Setelah Byantara memutuskan panggilan telepon… Byantara menarik napas panjang. Suasana ruangan yang semula terasa hangat, tiba-tiba menjadi hampa. Ia menyelipkan ponselnya ke saku celana, lalu menoleh, tanpa sadar menemukan tatapan Meylin yang teduh, penuh kesabaran, namun begitu tenang hingga sulit ditebak. Rasa bersalah itu kembali mengganjal di dadanya. Awalnya, ia berpikir dengan bersikap dingin dan menjaga jarak, Meylin akan lelah, menyerah, lalu membalas sikapnya dengan jarak yang sama. Dengan begitu, semuanya akan menjadi lebih mudah… mereka bisa berpisah tanpa luka yang dalam. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. “Mey…” panggil Byantara pelan. Suaranya nyaris seperti bisikan yang ragu-ragu keluar dari bibirnya. Meylin mengangkat wajah. Matanya yang lembut menatapnya tenang. Ti

