· WARNING 21+, hot scenes are very detailed!· Tolong yang dibawah 18tahun langsung diskip yah!
Harry memperhatikan Kinan dengan pandangan penuh nafsu. Otak liarnya bekerja extra saat gadis itu berjalan menjauhinya. Bayangan bulat yang tercetak jelas di dadanya membuat nya kelabakan menahan gelora kelelakiannya.
Sudah terlalu lama dia menunggu Kinan berada didalam kamar ini. Walaupun diawali dengan penolakan oleh Kinan yang membuatnya begitu gusar, nyatanya dia tetap saja bisa menemukan cara untuk mendapatkan setiap keinginannya. Dan pada akhirnya dia bisa memiliki gadis itu sepenuhnya malam ini. Ya, malam ini. Harry beranjak bangkit dari tempat duduknya.
Sembari berjalan kesisi lain ranjang, pandangannya tak pernah lepas dari Kinan yang kini berdiri membelakanginya. Tampak siluet tubuh Kinan berlekuk memamerkan kemolekannya. Tubuhnya condong kekanan sedangkan tangannya menggenggam hairdryer guna mengeringkan rambutnya yang masih basah. Mengekspose bahu dan leher jenjang Kinan yang mulus. Berkali-kali Harry harus menelan ludah saat membayangkan bagaimana rasanya perawan dihadapannya itu bergerak merobek kegadisannya sendiri diatas tubuhnya.
“Kamu begitu menggodaku, Kinan!” tangan Harry menangkap pinggang langsing Kinan dari belakang, kemudian bergerak naik mengelus bulatan padat didada Kinan. Hairdryer di tangan Kinan hampir saja jatuh akibat terlalu terkejut dengan kelakuan Harry yang membuatnya merinding.
“Rambutku masih basah.. tunggu lah sebentar lagi.. Oh iya, apa kau sudah menghubungi ibuku?” bujuknya pada Harry yang sudah mendaratkan kecupan demi kecupan pada bahu dan leher Kinan. Sementara, Kinan sudah mulai melenguh karena ulah Harry.
“Itu sudah Andy selesaikan. Dan ingat, aku sudah menunggumu terlalu lama.” Tangannya meraih hairdryer yang berada di tangan Kinan. Sambil berusaha mematikan benda bising yang membuat telinganya pekak itu, bibirnya sibuk memaguti leher Kinan yang sama sekali tidak terhalang oleh apapun.
”Aku suka aroma kulitmu.” Bisik Harry disela-sela pagutannya. Kissmark berjejer dileher Kinan, sebagai stempel kepemilikan Harry.
“Ssshh…” desisan keluar dari bibir seksi Kinan. Harry tersenyum. Hatinya merasa senang walau hanya dengan mendengar suara desahan gadis yang kemarin menolaknya mentah-mentah itu.
Tangan Harry membalikan tubuh Kinan menghadap kepada dirinya. Dia hanya perlu sedikit berusaha untuk memperoleh apa yang dia idam-idamkan dari Kinan. Matanya menatap sayu dan dalam pada manik mata Kinan yang berwarna coklat terang. Bulu mata lentiknya bergerak naik turun mengikuti kelopak matanya yang mengedip perlahan.
“Kamu sangat menarik…” Harry mendekatkan wajahnya mengarah pada bibir Kinan yang sedikit terbuka seolah menahan rasa mendamba terhadap Harry.
Harry mulai mencecap bibir yang tersaji dihadapannya. Tangannya melingkari pinggang Kinan kembali, membawanya lebih dekat merapat pada tubuhnya. Kinan pun membalas dengan melesakan lidahnya masuk kedalam mulut Harry. Mencari-cari dan meliuk-liuk menyentuh lidah Harry. Setiap gerakan bibir dan lidah Kinan sangat menggoda, membuat jiwa Harry bergejolak untuk membalas pagutan Kinan dengan lebih liar. Nafas keduanya memburu seiring dengan semakin memanasnya sesi ciuman mereka.
Kinan mengalungkan kedua lengannya pada leher Harry. Mengelus tengkuk Harry dengan lembut dan sesekali meremas rambutnya. Harry melepaskan ciumannya, pandangannya tertuju pada d**a Kinan yang terlihat semakin menggugah seleranya dalam posisi seperti ini. Harry mengecup hidung mancung dan lancip milik Kinan dengan gemas.
“Apa kamu sering berciuman dengan kekasihmu?” Harry benar-benar tak menyangka gadisnya begitu lihai berpagutan.
“Apa itu penting sekarang?” Kinan mengalihkan posisi tangan kanannya menurun menelusuri setiap inchi d**a Harry. Pria yang sudah membeli dirinya, pria kesepian yang ingin menjadikannya nyonya keduanya. Demi uang yang akan membuat keluarganya hidup layak, menjadi wanita pemuas nafsu Harry pun akan dengan senang hati Kinan lakukan. Lagipula apa susahnya untuk melayani nafsu pria tampan seperti Harry.
Harry tersenyum miring,”Kamu menggairahkan, Sayang.. Aku suka itu!” Harry kembali mencium Kinan. Kali ini kulumannya semakin memanas. Membuat Kinan merasa sedikit nyeri karena Harry menyesap bibir bawahnya terlalu kencang.
Harry mengangkat tubuh Kinan dan menopangnya dengan kedua tangannya. Kaki Kinan dengan cekatan bergerak melingkari pinggang Harry dan menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Ciuman itu semakin panas, mencecap, mengulum saling sedot bertukar cairan. Tubuh Harry mulai menuntut, mendamba lebih dari sekedar berpagutan.
“Buka bajumu…”Harry menurunkan Kinan dari topangannya lalu memerintahkan Kinan untuk membuka semua bajunya. Disaat yang bersamaan Harry juga sudah membuka pakaiannya dengan cepat.
‘Apa seperti ini cara Harry memperlakukan seorang wanita. Bukankah seharusnya dia yang berinisiatif membuka pakaianku! Kenapa jadi aku yang harus membuka bajuku sendiri? Huh!’ entah mengapa batin Kinan menggerutu. Ini bukan seperti yang ada didalam cerita-cerita yang pernah dia baca. Disana diceritakan, laki-laki yang lebih agresif terhadap wanitanya. Tapi ternyata tidak dengan Harry.
Harry tidak menangkap kekesalan yang tergurat diwajah Kinan. Pandangannya sudah mengabur seiring dengan meningkatnya hasrat dalam dirinya saat melihat Kinan melucuti pakaian nya sendiri. Dia sudah memposisikan dirinya duduk dengan nyaman dipinggir ranjang. Kakinya menapak dilantai, menikmati pemandangan erotis didepan matanya. Menunggu Kinan datang padanya dengan tubuh polos tak tertutupi oleh apapun.
Kinan melangkahkan kaki mendekati pria yang sedang mengamatinya dengan seksama sejak tadi. Pria itu duduk ditepi ranjang, kedua kakinya terjuntai menapak lantai. Posisinya membuka membuat yang berada diantara kedua paha itu terlihat menegang dengan jelas. Sedikit risih jika mata Harry menatapnya seolah-olah dia adalah seekor singa yang siap menerkam kelinci kecil.
“Aku harus mematikan lampunya…” lalu Kinan berbalik badan.
“No!” Dengan cekatan tangan Harry meraih tangan Kinan hingga gadis itu terpelanting kedalam dekapan Harry.
“Aku tak akan bisa menatap mata indah juga tubuh seksimu jika kamu membuat kamar ini gelap.” Tubuh mereka menempel membuahkan debar-debar dalam d**a Kinan. Harry mengangkat tubuh Kinan kedalam pelukannya. Pagutan Harry dengan liar mendarat pada leher Kinan yang berada diatasnya, membuat bekas merah keunguan bagian leher gadis semakin merata.
“Hmmmph…” sekali lagi Kinan melenguh dengan perlakuan Harry padanya. Inti tubuh Harry sudah menegang sedari tadi dan sekarang semakin menegang manakala pangkal paha Kinan terasa menggesek pahanya. Hangat dan lembab.
Harry benar-benar tak ingin tergesa-gesa masuk pada inti permainan, tapi gadis dihadapannya ini sepertinya juga sudah siap untuk melakukannya. Pelan-pelan Harry mengelus punggung Kinan naik dan turun hingga bongkahan kencang dan menggemaskan dibelakang tubuh Kinan berada ditelapak tangannya. Dia meremasnya dengan gemas sekaligus lembut. Membuat Kinan bergerak sangat lambat maju mundur dipaha Harry karena sensasi dibagian belakangnya. Harry menggersah gemas karena gerakan Kinan itu mulai membuat ujung miliknya tergesek.
“Kamu basah, Sayang..” Suara parau Harry berbisik ditelinga Kinan. Tangannya mengangkat tubuh gadis molek itu. Harry sudah tidak sabar lagi, dia memposisikan Kinan tepat diatas miliknya. Menempatkan kaki Kinan diatas kasur agar Kinan dapat menopang tubuhnya diatas Harry.
Deg!
Jantung Kinan serasa melompat ketika merasakan sesuatu yang keras mengarah tepat diantara pangkal pahanya. Harry menempelkan inti tubuhnya pada pusat tubuh Kinan. Membuat jantung Kinan berdebar semakin keras. Kinan bersiap dengan rasa yang sering dideskripsikan seperti sayatan silet pada area intimnya. Keringat membasahi dahinya ketika Harry menggesekan inti tubuhnya pada permukaan pusat tubuh Kinan.
“Kinan, aku benar-benar sudah tidak sabar sekarang.” Dan….
“Aaakkkkhhhh!” Dengan sekali hentakan kuat, Harry menekan tubuh Kinan turun, membenamkan inti tubuhnya kepada Kinan. Kepala Kinan mendongak keatas dengan jeritan yang tidak dia tahan lagi saat merasakan sesuatu melesak masuk mengonyak tubuhnya. Tangannya mencengkram bahu Harry yang berada dihadapannya dengan kuat. Namun Harry membiarkannya seperti itu. Dia menikmati setiap ekspresi Kinan saat ini. Nafas Kinan memburu, dia berusaha mengatur irama nafasnya, tapi ini benar-benar sakit. Seperti dirobek.
Beberapa saat Harry mediamkan miliknya didalam tubuh Kinan. Dia harus membiarkan Kinan beradaptasi dengan tubuhnya, begitu juga dirinya yang merasakan miliknya ngilu terjepit dengan sangat kencang didalam tubuh Kinan. Tapi Harry merasakan milik Kinan mengedut. Membuat Harry menggeram karena nikmat sekaligus perih. Fantasinya terbayarkan, dia sudah merasakannya sekarang. Bagaimana rasanya jika gadis ini berada diatas tubuhnya saat pertama kali bercinta. Tapi kedutan Kinan itu justru seperti mengurut-urut miliknya yang sudah masuk seluruhnya didalam sana.
“Bergeraklah, Sayang. Itu akan nikmat.” Kinan menuruti perintah Harry, rintihannya tertahan ketika dia menggerakan tubuhnya maju mundur. Membuat rasa perih akibat benda keras yang menerobos tubuhnya itu semakin menjadi-jadi.
“Ngghhhh…” mata Harry terpejam rapat, meresapi setiap gerakan yang membuat milik Kinan terasa seperti menyedot dan mengurutnya secara bersamaan,”faster, Baby…” pintanya pada Kinan. Gadis itu sekali lagi menuruti perintah Harry. Membuat nya merasa lebih sakit lagi. Rintihannya pecah.
Tempo gerakannya melambat. Membuat Harry gemas, terpaksa dia menggerakan tubuhnya dari bawah. Ini pertama kalinya bagi Kinan, tentu ini begitu menyakitkan baginya. Airmata dan suara erangan Kinan berpadu riuh dengan desahan dan lenguhan yang keluar dari bibir Harry.
Harry meletakan tangannya dipinggang Kinan, dia semakin kuat dan liar menyetir tubuh Kinan agar bergerak maju mundur diatas pangkuannya. Tak berlangsung lama, Harry merasakan desakan yang memaksa keluar dari dalam tubuhnya. Mulutnya dengan rakus dan kuat memagut d**a Kinan sebagai bentuk pelampiasan atas pelepasan yang sudah lama tidak Harry dapatkan.
“Kinan…. Ngghhh… s**t! Harder, Babe!” Harry meracau saat mencapai puncaknya. Pandangannya menggelap, tubuhnya menegang merasakan ledakan yang sangat nikmat. Ia memeluk tubuh Kinan.
“Aaahhhhh…” matanya memejam, sekali lagi jeritan Kinan tak tertahankan merasakan perih dan panas yang diakibatkan pelepasan Harry. Gerakan Kinan melambat mendekati berhenti saat Harry melepaskan pelukan dari tubuhnya. Matanya membuka, menatap wajah Harry dengan jambang tipis yang membuat wajah Harry tampak semakin seksi. Dia tersenyum pada Kinan dengan mata sayu akibat kepuasan yang Kinan berikan padanya.
“Thank you, Kinan…” tangan Harry menangkup wajah Kinan yang memerah akibat menahan perih dan sakit dipangkal pahanya. Bibirnya mengecup bibir Kinan dengan lembut.
Harry mulai merasakan pahanya basah oleh cairan yang meluruh menuruni miliknya, keluar dari tubuh Kinan. Harry meliriknya sekilas. Cairan putih bercampur kemerahan yang mungkin saja adalah maninya yang bercampur dengan darah perawan Kinan.
“Sakit?” Tanya Harry pada Kinan yang masih berada dipangkuannya. Gadis itu menggangguk. Matanya sembab akibat tangisannya selama bercinta dengan Harry,”I am sorry… aku janji selanjutnya tidak akan sesakit ini lagi. Oke?” Kinan kembali mengangguk. Harry mengecup bibirnya dengan disertai pelukan.
Sesaat, Inti tubuhnya kembali menegang karena Kinan bergerak maju mengikuti gerak pelukannya. Harry tahu, sekarang adalah saatnya dia yang membuat Kinan mendesah nikmat. Tangannya bergerak menurunkan Kinan dari pangkuannya, melepas penyatuan mereka untuk sementara kemudian merebahkan gadis itu diatas ranjangnya.
“Aku akan menghilangkan sakitmu sekarang…” Harry menaiki tubuh Kinan. Mengungkungnya dibawah kendalinya. Membuat Kinan seketika menatapnya dengan pandangan ngeri, samar kepalanya menggeleng lemah menandakan Kinan tidak menginginkannya lagi. Namun Harry tetap dengan kuat namun perlahan membuka kedua kaki Kinan yang sedikit tertutup,“Aku akan membuatnya nyaman, Kinan. Trust me…”
Perlahan Kinan mematuhi Harry untuk membuka dirinya yang masih terasa perih. Mengijinkan Harry memasuki tubuhnya untuk yang kedua kalinya. Kini, Harry secara lembut dan perlahan menyatukan tubuhnya dengan Kinan, dan masih sangat susah. Ngilu karena Kinan masih sangat sempit menjepit intinya.
Kinan berulang kali meringis menahan pompaan Harry walaupun pria itu sudah melakukannya dengan lembut. Harry menunduk, menjilat dan mengulum d**a Kinan yang berwarna coklat terang. Perlakuannya membuat Kinan melenguh. Desahannya kian memanas saat Harry menaikan tempo dorongannya. Perut Kinan serasa teraduk-aduk karena benda keras itu seperti memenuhi pusat tubuhnya.
Milik Kinan menghangat, Harry dapat merasakan Kinan akan mencapai puncaknya. Dengan cekatan Harry menaikan ritme hentakannya, untuk mencari pelepasannya bersamaan dengan Kinan. Tangan gadis itu meraba seluruh d**a Harry. Kepalanya bergerak tak berarturan seiring semakin dekat klimaksnya…
“Ahhh… f**k me… plese. Faster!!! Ngghhhh…” teriak Kinan, hingga tangannya mencakar punggung Harry. Memaksa Harry semakin cepat memompa tubuhnya pada Kinan. Tubuhnya bergetar, mengejang, mata Kinan terpejam erat merasakan ledakan hebat didalam miliknya.
“Hhmm...” Harry menggeram merasakan miliknya menghangat karena cairan klimaks Kinan. Tangannya mecengkram sprei dengan kuat. Peluhnya menetes, tubuhnya bergetar hebat ketika sesaat kemudian Harry juga meraih klimaks keduanya. Memuntahkan inti sarinya didalam tubuh Kinan.
Desahan nafas memenuhi ruang. Pelepasan yang membuat tubuh bergetar hebat itu, membuat Kinan dan Harry tersenyum puas.
“Kamu milikku, Kinan… Tubuhmu, hidupmu, ini (tangan Harry menyentuh d**a Kinan), ini (kini tangannya beralih pada bibir Kinan), ini (sekarang mata Kinan), yang didalam sini(kali ini Harry memaksudkan hati Kinan) dan yang tidak boleh tersentuh orang lain lagi adalah yang aku masuki sekarang. Kamu tidak boleh membagi kenikmatannya dengan orang lain…” Kinan tersenyum mendengar Harry berkata begitu kepadanya. Hatinya tak dapat berjanji. Karena laki-laki dihadapannya ini hanya menjadikannya istri siri.