Byantara bangkit dari duduknya, meraih ponselnya yang terus bergetar di atas meja. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan menjauh, bukan sekadar beberapa langkah, tapi sampai ke sudut ruangan yang terasa cukup jauh dari tempat Meylin. Meylin mengangkat wajahnya perlahan, mengikuti jejak langkah suaminya dengan pandangan yang dipenuhi tanya dan kecemasan. Ada yang terasa berbeda. Memang benar, Byantara bukan laki-laki yang mudah bercerita. Tapi jarak yang ia bentuk dari panggilan yang masuk itu bukan sekadar kebiasaan. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Mas Byan… punya teman perempuan? gumam batinnya lirih, kalimat yang bahkan tidak berani ia jadikan suara. Ia buru-buru mengusir pikiran itu jauh-jauh, sebelum sempat tumbuh menjadi kecurigaan. Mungkin itu sekretarisnya. Atau klien bisnis. Iya…

