Ketika Byantara baru selesai mengoleskan salep dan hendak membalut kaki Meylin dengan perban tipis, tiba-tiba terdengar suara batuk kecil dari arah pintu dapur. “Maaf, Pak Byan... kami tadi nunggu air minum,” ujar sang mandor tukang sambil menggaruk kepala canggung. Suaranya langsung terhenti saat pandangannya jatuh pada pemandangan yang ada di hadapannya: bos mereka, pria yang mereka kenal sebagai sosok tegas dan cenderung dingin, kini tengah jongkok, dengan penuh kesabaran dan ketelitian merawat kaki istrinya yang tampak cantik, tapi kini meringis menahan nyeri. Melihat pemandangan itu, tentu muncul keinginan untuk menggoda. Terlebih lagi, semua orang tahu kalau Byantara dan Meylin masih pengantin baru. Dua tukang lain yang ikut berdiri di belakang sang mandor saling senggol sambil ter

