh, ini tuh urusan cewek," sahut Gauri dengan sedikit salah tingkah. "Paling-paling dia diajak balikan sama mantannya, Pa, atau jangan-jangan ...." "Apa?" tanya Gauri yang terkejut dengan pernyataan kakaknya barusan. "Lo yang ngajak balikan duluan!” Setelah itu, Ganesh pun tertawa puas sambil berlalu dari meja makan, meninggalkan Gauri yang sedang memasang raut wajah geram. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN