Chapter 7 - Stay With Me Tonight

2221 Kata
Setelah permainan ranjang yang panas waktu itu, Alina dan Arga jadi semakin lengket. Keduanya jadi tak terpisahkan. Ke mana-mana selalu berdua, seperti surat dan perangko. Bukan hanya cinta mereka yang sudah menyatu, tubuh mereka pun kini juga sudah menjadi satu. Sekarang tiap pagi dan sore sebelum ke kampus, Arga selalu menjemput Alina. Sudah jadi kebiasaan. Kalau dulu, boro-boro Arga mau antar jemput mantan-mantannya. Karena sering pakai mobil, uang jajan Arga jadi habis buat beli bensin. Bukan hanya itu, Arga juga jadi semakin sering mentraktir Alina. Padahal yang ditraktir juga gak minta. Alina suka merasa tak enak hati pada Arga. Ibu sampai jadi khawatir, kenapa uang jajan putra satu-satunya itu jadi cepat habis. Padahal sebelumnya tak pernah begini. Yang ada di pikiran ibu, Arga menghabiskan uangnya untuk pergi dugem atau minum di club malam. Yang paling parah, ibu pikir Arga ‘jajan’ di luar. Padahal, Arga cuman lagi jatuh cinta. “Jangan boros-boros, nak. Bapak ngirimin uang ke kita kan cuman sebulan sekali. Kalo uang jajan kamu yang ini abis lagi, kamu minta sendiri ya ke bapak. Ibu nggak mau kasih kamu uang jajan lagi,” kata ibu. Dengan senyum sumringahnya, Arga mencium tangan ibunya dan pamitan, “Makasih, bu. Iya janji, gak bakal minta lagi kali ini. Aku berangkat dulu.” Ibu cuman geleng-geleng kepala. Seperti biasa, pagi ini Arga menjemput Alina. “Pagi,” sapa Arga sambil membukakan pintu mobil untuk Alina. Alina tersenyum, “Pagi juga.” “Kamu udah makan?” tanya Arga sembari menghidupkan mobilnya. “Udah. Jangan sering-sering ajak aku makan, Arga. Aku nggak enak sama kamu,” kata Alina. “Terus? Masa aku nggak boleh traktir pacar aku sendiri?” “Bukannya gitu, masalahnya kamu selalu traktir aku di tempat mahal. Kalo uang kamu cepet abis gimana? Kita kan belom bisa cari uang sendiri. Kasian bapak kamu cape-cape nyari duit kalo kamu abisin buat hal yang gak perlu. Kita kan bisa makan di tempat yang lebih murah. Lagian orangtua aku masih sanggup kok ngempanin anaknya.” Arga terdiam sejenak. Arga tak menjawab, malah tersenyum. Alina mengernyitkan dahi, “Kok malah senyum-senyum sendiri?” “Kamu sama kayak ibu. Ibu juga barusan bilang supaya aku jangan boros-boros.” Alina menghela napas, “Bagus deh.” “Iya, bagus. Itu tandanya mertua sama menantu satu pemikiran.” Pipi Alina memerah, “Apa sih .. emangnya aku menantu ibu kamu?” Arga tersenyum, “Nggak sekarang. Tapi nanti. Lebih tepatnya, calon mantu.” Sesampainya di kampus, Alina langsung buru-buru ke tempat fotokopi. Mau fotokopi buku milik Jovanka. Maklum, lebih ramah buat kantong mahasiswa. Kalau bisa fotokopi yang harganya lebih murah, kenapa harus beli yang asli? “Kamu duluan aja. Aku mau fotokopi dulu bentar,” kata Alina. “Nggak mau ditemenin?” “Nggak usah, ngapain. Tempat fotokopinya di seberang kampus kok, bukan di luar negeri. Nggak jauh,” canda Alina. Arga tersenyum dan mencium bibir Alina sekilas, “Hati-hati.” Lima belas menit kemudian, Alina selesai dengan urusan kopi mengkopinya. Untung tempat fotokopi lagi sepi. Masih pagi soalnya. Saat sedang asik memeriksa hasil fotokopiannya, tiba-tiba seorang perempuan menubruk tubuh Alina dengan kasar. Alina langsung jatuh ke jalanan beraspal. Dan sialnya, jalanan sedang becek karena semalam turun hujan. Alhasil, hasil fotokopian berikut buku milik Jovanka jadi basah dan kotor semua. Termasuk celana jins yang sedang Alina pakai. “Ah, sorry. Aku tadi lagi buru-buru,” kata perempuan itu. Perempuan itu langsung mengulurkan tangannya, membantu Alina berdiri. Alina kaget bukan main saat melihat siapa perempuan itu. Shenina Anastasia, mantan Arga. Walau baru bertemu sekali, Alina masih ingat betul seperti apa wajah Shenina. Shenina membantu Alina mengambil kertas-kertas dan buku yang masih tergeletak di jalanan yang basah. “Sorry banget ya. Buku sama kertas kamu jadi basah semua,” kata Shenina. Alina tersenyum, “Iya, nggak apa-apa. Aku bisa fotokopi lagi nanti.” Shenina mengulurkan tangannya, “Shenina. Kayaknya waktu itu kita pernah ketemu kan? Kalo nggak salah di KFC ya?” Alina membalas uluran tangan Shenina. “Alina. Iya. Waktu itu kita pernah ketemu.” “Kamu kuliah di sini?” “Iya. Nggak lama lagi sih, tinggal nunggu sidang skripsi. Aku permisi dulu deh, mau balikin buku.” Shenina tersenyum, “Oke. Sampai ketemu lagi.” Senyum di wajah Shenina berubah jadi tatapan sinis begitu melihat Alina sudah jalan menjauh. Sesampainya di kelas, Jovanka langsung kaget saat melihat celana jins yang Alina pakai basah dan kotor. “Lo kenapa dah? Abis kena badai? Celana lo kotor semua ini,” kata Jovanka. “Tadi nggak sengaja ditubruk orang pas lagi jalan. Sorry, Jo. Gara-gara aku, buku kamu jadi basah. Nanti aku ganti deh,” kata Alina. Jovanka menghela napas, “Nggak apa-apa. Nanti juga kering sendiri. Lagian ini buku nggak terlalu gue pake. Ngomong-ngomong, lo ditubruk siapa? Kok sampe begini?” “Ada lah. Cewek, namanya Shenina. Bukan anak sini, dari kampus lain,” jawab Alina. “Gila, tenaganya nggak kira-kira. Kayak badak. Masa iya nubruk nggak sengaja ampe bikin lo kayak gini.” Alina tersenyum, “Nggak apa-apa. Lagian kan semalem ujan, jalanan jadi basah. Emang aku lagi apes aja. Thanks ya.” Jovanka tersenyum, “Iya sama-sama.” Sepulang dari kampus, seperti biasa, Arga menunggu Alina hingga Alina selesai kelas di parkiran mobil. Saat sedang asik menunggu sendirian, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil Arga. Ternyata Revan dan kembarannya, Devan. Arga membuka kaca mobilnya, “Kenapa?” “Keluar dong bentar. Ngobrol-ngobrol lah sini,” kata Revan. Akhirnya Arga dan si kembar duduk di bangku panjang yang disediakan di tempat parkiran. “Nungguin kekasih hati ya bro?” goda Revan. “Bacot,” jawab Arga. “Semenjak pacaran sama Alina, gue perhatiin lo jadi jarang nongkrong sama kita. Padahal sama yang dulu-dulu nggak kayak gini tuh. Lo cuek-cuek aja tetep jalan bareng kita?” tanya Devan. “Kalo yang dulu sih beda cerita,” jawab Arga. “Btw, tadi gue liat Shenina di kampus. Kayaknya sih doi nggak lama. Jem sepuluh lah dia udah pergi lagi. Nggak tau dah mau ngapain ke sini,” kata Devan. Arga mengerutkan dahi, “Dia ke sini lagi?” Revan mengangguk, “Tadi gue juga sempet liat dia dari jauh. Gue rasa dia belom move on kayaknya sama lo.” Tak lama kemudian, Alina datang dan menghampiri ketiganya. Revan dan Devan langsung pamit, “Balik dulu bro.” Arga mengernyitkan dahi begitu melihat Alina, “Celana kamu kenapa?” “Oh, ini. Tadi aku jatoh di jalan. Jadi kotor deh,” jawab Alina. “Kamunya nggak apa-apa kan?” tanya Arga khawatir. Alina tersenyum, “Nggak apa-apa kok. Pulang yuk, aku udah nggak sabar pengen mandi. Udah kotor banget ini soalnya.” Arga menyeringai, “Mau aku mandiin?” “Nggak. Kamu m***m,” kata Alina malu-malu. Malamnya, hujan deras turun. Sudah malam, gelap, dingin pula. Waktu yang pas buat tidur dan mimpi indah. Tapi apa daya, Alina masih harus terjaga mengerjakan karya akhirnya. Padahal energinya tinggal sepuluh watt. Bentar lagi juga tumbang. Saat sedang fokus mengetik di laptop, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu jendela Alina. Alina langsung kaget bukan main. Kalau di film horor, yang mengetuk malam-malam di pintu jendela itu biasanya hantu kan? Alina mendekati pintu jendelanya dengan perlahan. Begitu gordennya terbuka, Alina langsung membelalak saat melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu jendelanya. “Arga?!” Alina langsung membuka pintu jendelanya, membantu Arga masuk. Untung kamar tidur Alina ada di bawah. Kalau di lantai dua, gawat. Kasihan Arga kalau harus manjat. Syukur kalau berhasil manjat, kalau tidak yang ada malah di bawa ke UGD karena patah tulang. Alina langsung mengambil handuk yang belum terpakai dari lemari pakaiannya dan memberikannya ke Arga yang sudah basah kuyup. “Kamu ngapain malem-malem ke sini? Di luar kan lagi ujan, kalo kamu sakit gimana?” “Aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus,” kata Arga. Alina tersenyum, “Aku juga kepikiran kamu terus.” Arga menangkupkan wajah Alina dengan kedua tangannya. Arga lalu mencium dahi dan kedua pipi Alina, “I love you.” Alina mencium bibir Arga, “Love you too.” Arga langsung mencium bibir Alina. Entah sudah sejak kapan Arga menahan hasratnya untuk mencium bibir Alina. Setiap kali melihat bibir Alina, Arga selalu ingin menciumnya. Merasakannya. Mendekap tubuh mungil Alina. Melindunginya. Tangan Arga mulai tak bisa diam, bergerak dan meremas gunung kembar Alina yang masih tertutup kaos putih dan bra hitam. “Stop. Aku kunci pintu dulu,” bisik Alina. “Bapak sama ibu kamu pasti udah tidur kan jem segini?” tanya Arga. “Udah.” Setelah memastikan pintu kamar dan jendelanya sudah terkunci, Alina langsung menghampiri Arga yang masih duduk di tepi ranjangnya. Alina duduk di pangkuan Arga dan mengalungkan tangannya di leher Arga. “Kakak kamu?” tanya Arga. “Udah. Tenang aja, kamar Gilang kan di atas, di pojokan,” jawab Alina. Arga menyeringai, “Good.” Arga langsung bangkit berdiri dan menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu membuangnya dengan kasar ke lantai. Alina cuman duduk terdiam di ranjang sambil mengagumi betapa indahnya seorang Arga Pranadipa. Arga mendekati Alina perlahan. “Kok pake hot pants?” bisik Arga. “Aku emang pake hot pants kalo mau tidur.” Arga menyeringai, “Bagus. Aku jadi gak perlu susah-susah kalo mau nyium ini.” Arga langsung menciumi paha Alina. Meninggalkan banyak bekas kissmark di paha mulus Alina. “Arga ..,” desah Alina. Arga menanggalkan hot pants dan celana dalam Alina dengan perlahan. Arga lalu menciumi paha Alina lagi. Jari-jari tangan Arga yang nakal mulai bergerak mengelus kemaluan Alina. Arga lalu memasukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam lubang hangat milik Alina yang sudah basah. Alina langsung mendesah dengan kencang. Untungnya di luar sedang hujan deras, jadi desahan Alina terhalangi oleh berisiknya suara hujan turun. Arga memainkan jari-jari panjangnya di dalam lubang hangat milik Alina dengan kasar, membawa Alina terbang ke awang-awang. Tak lama setelahnya, Alina langsung mencapai puncak surga duniawinya. Arga menyeringai, “Enak kan?” Alina cuman mengangguk. Napasnya masih memburu, seperti habis berlari ribuan kilometer. Arga lalu membantu Alina membuka kaos putih dan bra hitamnya. Begitu terekspos sempurna, Arga langsung menciumi gunung kembar Alina yang ranum itu. “Kayaknya aku udah kecanduan sama ini,” bisik Arga sembari meremas gunung kembar Alina. Alina langsung mendesah kencang. Tiap kali Arga meremas dan mencium gunung kembarnya, gairah dan nafsu langsung membakar sekujur tubuh Alina. “Aku udah nggak tahan ..,” bisik Arga. Arga memainkan miliknya yang besar dan setegak tiang bendera itu sebentar, lalu siap-siap memasukkan miliknya ke dalam lubang hangat milik Alina yang sempit itu. “Boleh dimasukkin?” bisik Arga. Alina cuman menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. Arga meletakkan kedua kaki mulus Alina di pinggangnya, lalu memasukkan miliknya dengan perlahan ke dalam milik Alina. Padahal ini kali kedua mereka bercinta, tapi Alina masih merasakan sakit di k*********a. “Ah, Arga … Pelan-pelan ..,” desah Alina. “Masih sakit?” tanya Arga. Alina cuman mengangguk. Alina berteriak kencang begitu Arga memasukkan miliknya yang besar itu seutuhnya ke dalam lubang hangat dan sempit milik Alina. Berdoa saja supaya bapak dan ibu maupun Gilang tidak dengar teriakan dan desahan liar Alina. Arga langsung mencium bibir Alina, “Sorry ..” Setelah terdiam sejenak, akhirnya rasa sakit dan perih itu langsung berubah menjadi rasa nikmat yang tak tertahankan. Alina tak mampu berhenti mendesah setiap kali milik Arga yang besar itu menghantam lubang hangat dan sempit miliknya berkali-kali. “Arga, terus .. Enak ..,” desah Alina. Arga langsung menyeringai dan memompa miliknya semakin cepat. Kini keduanya mendesah. Desahan dan erangan memenuhi kamar Alina. Dua puluh menit kemudian, Arga dan Alina mencapai puncaknya masing-masing. Seperti waktu itu, Arga mengeluarkan benih cintanya di luar, tidak di dalam rahim Alina. Arga langsung tumbang di samping Alina. “Enak ya?” tanya Arga dengan napas yang masih terengah-engah. “Iya .. Tapi masih sakit ..,” jawab Alina malu-malu. Arga tersenyum, “Maaf. Lain kali aku bakal lebih pelan.” Alina meletakkan kepalanya di atas d**a bidang Arga. Mendengarkan irama detak jantung Arga yang beraturan. Sementara Arga menciumi pucuk kepala Alina dan mengelus rambut Alina yang sehalus sutra. “Kamu musti udah balik sebelum subuh. Bapak berangkat kerja pagi soalnya,” kata Alina. “Abis ini aku balik. Kamu tenang aja.” “Kamu bawa kendaraan kan?” “Nggak.” “Ish, Arga. Jangan bilang kamu jalan kaki ujan-ujanan ke sini?” Arga tersenyum, “Abisnya aku udah kangen sama kamu. Lagian kita kan tetanggaan, ngapain pake bawa motor segala?” Ah, iya. Alina lupa dia tetanggaan dengan Arga. Alina menghela napas, “Doa aja semoga ujannya udah berenti sebelum subuh nanti.” Arga menutup matanya, menikmati dinginnya udara dan suara hujan yang turun. “Aku nggak sabar pengen tinggal satu atap sama kamu.” Alina tersenyum, “Aku juga.” Alina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Ngomong-ngomong, tadi pagi aku nggak sengaja ketemu Shenina di kampus.” Arga langsung membuka matanya. Wajahnya langsung panas seketika, “Kamu ketemu sama dia?” Alina cuman mengangguk. Arga terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Jangan bilang gara-gara dia celana kamu jadi kotor tadi?” “Iya, dia nggak sengaja nabrak aku. Lagi buru-buru atau lagi fokus sama HP nya mungkin? Makanya jadi nggak fokus,” kata Alina. “Kalo gitu, mulai besok kamu harus selalu ada di samping aku.” Alina mengernyitkan dahi, “Emang kenapa?” “Aku cuman mau ngelindungin kamu.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN