Chapter 2 - Godaan

1417 Kata
Kinan beringsut dari pangkuan Harry saat Andy membuka pintu mobil. Laki-laki itu dapat menangkap sekilas adegan mesra antara tuannya dengan gadis berambut ikal itu. Andy hanya melihat sekilas lalu  membenarkan duduknya di kursi pengemudi, menunggu arahan dari tuannya agar tidak salahgegabah bertindak. “Kamu sudah urus semuanya, Ndy?” Tanya Harry setelah 2x berdehem sembari membetulkan posisi duduknya. “Sudah, Pak. Saya meninggalkan kartu nama jika sewaktu-waktu pihak rumah sakit membutuhkan.” Jelas Andy singkat. Sebagai ajudan merangkap sopir, Andy tahu apa yang harus dia lakukan. Biasanya mereka akan membawa Mike disaat-saat seperti ini. Mike adalah sekretaris Harry, tapi sayangnya Mike sedang cuti untuk satu minggu kedepan membuat semua kelimpungan. Beruntung Andy sudah sering bersama mereka. Yah, walaupun tidak semuanya dapat dia lakukan seperti Mike. “Ehm, Bagus.” Sambut Harry sambil melihat kearah layar ponsel nya. 2x panggilan tidak terjawab dari Mira, istrinya. Dia menekan tombol hijau lalu mendekatkan benda seukuran telapak tangan itu kearah telinga, terdengar bunyi sambungan telepon dari seberang. “Ya, Sayang. Tadi kau menelponku?”  Tanya Harry saat panggilan tersebut tersambung. “Hmm, kamu dimana, Pah? Aku harus check up hari ini.” Jawaban lemah dari istrinya cukup membuat Harry gusar. Penyakit jantung yang diderita Mira membuatnya semakin sibuk mengurus dan mengantar istrinya itu untuk kontrol rutin ke dokter. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, Kinan memperhatikan gerak-gerik Harry dengan hati-hati. “Aku akan telepon rumah sakit dulu untuk memastikan jadwal check up mu. Nanti aku akan menelpon mu lagi, Sayang. Kamu istirahat dulu, oke?” terdengar kata mengiyakan dari seberang sana sebelum Harry mematikan sambungan telepon. “Kita ke villa sekarang, setelah itu kamu bawa ibu ke rumah sakit. Bilang bapak lagi banyak urusan, Mike lagi cuti jadi sedikit sibuk. Kamu mengerti, Ndy?!” tuannya sudah memberikan perintah, sudah pasti ajudannya yang setia ini harus menuruti segala kemauan sang tuan meskipun itu berlawanan dengan hati nurani Andy. “Baik, Pak.” Sahut Andy mantap lalu bergegas melajukan mobilnya menuju villa yang dimaksud sang tuan. Kinan melirik bayangan Andy yang terpantul dari kaca depan mobil, pria itu telihat sangat menawan dengan kacamata hitam dan handsfree bluetooth ditelinga kirinya. Hidungnya yang mancung dengan garis rahang yang sedikit kaku membuatnya tampak semakin tampan. Kemudian Kinan tersadar, matanya berganti arah. Dia menatap Harry dan memperhatikan saat yang tepat untuk bertanya tentang apa penjelasan untuk semua ini. Namun, agaknya Harry mengerti bahwa nyonya mudanya membutuhkan keterebukaan darinya. Dia menggenggam tangan Kinan dengan lembut, gadis itu menoleh ke arahnya. “Dia sakit jantung, Kinan. Dia tidak bisa memberikanku kehangatan. Aku laki-laki normal yang setiap saat membutuhkan belaian wanita..” Harry mengatakan kata-kata yang begitu membuat Kinan terkejut. Bagaimana bisa seorang laki-laki begitu kejam pada istrinya sendiri. Disaat istrinya sakit bahkan mungkin nyawa nya sudah berada diujung tanduk, tapi sang suami malah berasyik-mashyuk dengan seorang gadis perawan muda belia seperti dirinya. Menginginkan belaian dan kehangatan dari wanita lain selain istrinya sendiri. Dalam batin, Kinan nerutuki tindakan Harry yang sudah sejauh ini berani membeli dirinya. Namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena dia juga membutuhkan uang Harry. Kinan hanya bisa terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Saat ini yang terpenting adalah dia dan keluarganya dapat hidup nyaman dimasa depan, juga ayahnya. Dia ingin ayahnya kembali sehat dan bisa beraktifitas seperti sedia kala lagi. Walaupun harus dengan jalan seperti ini. ****** “Pak, kita sudah sampai.” Perkataan Andy membuat obrolan Harry dan Kinan harus terjeda. Harry menghentikan aktifitas dengan nyonya mudanya, lalu menyuruh Andy untuk segera mengecek jadwal Mira, jam berapa dia harus check up karena Harry tidak tahu pasti jam berapa itu, biasanya Mike yang akan mengurus semua itu untuknya. ‘Ahh, sial. Kapan sebenarnya berandal itu akan kembali bekerja.’ Rutuk Harry dalam hatinya. “Hmm, aku akan berada disini sampai besok lusa. Pastikan si berandal Mike itu sudah kembali bekerja besok pagi. Atau aku akan memecat kalian berdua! Cuti kalian membuatku pusing saja!” Harry mengurut keningnya, mood nya bersama Kinan mendadak hilang karena istrinya menelpon. “Baik, Pak.” Andy kemudian bergegas turun, membukakan pintu untuk tuannya. Lalu beralih kesisi satunya untuk membukakan pintu mobil untuk calon nyonya barunya. Andy membuka pintu dengan hati2, dari dalam Kinan tersenyum lembut dan berucap terima kasih pada si ajudan tampan. Segaris senyum jelas tergurat di bibir Andy saat melihat nyonya barunya yang tampak cantik dan seksi menurutnya. Dia membantu Kinan turun, menengadahkan tangan ke atas kepala Kinan agak tidak terantuk atap mobil, Kinan setengah membungkuk membuat belahan dadanya terekspos jelas didepan mata Andy. Andy seketika menelan ludah, ‘Oh, ini sungguh menguji kesabaranku!’ gumam Andy dalam hati. Harry memperhatikan gerak-gerik Andy, lalu melihat kearah Kinan yang sedang membungkuk. Pandangan Harry langsung tertuju pada belahan d**a Kinan yang terlihat begitu menggoda. Sebagai sesama laki-laki Harry tahu pasti bahwa pandangan Andy pada Kinan bukanlah pandangan biasa. Itu pandangan penuh nafsu yang membuat Harry sendiri frustasi saat berada didekat Kinan. Tanpa melakukan apapun, gadis ini bahkan mampu membuat junior Harry turn on. Harry datang dari arah belakang Andy, membuat Andy menciut seketika. “Dadamu terlihat, Kinan. Jangan biarkan orang lain menikmati apa yang sudah menjadi milikku.” Tegas Harry seraya melirik pada ajudannya, Harry serta merta memeluk Kinan. Membuat Kinan merasa sangat risih. Sedangkan Andy yang tertangkap basah sedang melirik nyonya barunya hanya bisa tertunduk malu. Andy mennyumpahi dirinya sendiri, bagaimana bisa dia menikmati pemandangan dari wanita milik tuannya. Sangat memalukan dirinya sendiri sebagai ajudan yang sudah mengabdikan diri pada Harry selama bertahun-tahun. Andy segera pamit pada tuannya untuk kemudian mengantarkan Mira ke rumah sakit. Setelah Andy pergi, Harry membawa masuk sang calon nyonya muda. Dia mempersilahkan Kinan untuk berkeliling kesekitar villa. Tempat ini yang nantinya akan menjadi tempat tinggal bagi Kinan. Dia akan tinggal disini, jauh dari hiruk pikuk kota dan memberikan ketenangan Harry apabila dia ingin pulang dan berkasih dengan Kinan. “Kamu mandi dulu, Kinan. Aku masih sangat lelah.” Harry memberikan instruksi pada Kinan, sedangkan Kinan hanya mengangguk. Dia berjalan menuju kamar atas, namun sampai dianak tangga kedua, Kinan berbalik badan. “Apa aku akan selamanya tinggal disini?” Tanyanya kemudian, membuat Harry mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu tak suka?” Harry merasa bingung, bahkan setiap wanita yang ditidurinya selalu berharap akan dibawa ke villa ini. Apa Kinan tak mengetahui hal itu bahwa dibawa ke villa ini berarti tidak ada lagi kesengsaraan. Karena yang ada hanyalah gelimang harta dan kepuasan? “Hmm, ini hanya terlalu jauh dari keluargaku.” Jawab Kinan ragu-ragu. Harry bangkit dari sofa nyamannya, berjalan kearah Kinan. Memandang gadis itu dengan pandangan menyelidik. “Keluargamu atau kekasihmu? Ingat Kinan, aku tidak mengampuni perselingkuhan yang kamu lakukan. Putuskan laki-laki itu sekarang juga!” gertak Harry sambil memegang dagu Kinan, mengarahkannya memandang wajahnya. Kinan merasa begitu terintimidasi, ada gejolak yang menginginkan kata tidak pada semua yang Harry perintahkan, namun itu tidak bisa dia lakukan. Dia harus tetap bertahan dalam situasi sulit ini demi ayah dan keluarganya. “Aku akan memutuskan hubungan dengannya sekarang, toh aku akan menjadi istrimu bukan?” kata Kinan menatap Harry. “Bagus, itu baru gadisku.” Harry mencium bibir Kinan, melumatnya dalam-dalam. Memainkan lidahnya dan mengulum bibir Kinan dengan kuat, membuat gadis itu kesulitan bernafas. “Kamu menyukainya?” seringai Harry, dia lalu membopong Kinan untuk naik kelantai dua dimana kamar utama berada. Kinan berusaha untuk menguatkan diri dan menikmati garis hidupnya, ini akan menjadi malam yang tak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya. Harry membuka pintu kamar utama, tampak ruangan ini sangat luas dengan 1 bed extra large berada ditengah-tengah ruangan, kamar mandinya hanya berupa bathup yang tidak bersekat sehingga akan terlihat dari ranjang apabila sedang mandi. Semuanya serba putih dengan design minimalis yang memanjakan mata. “Kamu milikku malam ini, Kinan.” Pandangan Kinan fokus beralih pada arah datangnya suara. Harry terlihat begitu menggoda saat melepas satu per satu bajunya. Pria ini masih muda dengan segala apa yang dia punyai saat ini. Dia cukup tampan dengan badan yang tegap, badannya bagus meskipun tak terlalu berotot, membuatnya tampak seksi. Hanya sayang nasibnya tidak beruntung karena memiliki istri yang tidak sehat, membuatnya harus menempuh jalan seperti ini untuk mendapatkan belaian seorang wanita. “Aku harus mandi dulu, Pak” jawab Kinan lalu beranjak ke arah bathup. “Kamu ingin kita melakukannya di bathup? Lihatlah, aku sudah turn on sekarang.” Kata Harry sambil menunjuk kearah area bawahnya. Kinan seketika terbelalak, mengapa sangat mudah barang itu menggeliat. Dia membayangkan bagaimana dia akan menghabiskan 24jam berada diranjang apabila dia terus bersama dengan Harry. “Aku lengket, Pak.. nanti dulu ya. Lagipula aku lapar.” Kinan mencoba mengulur waktu, dia butuh persiapan untuk melepas mahkotanya. Sedangkan Harry hanya pasrah berbaring ditempat tidur sambil menikmati pemandangan surga yang akan segera tersaji dihadapannya. Kinan membuka satu per satu bajunya, merasa risih ketika dia tahu Harry memperhatikannya dari atas ranjang. Membuat Kinan sesegera mungkin masuk ke bathup yang sudah setengah terisi air. Dia sengaja membelakangi Harry agar tidak kikuk. ‘Ini hanya sesi mandi tapi mengapa penuh dengan perasaan tidak menyenangkan?’ gerutu Kinan dalam hatinya. Namun sebisa mungkin Kinan menikmati mandinya, menggosok tubuhnya dari atas hingga bawah, pemandangan ini membuat gairah Harry bangkit. Dia tak sabar menunggu Kinan menyelesaikan waktu mandinya. Harry memejamkan mata, sambil mengelus-elus miliknya sendiri.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN