Chapter 6 - Perawanku Untukmu

2114 Kata
Alina berjalan terburu-buru dengan membawa laptop yang ada di tanganya. Hari ini Alina janjian dengan Arga dan Jovanka di kafe, mau bikin tugas kelompok. Alina menghampiri Arga yang sedang duduk sendirian di pojokan sambil menyeruput kapucinonya. Arga langsung tersenyum begitu melihat Alina. “Kok tumben datengnya telat? Biasanya kamu selalu on time. Nggak bisa tidur ya semalem?” goda Arga. “Kok kamu tau semalem aku nggak bisa tidur?” tanya Alina yang napasnya masih ngos-ngosan. “Tau dong. Soalnya aku juga nggak bisa tidur. Kepikiran terus.” Alina duduk di samping Arga. Arga langsung berbisik di telinga Alina, “Kapan-kapan lagi ya?” Pipi Alina memerah, “Ish Arga ..” Tiba-tiba Jovanka datang memecah kemesraan keduanya. Entah dari mana datangnya teman satu kelas Alina ini. “Ehem. Kalo mau mesra-mesraan jangan di sini please. Kasian gue yang masih jomblo,” canda Jovanka. “Iya. Abis ini kita cari ruangan sendiri deh. Lo tenang aja,” canda Arga. Alina tersenyum kikuk, “Mulai kerjain tugas yuk.” Akhirnya tiga mahasiswa tingkat akhir ini mulai mengerjakan tugas mereka. Selama diskusi, fokus Arga terpecah. Satu sisi fokus pada materi, satu sisi fokus pada Alina. Arga terus memperhatikan Alina. Matanya, hidung mancungnya, rambutnya, bibirnya .. Dan satu lagi, gundukan ranum milik Alina yang waktu itu sempat Arga sentuh. Membayangkan menyentuhnya lagi saja sudah membuat Arga terbang ke awang-awang. Setelah dua jam, akhirnya tugas mereka selesai. “Thanks buat kerja samanya. Kalo nggak sekelompok sama kalian, gue jamin ini tugas pasti nggak bakal kelar dalam sehari,” kata Jovanka. “Sama-sama. Skripsi lo gimana?” tanya Arga. Jovanka menghela napas, “Masih stuck di bab 4 .. Ya udah, gue balik dulu. Mau nemenin nyokap belanja soalnya.” “Hati-hati,” kata Alina. Setelah Jovanka benar-benar pergi, Arga kembali melanjutkan aksi nakalnya. “Tugas udah kelar. Enaknya ngapain ya?” goda Arga. “Kamu maunya kita ngapain?” tanya Alina dengan wajah super polosnya. Senyum Arga melebar, tak tahan melihat betapa polos dan menggemaskan wajah perempuan yang dicintainya ini. “Kamu pura-pura polos apa emang polos beneran?” “Kan aku cuman nanya ..” “Ya udah. Kamu mau ngapain? Mau nonton? Apa makan?” tanya Arga. “Aku mau gelato,” jawab Alina. “Boleh. Tapi belinya nggak di KFC ya.” Alina tersenyum, “KFC mana jual gelato, Arga. Kamu ada-ada aja deh.” Begitu keluar dari kafe, Alina terkejut melihat Arga sudah ganti mobil lagi. Kali ini BMW warna hitam. “Ini mobil kamu?” tanya Alina. “Iya. Kenapa?” “Yang kemarin ke mana? Yang warna merah?” “Masih ada kok di garasi.” “Kamu punya berapa mobil sih?” tanya Alina begitu duduk di dalam mobil Arga. “Cuman dua kok. Yang ini sama yang sport warna merah,” kata Arga sambil menghidupkan mobilnya. Mobil Arga memang cuman dua, tapi kalau digabung, harganya mungkin lebih dari cukup untuk beli rumah di luar kota. Alina menghela napas, “Jangan keseringan gonta ganti mobil, Arga. Mending uangnya buat investasi juga. Pajak mobil mahal juga kan.” “Iya sih. Bener juga. Mending uangnya aku tabung, buat biaya kita nikah nanti. Iya kan?” goda Arga. Alina mengangkat satu alisnya, “Emangnya kamu mau nikahin aku?” “Mau dong. Apalagi proses kawinnya, mau banget. Udah nggak sabar malah. Aku nggak sabar mau buat dede bayi yang lucu-lucu sama kamu.” Alina mencubit pipi Arga, “Ih dasar ..” Alina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Tadi di awal kamu bilang nggak mau ke KFC. Kamu takut ketemu sama Shenina lagi?” “Bukannya takut, males aja. Apalagi waktu itu di kombo, ketemu Eras juga,” jawab Arga. “Emangnya ada masalah apa kamu sama Shenina?” Begitu mendengar pertanyaan Alina, Arga langsung menepi dan parkir di pinggir jalan. Arga menghela napas, “Dulu aku sempet pacaran sama dia. Lumayan lama, dua tahunan lah. Terus abis itu kita putus. Aku yang mutusin dia.” Alina mengerutkan dahi, “Kenapa?” “Dia penghianat. Aku pikir dia beneran tulus, tapi ternyata nggak. Dia sama aja kayak yang lain. Cuman manfaatin aku,” jawab Arga. “Kamu tau dari mana dia cuman manfaatin kamu?” tanya Alina lagi. “Waktu itu dia bohong. Dia bilang bapaknya sakit, butuh dana sekian. Mungkin aku yang terlalu bego apa gimana, akhirnya aku kasih. Tapi ternyata bapaknya nggak sakit tuh, sehat-sehat aja. Yang bikin aku kesel bukan soal duitnya sih, duit mah bisa dicari. Tapi kelakuan dia. Dan lagi, bukan cuman itu aja.” “Tapi?” “Waktu itu aku nggak sengaja nge gap dia lagi berduaan sama cowok. Dan cowok itu, mukanya mirip banget sama Eras. Mungkin itu sebabnya kenapa aku benci sama Eras. Selain karena dia deketin kamu, mukanya itu ngingetin aku sama Shenina.” Alina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Apa yang bakal kamu lakuin kalo aku sampe jadian sama Eras?” “Nggak tau. Nggak mau jawab. Toh sekarang kan kamu jadiannya sama aku. Bukan sama Eras.” “Jadi itu penyebabnya kenapa kamu jadi playboy? Karena trauma?” Deg. Arga tertegun. “Playboy?” “Iya, Revan sama Devan sering cerita ke aku kamu suka gonta ganti cewek.” Arga menghela napas, “Tuh anak nggak bisa jaga rahasia kayaknya.” Alina tersenyum, “Ternyata kehidupan asmara kamu rumit juga ya.” Arga menatap mata Alina dan menangkupkan wajah Alina dengan tangannya, “Iya. Aku emang kurang beruntung soal cinta-cintaan. Udah kan? Case closed. Aku nggak mau kamu nanya-nanya soal Shenina lagi. Atau ngomongin soal Eras. Aku mau kamu cuman fokus sama hubungan kita aja.” Alina tersenyum dan mengangguk. “Iya, Argaku sayang.” Arga tersenyum, “Jadi kan beli gelato?” Alina menggeleng, “Nggak.” “Terus?” Alina cuman menggigit bibir bawahnya. Nervous. Arga menyeringai, tau apa yang diinginkan Alina. Akhirnya Arga membawa Alina ke rumahnya. Rumah Alina sedang kosong, tak ada orang. Bapak sedang kerja. Ibu sedang ikut trip ke luar kota selama tiga hari, baru pulang besok. Gilang, kakak Alina, sedang kerja juga. Baru pulang malam. Narsih, asisten rumah tangga yang sudah kerja selama 15 tahun di rumah Alina sedang pulang kampung. Anaknya mau nikahan. Begitu sampai di dalam rumah, Arga langsung mencium bibir Alina. Arga sudah tak tahan, ingin mencium bibir kemerahan itu daritadi. Apalagi setiap kali melihat Alina menggigit bibir bawahnya, rasanya gairah langsung merambah tubuh Arga. Ingin mencium dan merasakan bagaimana nikmatnya bibir Alina. Alina menghentikan ciuman panas Arga, “Bentar. Aku kunci rumah dulu.” “Rumah kamu beneran nggak ada orang kan?” tanya Arga dengan napas yang masih terengah-engah. Alina cuman mengangguk. Arga menyeringai, “Bagus. Soalnya aku nggak mau ada gangguan lagi kayak kemarin.” Setelah memastikan rumah aman dan dikunci, Arga langsung menggendong Alina ke kamar tidurnya. Arga membaringkan Alina di tempat tidurnya dan menggelitiki perut rata Alina. Membuat Alina tertawa merasakan betapa gelinya jari-jari panjang milik Arga. “Stop, Arga. Geli ..,” kata Alina. Arga mencium bibir Alina lagi. Kali ini ciumannya tambah panas. Arga tak segan menggigit bibir bawah Alina dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Alina. Tangan nakal Arga mulai bergerak meremas gunung kembar Alina. “Mmphh,” desah Alina di sela-sela ciuman panas mereka. Arga melepas ciumannya dan menyeringai. “Aku udah nggak tahan, pengen nyentuh ini daritadi ..,” bisik Arga sambil meremas gundukan ranum milik Alina. Desahan Alina tambah kencang. Untung di rumah sedang tak ada orang. Alina bisa mendesah sekeras apapun dia mau. Tanpa takut ketahuan tentunya. Setelah puas mencium bibir dan meremas gunung kembar Alina, Arga beranjak dan bangkit berdiri. Melepas seluruh pakaiannya satu per satu, memperlihatkan otot perut dan otot lengannya yang mampu membuat cewek-cewek mimisan. Arga mendekati Alina dengan perlahan. Alina tak bisa berhenti mengagumi betapa indahnya tubuh Arga. Sudah tinggi, ganteng, badannya bagus pula. Andaikata mau melamar jadi model atau aktor, kemungkinan besar Arga pasti diterima. “Suka ya?” goda Arga. Alina mengangguk dan meletakkan tangannya di perut Arga yang begitu rata dan berotot itu. Tanpa basa-basi, Arga langsung mencium Alina lagi. Kali ini bukan hanya bibir, tapi leher Alina juga tak luput dari serangan ciuman ganas Arga. Alina cuman mendesah sambil meremas rambut tebal Arga. Arga langsung membantu Alina menanggalkan seluruh pakaiannya. Kalau waktu itu Alina masih setengah telanjang, kali ini Alina benar-benar telanjang di hadapan Arga. Arga langsung menciumi paha Alina yang mulus itu. “Arga ..,” desah Alina. Ciuman Arga naik, ke perut rata Alina, hingga sekarang lidahnya yang nakal sedang asik bermain dengan gunung kembar Alina. Desahan Alina tambah kencang, remasan tangannya di rambut Arga semakin kuat. Arga tak merasa sakit saat Alina menjambak rambutnya, malah merasa semakin b*******h. Alina merasakan sesuatu yang keras dan besar milik Arga menyentuh miliknya yang sudah basah. Padahal Arga belum memasukkan miliknya, tapi rasanya sudah sangat nikmat. Arga menyeringai saat melihat Alina tak bisa berhenti mendesahkan namanya. Arga semakin ganas menciumi gundukan kembar Alina dan menggesekkan miliknya yang besar itu dengan milik Alina yang sudah basah. “Arga, mau keluar ..,” desah Alina. Tak lama kemudian, Alina mencapai puncak kenikmatannya. Padahal mereka belum sampai ke bagian inti. Arga menyeringai, “Enak ya?” Alina cuman mengangguk. Arga meletakkan tangan Alina di atas miliknya yang sudah setegak tiang bendera itu. Alina meremas milik Arga, membuat Arga mendesah. “Terus, sayang,” kata Arga. Tangan Alina semakin liar memainkan milik Arga. Arga baru tahu, jadi seperti ini rasanya hand job? Selama ini Arga selalu ‘memainkan’ miliknya sendiri. Tak tahu kalau rasanya akan seenak ini. Setelah sepuluh menit memainkan milik Arga, akhirnya Arga mencapai puncaknya. Mengeluarkan benih cintanya di tangan Alina. Alina memperhatikan tangannya yang lengket oleh benih milik Arga. “Kenapa?” tanya Arga dengan napas yang masih terengah-engah. “Lengket. Aku baru tau kalau s****a itu kayak gini,” jawab Alina dengan wajah polosnya. Arga menyeringai, “Ini belum seberapa.” Arga sudah ambil ancang-ancang, siap memasukkan miliknya yang masih tegak itu ke dalam gua hangat milik Alina. “Kamu yakin?” tanya Arga. Arga sendiri ragu-ragu. Ini kali pertama Arga bercinta. Begitu juga dengan Alina. Meski ragu-ragu, Alina mengangguk. “Pelan-pelan ..” Akhirnya Arga memasukkan miliknya ke dalam Alina. Padahal miliknya baru masuk setengah, tapi rasa nikmat yang begitu luar biasa langsung menggerayangi sekujur tubuh Arga. Arga mendesah seketika. Arga langsung memasukkan semua miliknya ke dalam lubang hangat milik Alina. Jleb. Milik Arga sudah terbenam sempurna. Alina langsung menjambak rambut Arga. Kali ini bukan karena nikmat, tapi karena sakit. “Aw .. Arga, sakit ..” kata Alina. Arga melihat ada darah segar mengalir di paha mulus Alina. “Kamu masih perawan?” tanya Arga. Alina cuman mengangguk. Arga langsung mencium bibir Alina, “Kalau kamu mau aku berenti, aku bakal berenti.” Alina terdiam sejenak. Mencoba supaya dirinya terbiasa dengan kehadiran ‘adik kecil’ milik Arga di dalam miliknya. “Jangan berenti ..,” kata Alina setelah rasa perihnya memudar. Arga mulai bergerak. Awalnya gerakannya masih lambat, Alina masih merasakan sedikit perih. Tapi tak lama setelahnya, gerakan Arga semakin liar dan ganas. Rasa perih yang dialami Alina sudah terganti dengan rasa nikmat yang bertubi-tubi. “Arga .. Terus ..,” desah Alina. Baik Alina maupun Arga sama-sama tak bisa berhenti mendesah. Ternyata seperti ini rasanya bercinta. Tak lama kemudian, Arga dan Alina sama-sama mencapai puncak surga dunia mereka. Arga langsung mengeluarkan miliknya begitu merasa ingin o*****e. Mengeluarkan benih cintanya di luar, tidak di dalam rahim Alina. Setelahnya Arga tumbang, jatuh di kasur di samping Alina. Setelah napas mereka lebih stabil, saling bertatapan. “Kok kamu keluarin di luar?” tanya Alina. “Iya, kita kan nggak pake pengaman. Sebenernya sih pengennya keluarin di dalem,” jawab Arga. Alina tersenyum, “Kalo aku hamil gimana?” “Nggak apa-apa. Aku mau tanggung jawab kok. Kan aku udah bilang ke kamu, aku mau nikahin kamu.” Alina mencium dahi Arga, “I love you.” Arga tersenyum, “I love you so much.” ***** Sementara itu, Eras dan Shenina sedang asik berduaan duduk di kafe. Padahal di sampingnya ada Eras. Tapi bukannya ngobrol, Shenina malah lebih asik bermain dengan ponselnya. Eras yang merasa risih akhirnya angkat bicara. “Kamu udah lama kenal sama Arga?” “Udah,” jawab Shenina. Mata dan jarinya masih sibuk menscroll laman instagramnya. Sedang asik stalking akun i********: milik Arga. Padahal di i********: Arga juga tak ada yang bisa dilihat. Cuman ada dua foto. Satu foto keluarga dan satu lagi fotonya bersama Alina. “Ini bukannya cewek yang kemarin? Yang ngobrol sama kamu?” kata Shenina sambil menunjukkan foto yang Arga ambil bersama Alina. Eras mengernyitkan dahi, “Iya. Namanya Alina. Dia pacarnya Arga. Kenapa?” Shenina tersenyum tipis, “Oh, pacarnya Arga.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN