Chapter 9 - End Flashback

1819 Kata
Kinan menatap lurus kearah jalan yang sudah sepenuhnya beraspal. Dia hanya diam dan terus saja menunjuk-nunjuk kemana Edgar harus memutar kemudinya. Edgar melirik pada bayangan Kinan yang terpantul dari kaca depan, matanya memerah, beralir air mata disisi kanan dan kiri pipinya. Dia juga membuka seatbeltnya dan duduk diposisi yang terlihat tidak nyaman diujung depan kursi penumpang. Sehingga menyisakan bangku penumpang yang sangat lebat dibelakangnya. Matanya yang sembab terus saja menatap kedepan tanpa memperdulikan Edgar yang duduk disampingnya.‘Apa dia masih marah padaku?’ perasaan Edgar seketika merasa tidak enak pada gadis itu. “Kinan, I’m sorry for all I’ve done…” Edgar berkata tanpa menatap kearah Kinan dikarenakan jalanan didepannya mulai menggelap tanpa penerangan lampu jalan. Membuat jarak pandang matanya kedepan sedikit terganggu. “Hmm..  please faster. Ayahku sedang sakit sekarang..” gadis itu kali ini memandang Kinan.  Pandangan penuh kekhawatiran tentang keadaan ayahnya. “Your Dad?? Ohh, oke. Hold on!” perintah Edgar. Dia menginjak gas dengan kecepatan kembali melampaui rata-rata. Edgar merasa dia bertanggung jawab penuh untuk membawa gadis ini kembali kerumahnya dengan aman dan secepat mungkin. ‘Mengapa tidak langsung dibawa kerumah sakit? Kenapa harus dirumah? Apa ayah baik-baik saja? Tapi kenapa ibu menelpon ku jika keadaannya baik-baik saja?’ semua pertanyaan itu seakan tak terjawab walaupun selalu berkecamuk dikepala Kinan. Edgar dan Kinan sudah memasuki perumahan tempat Kinan dan keluarganya tinggal. Jalan menuju rumah Kinan cukup  lurus. Tidak melewati jalan berkelok, namun terdapat beberapa speedbump yang cukup tinggi. Itu  membuat Edgar tak dapat lagi mempercepat laju mobilnya atau body mobilnya yang sudah diceperkan akan lecet. Kinan tampak tak sabar melihat Edgar menyetir,”Aku akan turun disini saja!” Kinan bersiap untuk membuka pintu. “No, I’ll drive you home. I promise.” Edgar meraih tangan Kinan secepat dia mampu. Dia tak membiarkan gadis itu meraih knob pintu mobil yang berada disisi kirinya. Dan Kinan, dia kembali duduk dengan posisi yang yang tak nyaman. Seperti orang yang sedang ambeien karena sibuk memperhatikan jalanan. Akhirnya tanpa memperdulikan body mobilnya lagi, Edgar menerjang beberapa  speedbump yang membentang ditengah jalan menuju rumah Kinan. ‘God damn it!’ batin Edgar mengumpat setiap kali mobilnya terasa terantuk speedbumb. Ia tak meluapkannya seperti biasa atau Kinan akan menganggap Edgar sedang mengumpat padanya. “STOP! STOP!” Kinan menghentikan laju Edgar ketika sampai didepan sebuah bangunan rumah yang cukup kuno. “Your home?”  Tanya Edgar. Namun Kinan sama sekali tak membalas. Jangankan mengucapkan terima kasih, gadis itu langsung turun dari mobil sebelum Edgar benar-benar mengehentikannya. Dia masuk menuju kedalam rumah melewati pagar dan menutupnya seketika tanpa menengok kearah Edgar lagi. Meninggalkan Edgar yang membisu melihat tingkah Kinan yang seperti tak tahu terima kasih padanya. Ini adalah rumah tempat tinggal keluarga Kinan. Peninggalan dari almarhum kakeknya. Ayahnya sendiri hanya seorang karyawan biasa. Mengandalkan gajinya untuk kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak-anaknya dan membayar semua tagihan saja sudah membuat kepala ayahnya hampir pecah. Beruntung ayahnya seorang anak tunggal sehingga mereka dapat menempati rumah yang diwariskan oleh kakeknya dengan nyaman. Walaupun belum pernah direnovasi sama sekali, rumah bergaya kuno tersebut terlihat masih cukup layak untuk ditinggali. Edgar masih tak berkedip melihat Kinan meninggalkan dirinya begitu saja. “The real bad girl.” Gumamnya sambil terus menggelengkan kepalanya. Dia bergerak keluar dan turun dari kursi pengemudinya. Terlihat Edgar membungkukkan badan disisi kendaraannya, hendak memeriksa seberapa parah kerusakan body mobilnya. Dan umpatan meluncur dengan bebas ketika melihat bahwa body dan bumper bagian bawahnya dalam keadaan yang cukup parah. Tak mengherankan jika separah itu karena dia mengemudi dengan tidak hati-hati. ”s**t! I’m f****d up!”  umpat Edgar sambil menendang ban mobilnya. Mobil kesayangannya bahkan sudah tak layak untuk dia kemudikan sekarang. Dia harus menginapkan mobil tersebut dibengkel langganannya setidaknya selama seminggu untuk membuatnya layak kembali. **** “Ibu… Kinan pulang, Bu…” Kinan berteriak sembari melangkah masuk kedalam rumahnya yang tampak sepi. ‘Dimana semua orang?’ pikir Kinan. Dia mencari kesetiap kamar dan ruangan, namun ia mendapati benar-benar tak ada satupun orang didalam rumahnya. Dia merogoh tasnya, mencari-cari dimana ponselnya. Klik! Secepat mungkin dia menghubungi ibunya. Tut! Tut! Tut! Tak tersambung. Hal ini membuat Kinan semakin frustasi. Dia menjatuhkan diri pada sofa. Berusaha menenangkan dirinya. Tarikan beberapa nafas panjang menjadi senjata untuk melegakan seluruh kegelisahannya. “Apa ini?” gumam Kinan ketika sebuah pesan masuk di ponselnya. “KINAN, AYAH DIRUMAH SAKIT HARAPAN HATI.” dari nomor yang tidak dikenal. Kinan segera bangkit dan melangkah keluar rumah. Harapannya kemudian tertuju pada Edgar yang semoga saja masih ada didepan rumahnya. Dia tak lagi menghiraukan dari mana pesan singkat itu berasal, yang dia tahu itu dari ibunya dan saat ini ayahnya ada dirumah sakit. Dia harus datang kesana untuk melihat kondisi ayahnya. Dalam hati Kinan selalu terbisikan harapan, agar ayahnya baik-baik saja dan dapat pulih seperti sedia kala. Setelah mengunci pintu rumahnya, segera dia berlari keluar. Dilihatnya mobil Edgar masih terparkir didepan dengan Edgar yang sedang sibuk berjongkok dibawah bagian depan mobilnya. “Edgar, bisa kamu antar aku kerumah sakit?” Tanya Kinan dengan cukup lantang, lebih seperti berteriak. Hal itu membuat Edgar telonjak kebelakang,“Oh my god!!” “Ayo…” Kinan berlari mendekat pada Edgar. “Sekarang?” Dia masih menyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis yang tidak tahu terima kasih itu masih berani meminta bantuannya. “Iya, Edgar. Aku mohon….” Kinan kini menangkupkan dua tangan didepan dadanya tanda dia sangat memohon pada Edgar. “Oke, ayo. Aku akan mengantarmu. Tunjukan aku jalannya.” Tanpa memikirkan lagi kondisi mobilnya, Edgar masuk kembali kedalam mobilnya lalu mulai menginjak gas. Tak perduli dengan segala speedbumb yang sudah mengoyak body mobilnya, Edgar tetap melajukan kendaraannya. ***** “Thanks.” Itu yang Kinan katakan saat dia hampir sampai didepan lobby rumah sakit. Tangannya bergerak menepuk lengan Edgar sebagai pertanda dia benar-benar berterima kasih. “Kinan, give me your phone…” Edgar tak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat Kinan tengah berusaha melepaskan seatbeltnya. Dan Kinan langsung memberikan handphone yang berada dalam genggamannya. “What for?” Tanya Kinan sejurus kemudian. “This.”  Edgar menunjukan bahwa dia sedang menelpon nomor yang tak tersimpan diponsel Kinan. “ini…?” “Ini nomor handphoneku, call me if you need my help.” “Oke. Thank you, Edgar…” dan Kinan segera bergegas keluar dari mobil Edgar untuk selanjutnya mencari dimana ibunya. Edgar melihat Kinan perlahan menjauh  dan menghilang ditengah kerumunan orang yang berada dirumah sakt itu,”Kamu unique, Kinan…” Gumamnya. **** “Ibu?” akhirnya Kinan dapat menemukan dimana ibunya. Di depan ruang ICU. “Kinan.” Derai air keluar dari mata wanita yang sudah melahirkan Kinan itu,”Ayah kritis, Kinan…” Degub jantung Kinan meningkat. Pandangannya tertuju pada adiknya yang tengah duduk bersandar pada pintu ICU. Tatapan matanya kosong. Embun yang mulai memenuhi mata Kinan sekarang sudah siap meluncur, “Bagaimana bisa sampai seperti ini, Ibu.. Bukankah ayah sehat-sehat saja tadi sore?” Wanita setengah baya itu tampak menyeka air matanya,”Tadi ayah dapat telpon dari kantor. Katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan ayah bergegas pergi begitu saja, Kinan. Lalu… Ayah tertabrak mobil didepan komplek…” Mamanya tak lagi sanggup untuk berkata-kata. Dia memeluk putrinya dengan erat untuk berbagi beban. Kreeekkkk!! Decit pintu ICU membuyarkan pelukan antara ibu dan anak perempuannya tersebut. Seorang perawat yang tadi membawa masuk suaminya keluar dari dalam ruangan. Dengan tergopoh-gopoh Dian menghampiri perawat itu. Dia segera menyeka air mata yang menempel dipipinya. “Bagaimana keadaan suami saya, Suster?” Kinan dan Bayu, adik laki-lakinya, juga datang menghampiri perawat itu. “Ibu tenang dulu ya, kami sedang berusaha… berdoa ya, Ibu..” dan perawat itu pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan mereka bertugas didepan ruang ICU. Kinan melihat ibunya kembali menangis. Dan Bayu kini mengambil alih memeluk ibunya agar wanita itu dapat sedikit tenang. Tapi pandangan mereka kembali tertuju kearah pintu ICU saat seorang Dokter keluar dari sana. “Dokter, bagaimana keadaan suami saya, Dok?” Ibu Kinan tampak cekatan menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan ICU. “Bapak harus dioperasi secepatnya, Bu.. jika tidak. Nyawa bapak bisa dalam bahaya.” Deg! Jantung Kinan mendadak seperti terhenti. Hal yang dia takutkan akhirnya terjadi. Ayahnya. “Lakukan apapun, Dokter! Saya akan membayar semua biayanya.” Kinan dengan reflek mengatakan jawaban yang membuat adik dan ibunya seketika memandang kearahnya. “Baik, saya tinggal dulu.” Dan laki-laki sebaya ayahnya itu meninggalkan mereka. “Darimana kita akan dapat uang? Apalagi untuk biaya operasi. Pasti sangat mahal, Nak… untuk masuk ICU saja Ibu sudah menghabiskan semua tabungan kita..” desah ibunya. Mereka sudah seperti kehilangan arah saat mengetahui keadaan mereka sesungguhnya memang sedang sangat kekurangan sekarang ini. “Kinan akan mencari cara untuk membayar semuanya, Bu. Kinan janji…” sebagai anak tertua, saat ini lah kemampuannya diuji. Kinan memeluk adik dan ibunya dengan perasaan yang bercampur aduk. ***** Mata Kinan masih sembab saat membuka matanya. Dia terpaksa tidur dibangku didepan ruang ICU rumah sakit untuk menunggui ayahnya. Ibu dan adiknya pulang kerumah untuk mengambil beberapa keperluan selama mereka ada dirumah sakit. Seorang perawat berjalan melewatinya dengan tergesa-gesa menuju pintu ICU. Kinan yakin bahwa hanya ayahnya yang berada didalam ruangan itu. karena, selain keluarganya, tidak ada orang lain yang menunggu disitu. Tak berapa lama, beberapa tenaga medis keluar sambil mendorong brankar. Mata Kinan tak bisa lepas memandangi mereka. Namun ada yang lebih menyita perhatiannya, yaitu lelaki yang tergeletak diatasnya. Lengkap dengan semua alat medis yang melekat pada tubuhnya. Itu adalah ayahnya. “Maaf, keluarga Bapak Hendri?” Tanya seorang perawat padanya. Kinan hanya mengangguk.”Bapak harus segera dioperasi, keadaannya sudah sangat mendesak. Tolong tanda tangan sebagai bentuk persetujuan tindakan medis.” Perawat itu menyodorkan secarik kertas kepada Kinan. Kertas itu berisi tentang informasi terhadap apa yang akan dilakukan oleh tim medis yang menangani ayahnya, resiko dan akibat yang akan terjadi jika operasinya dilakukan. Kinan membacanya dengan seksama. “Tapi Ibu saya sedang pulang kerumah, Sus..” jawab Kinan dengan gemetar. Pikirannya terbagi 2 antara ayahnya dengan surat pesetujuan yangharus segera ditandatangani. “Ada apa, Kinan?” Ibunya datang tepat pada waktunya. “Ibu, ayah harus segera dioperasi. Ibu cepat tanda tangan disini.” Ibunya terbengong sejenak, namun Kinan memaksa tangan ibunya untuk tetap bergerak dan segera menyerahkannya kepada perawat. “Ibu, Kinan janji akan mengusahakan semua biayanya. Kinan janji…” “Iya, Nak..” **** Ibu beserta adiknya duduk tepat didepan ruang operasi dimana ayahnya berada. Sedangkan uang yang dibayarkan oleh ibunya semalam sudah tak cukup lagi mengcover semua kebutuhan biaya rumah sakit. Kinan duduk dibangku yang terletak cukup jauh dari ruang operasi. Dia memainkan ponselnya, berharap Neil akan menelponnya. Namun sia-sia saja, berkali-kali dia mencoba menghubungi Neil namun percuma. Terlintas dipikiran Kinan untuk meminta bantuan pada bule gila itu. “Haruskah aku meminta bantuan pada Edgar?” Kinan masih menimbang-nimbang keputusan yang akan dia ambil. Prakk! Ponsel yang dia mainkan terjatuh dilantai. Dengan malas Kinan menunduk berusaha untuk menggapai ponselnya yang memang sudah berkali-kali jatuh itu. Namun, sebuah tangan yang kekar dan putih terlebih dulu menggenggam ponselnya. Kinan dapat melihat  dengan jelas sepatu hitamnya yang mengkilap berada tepat dihadapannya. Kinan mendongak berusaha melihat siapa gerangan pemilik sepatu ini? “Pak Harry?” Kinan terperanjat. Apa yang sedang dia lakukan disini? Dibelakang Harry ada seorang pria yang tampak seperti sopir atau pengawal pribadinya. “Kamu membutuhkan bantuanku, Kinan? Aku dengar dari orang kantor, ayahmu kecelakaan tadi malam saat sedang menuju kantor dan aku datang ekmari khusus untuk menjenguknya.” Kinan menatap tajam sorot mata licik Harry. ‘Untuk apa bos besar seperti Harry datang menjenguk karyawan tanpa jabatan seperti ayahnya?’ namun Kinan lebih memilih untuk diam membisu tak menanggapi semua perkataan Harry. Harry mengibaskan tangannya pada Andy, tanda agar Andy menjauh. Kemudian dia mengambil tempat duduk tepat disebelah Kinan. “Turuti kemauanku, lalu aku akan memberikanmu semua yang kamu perlukan.” Harry membisikan kata-kata yang membuat amarah Kinan seketika membludak. Kinan mengangkat tangan, siap untuk menampar atasan ayahnya itu. namun dengan sigap, Andy mencengkram tangan Kinan. Dan sejak saat itu, ketika Kinan menyerah pada takdirnya. Dia harus sadar, bahwa hidupnya bukan lagi miliknya. Semua yang Kinan pilih, sudah dia putuskan. Dan sekarang dari segala keputusannya itu, dia harus siap menerima segala konsekuensinya. Baik buruknya.. Pahit manisnya..  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN